Home Artikel Pasar Wulandoni, Ikon Wisata Lembata yang Terlupakan

Pasar Wulandoni, Ikon Wisata Lembata yang Terlupakan

398
0

LEWOLEBA, FBC-Pasar Wulandoni. Ketika wisatawan tiba di Lamalera, tempat mana lagi yang terdekat yang bisa dikunjungi ? Jawaban ke Pasar Wulandoni. Tapi mengapa harus dari Lamalera?

?Kunjungan mereka (wisatawan) ke pasar barter, kemungkinan tidak masuk agenda wisata mereka, namun mereka baru mendapatkan informasinya dari Lamalera, ketika berwisata di Lamalera,? ungkap Yoseph Kiwan Igon, Kaur Pembangunan Desa Wulandoni kepada FBC di kantor Desa Wulandoni, Sabtu (2/6).

Pasar Barter Wulandoni, Desa Wulandoni ? Kecamatan Wulandoni-Kabupaten Lembata,?merupakan pasar barter terbesar di Lembata dan juga masih bertahan hingga kini. Dari Lamalera ke Pasar Wulandoni hanya 10 km ditempuh selama 10 menit dengan sepeda motor.

Pasar ini memiliki keunikan tersendiri karena di sini masih berlaku perdagangan dengan sistem barter, barang ditukar dengan barang. Ini juga yang ?menarik untuk mengetahui ?tentang masyarakat pulau Lembata sekarang dan tempo dulu.

Mulai Berbenah

Memang, tidak dipungkiri, oleh perjalanan waktu, sejalan dengan perkembangan zaman yang serba instan, tentunya berpengaruh terhadap mekanisme dan transaksi jual beli di pasar tradisional ini. Diakui?Yoseph Kiwan Igon, derasnya arus globalisasi dan kemajuan zaman yang serba cepat (instan), sempat mengubah kekhasan pasar tradisional Wulandoni menjadi seolah pasar biasa.

Tapi itu tidak terlalu berarti karena masyarakat di sini sudah terbiasa dengan pola perdagangan barter. Belum lagi kalau kita melihat upaya pemerintah desa untuk selalu menjaga kekhasan pasar ini. ? Ketegasan sikap aparat desa Wulandoni melalui petugas pasar, suasana pasar barter tetap normal,? lanjut Yos sapaan?Yoseph Kiwan Igon.

Lebih jauh, bapak ?5 (Lima) orang anak ini, menguraikan, pemerintah Desa Wulandoni sudah mempersiapkan prangkat hukum Peraturan Desa untuk mengatur pasar Barter Wulandoni. ?Hal ini, perlu dilakukan untuk menata dan menjaga kekhasannya,? ungkapnya.

Usaha menata pasar ditunjukkan melalui upaya pemerintah desa membuat perencanaan konstruktif untuk memetahkan wilayah pasar Wulandoni menjadi 2 (Dua) kawasan. Kawasan Timur, berdekatan dengan jalan besar sepanjang pinggiran pantai? dibangun los pasar modern untuk disewahkan kepada para pedagang dari mana saja untuk jualan sembako, pakaian, sandal, barang-barang non lokal, warung makan, tuak dan ikan panggang khas Wulandoni.

Fisik bangunannya sedang dimulai dengan bangunan fondasi yang sudah siap. Pengerjaannya dilakukan secara bertahap. ?Tahun ini, Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Wulandoni sudah mengalokasikan Dua Puluhan Juta Rupiah untuk membangun kelanjutan fisik bangunan Pasar Modern ini,?ungkap Yos

Sementara kawasan Barat, bagian atas jalan di bawah naungan pohon-pohon asam, akan dijadikan ?kawasan pasar Barter, dengan mekanisme pengaturannya secara tersendiri. ?Bangunan los pasar lama yang berada di atas lokasi pasar Barter akan diratakan untuk menjaga suasana alamiah pasar barter,? lanjutnya.

