Home Berita Dialog batal demi pesta

Dialog batal demi pesta

1251
0

UNTUK kesekian kalinya Gubernur NTT Frans Lebu Raya mengerahkan seluruh SKPD di Provinsi dan Pemkab Flotim untuk merayakan hari ulang tahun (ultah) di kampung halamannya, Witihama, Pulau Adonara. Pesta ultah itu dirayakan secara besar-besaran. Saking semaraknya pesta itu, Lebu Raya sampai lupa janji dialog dengan masyarakat di Desa Tuwegoetobi, Kecamatan Witihama. Pertemuan itu batal, masyarakat yang sudah menunggu berjam-jam pun kecewa. Mereka merasa tidak dihargai oleh Lebu Raya yang lebih mementingkan pesta ultahnya.

Ketua Dewan Stasi, Klemens Kopong Miten mengatakan, peristiwa tersebut seharusnya tidak dilakukan oleh seorang gubernur. Menurutnya, pada Rabu (16/5) sekitar pukul 20.00 Wita, pemerintah desa mengumumkan secara resmi kepada seluruh masyarakat, rencana kunjungan gubernur pada hari Kamis (17/5) pukul 12.00 Wita. Masyarakat lalu melakukan persiapan. Dia mengaku terlibat langsung dalam mempersiapkan penari tarian Hedung untuk menjemput gubernur. Bahkan, perlengkapan tarian Hedung dipinjamnya dari desa tetangga hanya untuk memeriahkan penjemputan Gubernur. “Para siswa Taman Kanak-kanak (TK), diperintahkan menggunakan seragam, meski hari itu adalah hari libur,” kata Kopong Miten.

Masyarakat, lanjutnya, akhirnya harus kecewa karena baru pukul 22.00 Wita, Camat Witihama Ignas Ero Ama menyampaikan pembatalan kunjungan Gubernur. “Sebelum matahari terbenam, sudah harus masuk rumah. Dan juga malam ini saya harus duduk dengan keluarga,” kata Camat Ama menirukan ucapan Lebu Raya.

Perayaan pesta ultah Gubernur Lebu Raya di kampung halaman juga diwarnai dengan penundaan keberangkatan KMP Ile Boleng. Kapal yang seharusnya berangkat sesuai jadwal setiap hari Selasa, harus ditunda ke hari Rabu untuk menunggu rombongan peserta pesta di Adonara. Penumpang yang sudah ada di atas kapal pada Selasa (15/5), harus rela pulang ke rumah untuk kembali lagi hari Rabu (16/5) untuk berangkat bersama Gubernur dan rombongan.

Selain itu, kapal yang sedianya melayani rute Kupang-Lewoleba harus dialihkan ke Pelabuhan Waiwerang untuk menurunkan rombongan pesta. “Ini sudah pelanggaran karena mengalihkan rute pelayaran. Di dalam dokumen pelayaran tujuan Lewoleba tapi kemudian dialihkan ke Waiwerang,” kata sumber VN.

Sebelumnya, KMP Ile Boleng ini sempat menjadi polemik karena sudah diminta Bupati Sabu Raijua Marthen Dira Tome untuk melayani pelayaran ke Sabu untuk membawa bahan-bahan pembangunan. Tapi permintaan ditolak dengan alasan sudah dijadwalkan ke Lewoleba.
Menurut sumber VN, sumber dana pesta ultah tersebut dari SKPD, satuan kerja (Satker) yang mengelola dana APBN di setiap SKPD, dan para kontraktor yang menjadi langganan mengerjakan proyek-proyek provinsi. Diperkirakan, dana yang dihabiskan mencapai Rp 500 juta. Dana yang dikumpulkan itu selain untuk keperluan pesta, juga untuk sumbangan-sumbangan yang diberikan baik kepada sekolah dasar (SD) tempat Lebu Raya sekolah, juga untuk gereja, dan masjid.

