Home Artikel Lamalera, Moyang Saro dan Kisah Raja Pantar

Lamalera, Moyang Saro dan Kisah Raja Pantar

287
0

LEWOLEBA, FBC– Malapetaka yang tidak pernah lekang dari kehidupan suku Sulaona dan Ebang bahkan telah berdampak luas terhadap hidup dan kehidupan Kampung Lamalera,Kabupaten Lembata, kini telah diambil peran penyelesaian oleh warga kampung. Warga kampung pun sudah membentuk tim Tim Sebelas dan sudah ?mulai bekerja sejak 1 Mei 2012.

Menurut ama Gaspar Dile Bataona kepada FBC, Minggu, (3/6) di Wutunglolo desa Lamalera B, ?Kampung atau Lewo Lamalera telah menugaskan Tim Sebelas untuk menangani 2 (Dua) hal penting yaitu masalah nafkah hidup (kehidupan di laut) Lamalera dan masalah Pariwisata Lamalera.

Dari kiri bapak Abel Beding dan Goris Dengakae 

Gaspar Dile Bataona yang saat itu ditemanin Gregorius Dengakae dan Doroteus Blajan Tapoona, menjelaskan,untuk menyikapi masalah nafkah hidup, yang mencuat setelah kasus kematian moyang Saro, Tim Sebelas telah menyelenggarakan Rapat Lewo untuk menyusuri, mencari dan mengkaji sebab musebab malapetaka dan aib ini. Musawarah Lewo, Minggu tanggal 27 Mei 2012 memutuskan agar menugaskan utusan untuk berangkat ke Duli, desa Puntaru Pantar.

Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero ini menginformasikan, komposisi kepengurusan Tim Sebelas terdiri dari Apolonaris Korohama sebagai Ketua, Marsianus Dua Wujon sebagai Wakil Ketua, Rafael Miku Beding sebagai Sekretaris, Waldetrudis Keraf sebagai Bendahara, dengan anggotanya : Gaspar Dile Bataona, Yoakim Samong, Theresia Tere, Maria Slaka Bata, Maria Bare Bataona, Yoseph Lasan dan Gabriel Govi.

Dia mengatakan,?Tim Sebelas dibentuk oleh lewo dari unsur tuan tanah yaitu suku Wujon dan suku Tufaona, Suku Bataona (Klake Langu), Blikololong dan Lewotukan (Dasion) mewakili unsur Lika Telo (tiga tungku) dan juga unsur masyarakat. ?Enam orang mewakili unsur tuan tanah dan Lika Telo, sementara 9 (Sembilan) orang lainnya mewakili unsur masyarakat. Menejerialnya ada di tangan Tim Sebelas namun dalam operasionalnya Tim Sebelas melibatkan semua tokoh dan elemen masyarakat lewo Lamalera,?ungkapnya.

?Lewo menugaskan 19 orang utusan dengan 3 juru bicara yaitu ama Gregorius Dengakae, Doroteus Balajan Tapoona dan? Gaspar Dile Bataona serta awak lainnya. Rombongan diberangkatkan Rabu, 30 Mei 2012 dengan 3 (Tiga) armada yaitu Pledang Kbakopuke dan 2 Jonson yaitu jonson Sahabat dan jonson Kopolere,?jelas Gaspar.

Tugas utusan untuk melakukan penjajakan informasi dan kabar tentang pusara nenek moyang orang Lamalera yang dikuburkan di Duli desa Puntaru Pantar Alor. Tugas ini menurut Gaspar, Tim perlu melakukan penelusuran siapa warga Lamalera pemilik pusara tersebut termasuk mencari tahu mengapa sejak dari dulu informasi tentang pusara warga Lamalera ini tidak dikisahkan secara turun temurun untuk mendapat perhatian anak cucu.

?Informasi ini baru mencuat dari mulut orang Alor sendiri yang sedang merantau di Lewoleba Lembata menceriterakan kalau di Puntaru ada pusara (kubur) salah seorang warga Lamalera,? jelas Gaspar dengan penuh semangat.

Pantaru Pusat Kerajaan Alor

Dalam bincang-bincang FBC dengan tokoh masyarakat Lamalera ini terbesit kisah tentang kerajaan Alor dan kematian moyang Saro yang didapat dari penulusuran Tim Sebelas. Dikisahkan, Puntaru merupakan pusat kerajaan Alor dengan kekuasaannya yang masih diakui sampai sekarang. Sejak dari masa nenek moyang, pantai Puntaru merupakan? daratan nyaman bagi nelayan Lamalera untuk mentambatkan pledang-nya selama berminggu-minggu, bahkan bulan setelah mencari di laut.

Dari zaman itu pula, Kerajaan Puntaru menerima dan mengakui warga nelayan Lamalera sebagai bagian dari warga masyarakat kerajaan selama para nelayan mencari di wilayah perairan kerajaan Puntaru Pantar Alor. Bahkan, raja Puntaru mengibahkan sebagian wilayah pertanian yang sudah memiliki hasil: padi, jagung, umbi-umbian, pisang, kacang-kacangan, sayuran, kelapa dan lain-lain untuk menghidupi para nelayan Lamalera selama menetap di sana.

?Hal ini, diakui warga masyarakat desa Puntaru dan dipertegas kembali oleh raja Muda Mauribu, raja Pantar Alor yang masih memiliki kekuasaan hingga kini, dalam pertemuan dengan 19 utusan lewo Lamalera di desa Puntaru, Kamis 31 Mei 2012 malam,? jelas Gaspar.

Menurut penuturan bapak Gregorius Dengakae, jubir 19 Utusan Lewo, dalam pertemuan yang ramah dan penuh kekeluargaan ini, raja Muda Mauribu membenarkan, pusara salah seorang warga Lamalarang, penamaan Lamalera versi raja dan warga kerajaan Pantar yang di kebumikan di pekuburan kerajaan.

