Home Serba-serbi Hari Ibu dalam sebuah permenungan

Hari Ibu dalam sebuah permenungan

188
0

Oleh Qadar Dja’far

Setiap tanggal 21 april kita peringati hari ibu sebagai hari bersejarah secara Nasional. Dalam momentum perayaan ini semua kita harus menyadari bahwa “sosok seoran Raden Ajeng Kartini” patut disyukuri dan diteladani. Bagaimana emansipasi yana Ia galang di zaman itu, zaman radikalisme, zaman ekstrimisme dan penindasan kolonialisme.

Perjuangan akan hak seorang perempuan beliau warisi pada generasi penerus. Hal ini dilanjutkan dengan penyetaraan Gender. Pengutamaan Gender kini jadi fokus utama dalam perencanaan dan pelaksanaan Pembangunan Nasional.

Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan juga memahami dan menyadari bahwa ada Kewajiban kaum perempuan yang harus pula dipatuhi. Salah satunya mungkin, perempuan tetap sebagai seorang perempuan, perempuan mungkin harus menjadi seorang Ibu yang baik menurut kodratnya, perempuan harus menjadi Isteri yang patuh lagi taat kepada suaminya.

Semua kita patut membuat permenungan, karena hari ini akibat pengaruh teknologi, informasi dan komunikasi banyak dampak negatif yang dialami oleh kaum perempuan. Semua kita pasti mengharapkan sebagai perempuan hendaknya mampu menjadi seorang ibu yang baik. Anehnya hari ini banyak kejadian yang dilakukan kaum perempuan, sebagaiman tersebar dan tersiar dalam mas media cetak dan elektronik; aborsi dimana-mana, banyak perempuan muda yang melahirkan dan membuang bayi di tempat pembuangan sampah.

Satu contoh kasus di kelurahan Waiwerang Kota – Adonara Timur, ada seorang perempuan muda yang membuang bayi tak berdosa di tepi pantai setelah (diduga) dicekik setelah melahirkan. Dengan demikian semua kita perlu melakukan sosialisai akan hak dan kewajiban kaum perempuan mengenai betapa penting dan betapa istimewanya kaun perempuan sebagai ciptaan Tuhan ketika nabi Adam as belum memiliki kesempurnaan hidup. Bagaimana seorang siti Maryam melahirkan seorang Isa Almasehi melalui kehendak Tuhan.

Ungkapan ini bukan merupakan pelecehan terhada kaum perempuan tetapi bagaimana upaya kita untuk menempatkan dan mendudukan posisi kaum perempuan sebagai makhluk Tuhan yang paling istimewa dan sempurna. Proklamator bangsa ini telah berucap: wanita itu soko guru negara, jika wanita ini baik maka baiklah negara ini, tapi apabila wanita ini rusak maka rusaklah negara ini. Dengan demikian kaum lelaki diharapkan lebih mampu menghormati kaum perempuan, karena kita dilahirkan oleh seorg Ibu dari kaum perempuan. Tinggalkan dan akhiri tindak semena-mena kaum lelaki terhadap kaum perempuan yang tergolong dalam KDRT.

Kepada kaum laki laki agar berupaya untuk tidak punya Wanita Idaman Lain, jika telah memiliki seorang isteri, sehingga perempuan yg namanya isteri tidak merasa disakiti.

Leta dike, apon sare.