Sementara sumber VN di Larantuka yang hadir dalam acara ultah Lebu Raya mengatakan, pada acara itu, hampir seluruh pejabat lingkup Pemkab Flotim hadir. Ada Bupati Flotim, Yosep Lagadoni Herin, Sekda Flotim, Anton Tonce Matutina, Asisten 2 Setda Flotim, Petrus Pemang Liku, Kepala Dinas PPO, Bernard Beda Keda, Kepala Dinas PU, John Fernandes, Kepala Dinas Perhubungan, Kepala Dinas Sosial, Frans Fernandes, Kepala BPPKAD, Ramli Laot, Kepala Badan Kesbangpol, Ramli Lamanepa, Kabag Humas, dan Kepala Dinas Kesehatan, Yosep Usen Aman. Hadir juga anggota DPR RI, Honing Sani, anggota DPRD NTT, Gusti Beribe, dan semua anggota DPRD Flotim dari Fraksi PDI perjuangan.

Acara digelar di halaman Kapela Watoone, dihadiri lebih kurang 500 orang. Undangan selain pejabat pemerintah provinsi, dan kabupaten, juga para camat, dan kepala desa di sekitar Kecamatan Witihama. Sedangkan warga masyarakat tidak begitu banyak yang hadir.
Gubernur Lebu Raya dalam acara itu menyampaikan terima kasih atas dukungan masyarakat dan keluarga selama dia memimpin. Dia juga meminta dukungan bagi Fren jilid II pada Pilkada Gubernur mendatang.

Acara dimeriahkan sejumlah penyanyi dari Kupang. Bupati Flotim, Yosni Herin bersama jajarannya juga menyumbangkan lagu pada acara ulang tahun ini. Acara dilanjutkan dengan jai dan dolo-dolo bersama hingga pukul 15.00 Wita.

Pemimpin Borjuis
Sosiolog Undana, Balkis Soraya Tanof, kepada VN, Sabtu (19/5) malam kemarin mengatakan, pesta ultah Gubernur Lebu Raya, di tengah kondisi NTT yang miskin, rawan pangan, banjir, dan longsor, serta sedang mengalami kekurangan dana PON Pekanbaru menunjukkan Lebu Raya sebagai pemimpin borjuis kapital. “Dia berfoya-foya merayakan ulang tahun bersama elite birokrasi dan para pengusaha sementara saat bersamaan dia mengabaikan masyarakat yang membutuhkan empati dan perhatian dari dirinya. Itu tipe pemimpin feodal borjuis,” katanya.
Menurutnya, tindakan Lebu Raya mengerahkan hampir seluruh SKPD lingkup Pemprov NTT mengikuti pesta ultah di Witihama, merupakan tindakan pemimpin primordial. Tindakan Lebu Raya terkesan mengintervensi SKPD yang semestinya bisa berbuat banyak untuk masyarakat namun harus hadir untuk kepentingan gubernur pribadi.
Bentuk lain kepemimpinan primordial yang ditunjukkan Lebu Raya, lanjut dia, dapat dibuktikan dengan mengalihkan rute keberangkatan KMP Ile Ape, dari Lewoleba ke Waiwerang. “Jadi pemimpin yang primordial itu termasuk mengarahkan semua kekuatan aset negara untuk kepentingan pribadinya,” tukasnya.
Balkis curiga kegiatan tersebut menggunakan keuangan negara dari setiap SKPD lingkup Pemprov NTT yang diarahkan untuk mengikuti kegiatan tersebut. “Kalau yang jalan itu sebagian besarnya adalah SKPD, masyarakat bisa mencurigai kalau dalam pelaksanaan kegiatan tersebut juga menggunakan uang rakyat yang bersumber dari setiap SKPD,” tegasnya.
Pengamat hukum Unika, Servasius Rodrigues sangat menyayangkan sikap gubernur yang enggan bertemu dengan masyarakat yang telah ada dalam jadwalnya hanya demi perayaan ulang tahun bersama elite birokrasi. “Saya pada intinya sangat menyayangkan sikap Gubernur yang seperti itu. Mestinya dia bertemu dengan rakyat yang telah dijanjikannya,” katanya.
Idealnya lanjut Rodrigues, Gubernur Lebu Raya memenuhi jadwal pertemuan dengan masyarakat. Kalaupun jadwalnya padat, mestinya dia mengundang masyarakat mengikuti acara ultah sambil mengkomunikasikan aspirasi yang ingin disampaikan masyarakat. (ans/yan/H-1)

Sumber: victorynews