Home Artikel Demokrasi dan Intervensi Subyektif

Demokrasi dan Intervensi Subyektif

265
0

Oleh Boro Beda Darius
Ketika di kampung kemarin, bersama teman, kami seolah berteriak dalam kesendirian. Kesepian. Sepi dalam keramaian.
Aktivitas seperti kerja mengorganisir dan diskusi, selalu dilihat dengan kacamata politik. Dengan demikian, sepertinya, ada yang salah dengan pemahaman kita soal kata politik. “ra urus politik. Mio moi aku”?Celetukan seperti ini memberi gambaran bahwa, aktivitas politik atau yang berbicara politik, itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu saja. Dalam arti, demokrasi (politik) partisipatif yang juga teraplikasi dalam program-program pemberdayaan baik dari pemerintah maupun LSM tidak berhasil.

Masyarakat masih terpola dengan pandangan lama. Contoh seperti ini. Ketika itu kami melakukan sosialisasi ide ADONARA FUND ke Kelompok Tani Lewowerang. Seorang ibu mengatakan seperti ini, “ama, yang mio maring neti kame mede dore. Kme ni sekolhang hala” Pendapat ini kemudian di iamini oleh ibu-ibu yang lain dengan jawaban “ehe ama. Kame ni mede moi.”

Mendengar itu, saya kemudian bergumam dalam hati “ore mio, niti heku yang nalang ali.” Terbesit dalam hati “ini pasti ulah politisi cacingan dan para praktisi demokrasi partisipatif yang tidak telaten (kerja keras dengan penuh kesabaran) dalam mendorong kesadaran politik masyarakat.

Dan, seperti biasa, saya tidak perna menyalahkan masyarakat. Tidak perna menyalakan kondisi objektif. Selalu menyalahkan subjektif. Itu artinya, pemimpin kita yang salah. Intervensi subjektif yang salah.

Ketika itu, terbesit pandangan bahwa, kesadaran politik rakyat tidak akan terbentuk selama kita mendekati mereka dengan janji dan politik transaksional. Atau, selama kita melakukan sesuatu dari atas. Bukan sebaliknya.

Nah..sampai di rumah, tanpa sadar, dan mungkin karena merasa gagal, keluarlah kalimat seperti “ternyata saya berteriak di ruang kosong. Saya kesepian. Tidak ada teman. Apakah saya gila? Ya..saya gila. Tidak seperti kebanyakan orang”

Ini pelajaran buat kita. Titip salam hangat bagi politisi yang saat ini lagi publikasi diri menyongsong pilgub dan pileg.