Home Artikel Surat untuk Bupati Flotim

Surat untuk Bupati Flotim

219
0

“APA kabar Pak Bupati? Apakah benar ada perang tanding di Flores Timur (Flotim), tepatnya di Adonara antara warga Lewobunga dan Lewonara di Adonara Timur? Apakah benar perang tanding itu tidak mungkin terjadi jika bupati tidak nekat meresmikan permukiman di wilayah konflik? Apakah benar ada yang tewas ada pula yang luka berat?

Benarkah Dusun Bele menjadi lautan api? Berapa yang ketakutan, cemas, bingung, dan frustrasi karena konflik ini? Bagaimana dengan ibu-ibu dan anak-anak? Bagaimana dengan ibu hamil, ibu yang baru melahirkan, bayi baru lahir, para orang tua-tua, jompo, dan saudara yang sakit? Bagaimana dengan anak-anak sekolah? Pak bupati, apa kabar?” Demikian tulis Nona Mia buat Bupati Flotim.
***

“Tulis surat buat Bupati Flotim ya?” tanya Rara. “Buang-buang waktu. Untuk apa repot-repot?”

“Karena aku tidak percaya dengan apa yang terjadi di Adonara. Menurutku, Bupati Flotim pasti punya waktu baca surat ini. Bupati punya kepekaan yang sudah terlatih sejak dulu. Bukankah beliau mantan wartawan? Jurnalis dan kolumnis yang cukup dikenal media massa di NTT?” jawab Nona Mia. “Memangnya ada hubungannya dengan jabatannya sebagai Bupati Flotim?” sambung Jaki.

“Pasti! Manusia tidak jatuh dari langit. Seseorang lahir dari masa lalunya. Bukankah masa lalu adalah bagian dari hidup? Sebagai mantan wartawan, tentu beliau tahu dan sangat paham soal transparansi, check dan recheck, akuntabilitas, dan lain-lainnya. Mempengaruhi kebijakannya sebagai orang nomor satu.”

“Ooh begitu menurutmu?” sambung Rara. “Bagaimana dengan satu proposal satu juta? Sudah selesai urusannya? Kebijakan itu datang dari mana? Apakah akan diselesaikan dengan baik?”

“Bupati Flotim tentu tidak mungkin menjatuhkan dirinya sendiri,” sambung Nona Mia lagi. “Pasti diatasi dan diselesaikan dengan baik,” tegas Nona Mia. “Sekarang pergilah! Aku akan melanjutkan suratku.”

***
“Apa kabar Pak Bupati? Apakah benar sepanjang sejarah gonta ganti bupati di Flotim, baru sekali ini terjadi perang antarwarga sesama saudara? Benarkah? Apa yang sudah terjadi dengan Flores Timur? Angin apakah yang dihembuskan dari Kota Larantuka? Bagaimana mungkin dari kota rosario yang tak pernah berhenti butir demi butir dilantunkan itu, berhembus angin api yang membakar Adonara Timur. Ada apa dengan Larantuka? Bukankah sekolah libur ketika Samana Santa? Mengapa pula sekolah libur gara-gara darah dan air mata?

Jangan biarkan cahaya kota seribu lilin pada malam paskah itu berduka karena kegelapan perang di Adonara. Bupati Flotim, tahukah engkau bahwa tanggung jawabmu sebagai bupati tidak sederhana,” tulis Nona Mia lagi.

“Engkau bukan tipe bupati yang punya ciri lempar batu sembunyi tangan. Engkau bukan tipe bupati yang sok tahu semua. Engkau bukan tipe bupati tukang marah seenaknya. Engkau bukan tipe bupati yang ketakutan kehilangan kekuasaan. Engkau bukan tipe bupati yang buat segala cara untuk duduk terus di kursi tertinggi. Engkau adalah bupati yang tahu persis bahwa segala sesuatu ada waktunya, bahwa waktu berlalu dan segalanya tinggal masa lalu. Engkau adalah bupati yang rendah hati bukan? Yang mengerti siapa menabur angin akan menuai badai. Karena itulah aku berani menitip pesan, tolong jangan biarkan perang tanding terjadi lagi, tolong selamatkan para ibu, bayi, anak-anak, orang tua jompo, anak-anak sekolah, tolong hembuskan angin surga dari Kota Larantuka ke segenap wilayah Flotim.”

***
“Hai, Nona Mia, kata Jaki dan Rara kamu tulis surat buat Bupati Flotim ya?” tanya Benza dengan penuh semangat.

“Ya. Kenapa?”

“Baru saja rayakan hari Angkatan Bersenjata 5 Oktober kemarin. Miris rasanya seputar hari bersejarah ini ada sesama warga bersaudara yang angkat senjata, perang tanding. Kasihan ya. Apa yang terjadi dengan Flotim ya? Apa yang kamu tulis untuk beliau?” Nona Mia langsung menunjukkan suratnya yang belum selesai ditulis kepada Benza.

“Bagus sekali. Mudah-mudahan dibaca ya. Aku khawatir. Apakah Bupati Flotim punya tipe telinga mati alias tidak mau mendengar suara orang lain? Apakah beliau juga punya tipe telinga tipis? Dengar gosip sedikit, sudah langsung telinga merah dan tendang orang turut suka?” tanya Benza. “Penilaianmu benar-benar salah,” kata Nona Mia. “Oooh begitu ya? Suratmu ini dibalas tidak ya?”
***
“Pasti dibalas!”

“Aku juga kirim surat buat Buati Flotim,” kata Benza.

“Apa isinya?” “Singkat saja. Bupati Flotim, bila langkahmu terasa berat, hadapilah dengan senyum.” (Maria Matildis Banda)

Sumber: Pos Kupang edisi Minggu, 7 Oktober 2012