Home Berita Mesin Pompa Air Rusak, Tanaman Jagung Komposan Terancam Mati Kekeringan

Mesin Pompa Air Rusak, Tanaman Jagung Komposan Terancam Mati Kekeringan

372
0

LEWOLEBA, FBC– Ester Kewa, istri Ignasisus Keluli, salah satu anggota kelompok Tulu Tali, hari itu, Selasa (31/7), baru tiba dari pondok penjagaan di lokasi tanaman jagung Tana Mea, desa Laranwutun Kecamatan Ileape Kabupaten Lembata. ??Dengan gembira ?Ester menyampaikan informasi, kalau ada petugas yang datang dan menjanjikan akan segera mengatasi kesulitan kelompok-kelompok tani dalam soal mengatasi kesulitan air pada tanaman jagung komposan.

?Petugas yang datang kesini, menjanjikan akan mengganti segera mesin pompa yang rusak dengan mesin pompa yang dipinjam dari Waikomo?, kata ina Ester, sapaan Ester Kewa.

Berita yang dibawa Ester sedikit banyak memberikan rasa gembira pada suaminya yang ?sangat cemas saat FBC menemui ?sedang meladang di lokasi. ??Selama dua minggu lebih, memasuki minggu ketiga ini, mesin pompa air rusak, sehingga tidak dapat beroperasi untuk mengairi lahan jagung ini. Tanaman jagung semua, hampir mati kekeringan?, ungkap Ignasisus Keluli kepada FBC sebelum kedatangan Ester.

Ladang jagung komposan di lokasi Tana Mea milik beberapa kelompok tani diantaranya, Kelompok Tulu Tali, Kelompok Titehena, Kelompok Panapai, Kelompok Gawegere dan Kelompok Bina Karya. Benih jagung komposan yang ditanam ?di?atas lahan seluas 2 hektar?ini merupakan bantuan Dinas Pertanian Kabupaten Lembata Tahun Anggaran 2011. Tanaman ini diairi dengan air tanah yang bersumber dari Sumur Bor. Mesin penyedot air sumur merupakan Proyek Pemanfaatan Air Tanah (P2DT) Lembata dalam pengawasan Dinas Kimpraswil Kabupaten Lembata.

Menjawabi pertanyaan FBC, perihal solusi apa yang sudah dilakukan untuk mengantisipasi kekeringan dan matinya tanaman jagung komposan ini, suami Ester Kewa bingung dan hanya berpasrah, kiranya Dinas Pertaniaan yang mendampingi kelompok tani ini dapat membantu mengatasi kesulitan ini.

?Kami kuatir kalau jagung yang sudah mulai tinggi itu terpaksa korban, mati kekeringan. Kami sudah berkorban banyak, kami lima kelompok hanya tunggu petugas yang menangani ini. Setahu kami dari Dinas Pertaniaan Kabupaten Lembata yang bisa membantu?, ungkap Mikael Geroda, ketua kelompok Tulu Tali, ketika FBC menemuinya di depan kantor desa Laranwutun, Kamis (2/8).

Pantauan FBC di lokasi, nampak mesin penyedot masih terpasang, sejumlah pipa penyedot tersusun di depan rumah mesin dan sedang ada tukang yang mengerjakan pagar keliling rumah mesin. Areal lahan pengairan sudah mengering, sementara? jagung-jagung yang sudah tumbuh setinggi betis orang dewasa, mulai layu dan sebagian daun tergulung disengat teriknya matahari. Anggota kelompok pu sulit menyembunyikan kecemasan, bila ?mengingat besarnya pengorbanan kelompok.

Kepada FBC, Rabu, (1/8), bapak Felix Bediona, Kepala Dinas Pertanian , menjelaskan kalau urusan mesin pemompa air untuk mengairi areal pertaniaan Tana Mea adalah proyek pusat, dalam penaganan Propnsi NTT dan tanggung jawab P2DT?dalam koordinasi dengan Dinas Kimpraswil. ??Sumur-sumur bor, merupakan proyek pusat yang ditangani petugas P2DT?dalam pengawasan dan koordinasi Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lembata. Bisa cari dan hubungi petugas P2DT?atau dengan Dinas Pekerjaan Umum?, ungkap bapak Felix sapaan sehari-hari Felix Bediona.

Rumah Mesin Penyedot Air Tanah-Tana-Mea

Perihal hubungan kerja dengan kelompok tani, Feliks mengakui kalau kelompok-kelompok ?tani ini, merupakan dampingan Dinas Pertanian Kabupaten Lembata. ?Kalau persoalan teknis pertaniaan tentu kami damping. Bahwa tanaman jagung yang mulai layu dan kekeringan sesungguhnya bisa diatasi sementara dengan sistem penyiraman air tengki. Akan kita lihat di lapangan?, katanya, menjanjikan.

Menurut pengakuan bapak Aloysius Olak Saban kalau Rabu (1/8), Kepala Dinas Pertaniaan Kabupaten Lembata, sudah turun langsung ke lokasi. ? Beliau menyarankan kepada kelompok untuk membuat pengadaan terpal sebagai sarana penampungan air tengki. Air yang ditampung di terpal dapat digunakan untuk menyiram jagung, mengatasi sementara kesulitan ini,? ungkap ama Alo mengutip inti saran dari bapak Kepala Dinas Pertaniaan Kabupaten Lembata, ketika FBC menemuinya di Kantor Desa Laranwutun, (Kamis 2/8).

Sementara ?Kepala Dinas Kimpraswil Kabupaten Lembata dan petugas P2DT?belum berhasil ditemui FBC, karena tidak selalu berada di tempat. (Lukas Narek)

Sumber: Flores Bangkit