Home Artikel Dulu, Adonara Itu Surga

Dulu, Adonara Itu Surga

194
0

Beberapa waktu terakhir ini, Desa Watoone maupun Kecamatan Witihama pada umumnya mulai tak banyak mengeluhkan soal air minum. Kalau pun saluran pipa macet atau airnya berlumpur, paling tidak hujan yang terus menerus membuat keluhnan akan air agak reda.

Benarkah dulu Adonara itu surga? Pertanyaan ini ada karena konon di masa yang sudah sangat lama entah di tahun berapa, alam Adonara pada umumnya sangat terjaga. Semua yang dilakukan di atas tanah ini diatur sangat rapi.
Mulai dari menanam, memanen, menanam lagi, menebang pohon di hutan (buka kebun baru), sampai meninggalkan kembali kebun itu, semuanya penuh dengan tata aturan.

Ini memang tulisan yang mirip dongeng. namun setidak-tidaknya tanda-tanda kebesaran itu masih terlihat. Bukan bekas kerajaan yang pernah jaya di masa lampau melainkan tanah yang subur dengan musim yang tetap, plus air dari mata air yang senantiasa mengalir tanpa henti.

Semuanya itu terjaga karena aturan yang mengikat itu sungguh kuat, disertai sanksi yang tegas dan jelas bagi si pelanggar. Bahkan sedikit berbau mistik religius. Contohnya, jika ada orang yang sembarangan menebang pohon di suatu kawasan hutan, maka mereka akan didenda sekian ekor hewan, membuat pesta utk orang sekampung, dan lain-lain. Atau orang yang menganggu mata air dengan cara menebang pohon di sekitarnya, maka yang bersangkutan akan disanksi. Tidak hanya orang bersangkutan tetapi seluruh keluarganya.

Dengan cara itu kelestarian hutan maupun mata air terjaga dalam waktu yang sekian lama hingga tiba pada generasi ini. Generasi yang tampaknya tak lagi mengindahkan warisan leluhur, bukan hanya adat istiadat, tetapi juga warisan sangat nyata berupa kelestarian lingkungan yang tak sanggup dijaga dengan baik.

Akibatnya, di kampung ini dan itu berteriak-teriak kehausan, karena tak sedikit sumber air yang sebelumnya melimpah, menjadi kering kerontang. Penebangan kawasan tertentu yang tak dapat lagi dilindungi aturan atau kesepakatan setempat menjadi bencana bagi manusia zaman ini, Hal ini ditambah lagi dengan penerapan aturan baru yang tak bergigi dan tak bernyali.

Yang sangat menyedihkan, pola hidup maupun pola pikr manusia kebanyakan di zaman ini, bukan mau mengembalikan kelestarian alam, melainkan membuatnya semakin kerontang setandus-tandusnya. Dan di atas semua itu, sanksi sudah tak pernah ada, ditambah dengan diinjak-injaknya tempat-tempat yang sebelumnya dianggap keramat. Maka yang kini tersisa hanya gurun. Jika ingin minum, ambil air dari tetangga. jika tak ada lagi di tetangga, berjuanglah utk bisa minum air laut, jik air payau pun sudah kering.

Jika ada waktu, mari kita mendata, seberapa banyak mata air yang telah lenyap di Adonara, khususnya Adonara Timur dan seberapa banyak yang masih sanggup bertahan, kemudian seberapa lama yang masih ada itu sanggup bertahan.

Semoga berguna bagi Lewo Mur’en Tanah Asal Adonara

Hipa Lali Duli, Hide Teti Lewo, Koda Dike Kirin Sare, Taan Bura Gere Lewun Tanah …

Oleh : Bernadus Gana