?Bagi raja dan warga kerajaan Puntaru, warga Lamalerang yang dikebumikan di pekuburan kerajaan, bernama SARAN panggilan SARO versi kerajaan Pantar. Saran meninggal karena dipanah oleh warga Puntaru akibat konflik perebutan ikan paus yang mati terdampar di pantai Puntaru. Nelayan Lamalera mengkalim ikan paus yang mati terdampat adalah miliknya karena bukti tempuling yang masih tertancap di tubuh paus. Sementra warga Pantar menganggap sebagai hak karena mati terdampar di pantai wilayah Pantar,? ungkap ama Gori sapaan Gregorius Dengakae.

Ama Gori melanjutkan, ketika itu pertengkaran terus membarah, konflik kata-kata berujung pada pertarungan fisik dan senjata. Para nelayan Lamalera berhasil menghalau, mengusir warga Pantar dari areal pantai hingga masuk kampung. Saran (Saro), merasa sebagai orang sakti terus menerobos masuk ke dalam kampung. Tanpa dinyana, sebusur panah yang dibidik dari dalam celah dinding rumah bahan dedauan koli, berhasil menembus tubuh Saran (Saro). Saran berusaha melarikan diri, kembali ke pantai menemui awak lainnya.

Gaspar Dile Bataona sedang menjemur ikan hasil tangkapannya 

Sang pendekar tak berdaya, dia terkulai jatuh, darah tak pernah henti keluar. Pledang pun ditunkan ke laut untuk berlayar segerah membawa kembali Saran ke kampung asal Lewo Lamalera. Apa daya, raga tak kuasa menahan, nyawah Saran tak dapat diselamatkan setelah sejam pelayaran, baru mencapai tanjung Pantar.

Langkah bijak diambil para awak, putuskan pulang ke kerajaan Puntaru. Berpasrah memohon pada raja sudi mengebumikan Saro (Saran) pada tanah leluhur kerajaan. Raja yang bijak dan penuh dengan rasa kemanusiaan, menerima dan mengatur penguburan Saro (Saran).

Sejak saat itu, raja memaklumkan kepada warga kerajaan kalau Saran masuk keluarga kerajaan dan dianggap sebagai pendekar pahlawan sakti kerajaan. Pusaranya juga dijadikan sebagai tempat ritual mendapatkan kekuatan sakti bagi bala tentara kerajaan, kisah ama Gori, ?menirukan tuturan raja Mauribu kepada bapak Abel Beding, Rafael Miku,dan sejumlah orang lainnya di rumah bapak Abel Beding, Minggu, (3/6).

Ama Gori menambahkan, Raja Muda mengisahkan ?kalau 7 (Tujuh) tahun setelah peristiwa kematian Saro, ratusan awak dengan puluhan pledang kebali ke Pantar. Pledang dan ratusan bahkan ribuan orang nampak berjejer memenuhi sepanjang pantai Pantar hendak mengajak warga kerajaan untuk berperang. Para awak pledang mengirim utusan menemui raja Puntaru untuk menyampaikan niat ini. Raja Puntaru dengan bijaknya, turun dari singgah sana kekuasaannya menuju pantai menemui para awak yang telah menguasai wilayah pantai. Raja berbicara langsung dengan para awak lewo Lamalera dan mengajak damai.

Bagi raja, tidak ada manfaat dan untungnya berperang. Raja menawarkan dan diterima oleh para awak pledang dari lewo Lamalera untuk membangun perdamaian dengan sebatang gading besar yang disiapkan raja sebagai simbol persatuan kembali hubungan yang telah retak karena hilangnya nyawah Saron. Selain itu pula, raja menghibahkan sebagian wilayah pertanian kerajaan untuk menghidupi para nelayan Lamalera selama menepi di pantai Puntaru. Kepada pelaku pembunuhan Saran (Saro), raja pun menurunkan kutukan baginya dan turunnannya sebagai hukuman. Hingga kini, turunan pelaku pembunuhan hampir putus karena selalu dirundung aib dan malapetaka. Perjanjian ini pun masih terus berlaku hingga saat ini. Demikian, penuturan Raja Muda Maubari, yang diungkapkan kembali Gregorius Dengakae dengan punuh semangat.

Lebih Cepat Lebih Baik

Dalam pertemuan itu, utusan lewo Lamalera mengajukan usulan kalau tulang belulang moyang Saro dapat diambil pulang ke lewo Lamalera. Raja Muda Mauribu yang baru berusia sekitar 43 tahun itu, menyatakan dengan tulus : ?Emas yang terbaik bagi kita, hanyalah Lebih Cepat Lebih Baik.? Pertemuan kekeluargaan ini memutuskan, ritual penjemputan tulang belulang, bahkan akan dihantar langsung secara meriah oleh Raja Muda Mauribu dan warga kerajaan (desa) Puntaru ke lewo Lamalera pada bulan September 2012 mendatang.

?Fakta baru kematian moyang Saro versi raja Mauribu Pantar ini, dapat menggugurkan versi tua adat Sulaona dan Ebang? kalau moyang Saro mati dibunuh dan dibuang ke laut oleh awak Ebang. Dengan demikian, mesti segera dilakukan musyawarah lewo untuk segera membatalkan ritual adat yang salah sehingga tidak mendatangkan aib baru,?demikian Doroteus Blajan Tapoona menegaskan pada kesempatan FBC bertandang ke rumahnya, Sabtu (2/6). Kita tunggu kerja lanjut Tim Sebelas. (Lukas Narek)

Sumber: floresbangkit.com