Home Artikel Perjalanan Wisata ke Kedang, Sungguh Menyenangkan

Perjalanan Wisata ke Kedang, Sungguh Menyenangkan

503
0

LEWOLEBA, FBC– Ayam berkokok tiga kali, kala subu yang dingin merayap tubuh, tanda hari baru perlahan menghalau pekatnya malam. Burung-burung pagi berkicau ramai, tak peduli mangsa yang siap menerkam. Embun-embun pagi telah menetes dan membasai tanah seolah semalam baru turun hujan. Lewoleba, Kabupaten Lembata, Senin, (23/7) pagi, dingin dan pekatnya subu serta sepinya jalan, tak pernah menyurutkan niat, ingin menuju Kedang ujung timur pulau Lembata.

Kaki kuayun keluar kamar, terus keluar rumah setelah wajah kuusap; ?baju, jeket kukenakan, segelas teh panas kuteguk dan pintu-pintu rumah pun kubuka. Mataku menatap langit, ingin mohon restu, kalau aku ingin melakukan perjalanan jauh menuju Kedang, tanah leluhur dari nenek perempuan? istriku.

Sepeda motor grempang merk Honda GL MAX, kuhidupkan, sejenak memanaskan mesin. Lima menit berlalu, menandai diriku untuk mengikutsertakan Tuhan dalam seluruh perjalananku hari ini. Tanpa peduli, apakah orang masih terlelap tidur ?aku tetap ?melajukan sepeda motorku? menuju bagian timur Lembata.

Lepas kota Lewoleba, Jalan mulus walau sepotong-sepotong kulewati. Kadang lubang dan bebatuan yang tercecer, menjadi kekuatiran sendiri dalam perjalanan ini. Hari pun perlahan terang menyisahkan Teluk Onga bagai sebuah danau nan tenang. Bergerak masuk kampung Merdeka dan Hadakewa, kota bersejarah, peninggalan Hamente Kerajaan Larantuka, yang sekarang ibukota Kecamatan Lebatukan.?Hadakewa, juga menjadi tempat lahirnya Statement Tujuh Maret 1954, masa perjuangan awal otonomi Lembata.

Perjalanan ke bagian Timur Lembata sungguh mengasyikkan. Jalan yang melingkari pesisir pantai utara menuju timur sungguh mempesona. Sambil berjalan santai menghindari lobang jalan yang satu dengan lobang yang lainnya, kerikil yang bertebaran di jalanan, matapun tak lepas dari mengagumi indahnya pantai sepanjang perjalanan ke Kedang.

Indahnya pemandangan pantai, sejalan dengan dandanan alam pegunungan dan bukit menjulang, menambah indahnya pesona bumi Lembata. Hari pun sudah beranjak siang, ?penghuni desa Waienga dan Tapo Baran bagian timur desa Lerahinga sudah mulai bangun dari tidur untuk melakukan aktifitas rutinnya. Bapak-bapak berkemas ke luar rumah, berjalan dan terus sibuk memberi makan ternak dan mengiris tuak bagian pekerjaan warisan leluhur.

Ketika berada di desa Tapobaran, nampak menjulur ke laut, tanah bebukitan bagai leher kambing. Sangat luas dan berarti bagi sebuah kehidupan. Di tanah yang diapiti air laut dan pangkalnya hampir putus digerus air laut ini, disebut warga setempat ?Nua Nera?. Tanah Nua Nera menjadi tempat nyaman bagi warga Waienga, Tapobaran dan Tapolangu?yang hendak berternak.

Tanpa terasa, sudah berada di Lewolein, desa Dikesare. ?Sejenak memandang ke laut mengagumi indahnya pantai, teduhnya laut, serta cerahnya alam tanjung Nua Nera? dan? gunung? berapi, Ileape berasap kecil disinari mentari yang beranjak siang. Para nelayan mulai sibuk mengatur dan mempersiapkan alat tangkapannya ingin turun melaut.

Bila menanjak sedua-tiga kilo ke pebukitan Tanjung Baja, akan lebih terpesona mengagumi kebesaran karya Agung Allah. Pemandangan ke laut, ke teluk Lewolein, teluk Hadakewa yang dilingkari Tanjung Ileape dan Tanjung Baja, dibelah tengah, dengan menjulurnya Tanjung Nua Nera. Suasana pagi, menyajikan guratan tangan Tuhan mewahyukan diriNya, kalau bumi adalah ibu, bunda dan Firdaus lambang persemayaman diriNya sendiri.

Benar-benar surprise bila berada di atas pebukitan Tanjung Baja, masuk areal kekuasaan Uyalewun Kedang. Betapa indah dan membahagiakan? hati ini, ketika berada di tempat ini. Segala persoalan dan keruwetan hidup keseharian, terkubur bersama tenggelamnya curahan perhatian dalam menikmati indahnya pemandangan tanah ini. (Lukas Narek)

Sumber: Flores Bangkit