Yos menjelaskan dalam kawasan pasar ini, hanya memungkinkan para pelaku barter untuk melakukan transaksi tukar-menukar barang. Transaksi jual beli dengan uang hanya dimungkinakan bagi orang yang memang datang hanya membawa uang untuk berbelanja di pasar tradisional.

?Lokasi pasar barter sama sekali tidak dimungkinkan bagi para pedagang sembako, pedagang pakaian dan pedagang barang non lokal lainnya, kecuali barang-barang non lokal tersebut untuk kepentingan barter,? tegas Yos.

Ketika ditanya tentang besar Pendapatan Asli Desa (PAD) Wulandoni dari retribusi pasar Barter selama ini, Yos menerangkan bahwa retribusi dari pasar, kurang lebih Rp. 75.000,- (Tujuh Puluh Lima Ribu Rupiah) per hari pasar Sabtu, dari hasil penjualan barang-barang? (ubi, jagung, pisang, sayur, ikan dan lain-lain) pungutan dari pelaku pasar barter. Kalau ditaksasi penerimaan per bulan dari retribusi pasar Rp.300.000,- dan per tahunnya Rp.3.600.000,-

Pilihan Wisata

Letak Pasar Wulandoni memang sangat strategis.?Setiap Sabtu dalam minggu, pemandangan pasar wulandoni sangat ramai. Ibu-ibu memikul barang jualannya berupa ubi, pisang, jagung, sayur-sayuran dan buah-buahan, serta tuak, dengan susah payah berjalan kaki menuju pasar Wulandoni yang dulu bernama Nualela ini.

Hasil bumi dari daerah pegunungan ?seperti Puor, Imulolong, Posiwatu, Udak, Lewuka, Ataili dan desa-desa lainnya depertukarkan ikan, garam, krepe (keripik ubi kayu), khas buatan mama-mama dari Labala ataupun dari??Wulandoro, Pantai Baru, ?Atakera, ?Leworaja, dan Lamalera.

Biasanya, kegiatan transaksi tukar menukar barang dengan barang baru terjadi, setelah petugas pasar meniupkan? peluit panjang tanda pasar barter dibuka. Ketika petugas lengah, pasif, berhalangan atau belum datang atau belum menarik pajak pasar, para pengunjung pasar (penjual dan pembeli) datang dan seenaknya langsung lakukan transaksi jual beli tanpa peduli.

Tidak sekadar persoalan ekonomi semata yang menjadi daya tarik pasar ini, tapi juga masalah sosial, budaya dari masyarakat Lembata. Jika masyarakat disini sekedar dipetakan dengan masyarakat gunung dan pantai, maka Wulandoni adalah letak yang sangat strategis karena mampu mempertemukan kedua tipeologi masyarakat itu dalam kerukunan dan kebersamaan.

Rupanya, pasar tidak saja pertukaran barang, tapi disini juga ada pertukaran sosial dan budaya oleh mereka yang saling bertemu dan menyapa. ?Suasana kekeluargaan dan kekerabatan, saling menghargai dan membutuhkan satu sama lain dalam tata krama, sopan santun khas masyarakat adat Lamaholot terjadi di sini. Tak heran ?selalu saja terpendam rindu untuk selalu bertemu setiap hari Sabtu di bawah naungan pohon Asam nan teduh dan sejuk.

?Pengalaman selama ini memang banyak wisatawan manca negara yang berkunjung ke pasar Barter Wulandoni,? ujar Yos, yang saat itu didampingi ama Siprianus Lodan, Sekretaris Desa Wulandoni. Kedua perangkat desa ini berharap pasar Wulandoni bisa dikenal lebih luas lagi, agar kegembiraan yang dialami penduduk disini dapat juga dirasakan oleh warga di tempat lain, termasuk para wisatawan.

Berkunjunglah ke Pasar Wulandoni. Di sana ?kita bisa memilih untuk duduk di bawah pohon, sambil menikmati ramainya pasar. Dari sini pun sesekali dapat saja orang melontarkan pembicaraan tentang masa lalu, dan masa depan pada ekonomi dan politik yang terus berubah. (Lukas Narek)