Home Serba-serbi 1 Mei 2011 YUBELIUM BARU: Karol Wojtyla, Beato

1 Mei 2011 YUBELIUM BARU: Karol Wojtyla, Beato

204
0

Hari Minggu tanggal 1 Mei, tepat pada Hari Raya Kerahiman Ilahi, perhatian umat Katolik sedunia akan tertuju kepada upacara yang sudah tidak langka dan yang sering dilakukan oleh Gereja Katolik. Namun upacara yang akan dilangsungkan tahun ini begitu spesial dan menyentuh hati seluruh umat dari Gereja dengan jumlah pengikut terbesar di dunia. Karena pada Hari Yubelium Baru itu, seorang wakil Kristus dan pemimpin Gereja Universal dari sebuah negara “jauh”, akan menerima penghargaan dan penghormatan di Altar Tuhan. Pada hari itu, Karol Wojtyla, Paus Yohanes Paulus II, akan masuk ke dalam Persekutuan Orang Kudus, dia akan diakui sebagai seorang Beato, Yang Terberkati.

Wojtyla Semasa Hidup
Karol Wojtyla lahir di kota Wadowice di Polandia pada tahun 1920. Diangkat menjadi Paus pada tahun 1978 dan bertahta sampai saat meninggal dunia tanggal 2 April 2005.
Wojtyla yang agung dan menggetarkan. Menggetarkan? Ungkapan ini mungkin jarang sekali digunakan akhir-akhir ini terutama di mana Kristianisme terkontaminasi oleh New Age. Karena bukan saja Yohanes Paulus II seorang Paus yang baik hati, yang terbaring mendoakan orang-orang sakit agar lekas sembuh, yang hatinya penuh pengampunan dan yang menampakkan Belas Kasih Allah melalui tatapan matanya. Tetapi, Paus asal Polandia itu juga memiliki kebaikan yang menggetarkan, bagaikan seorang serdadu seperti ayahnya. Hanya cukup menatap kakinya untuk mengetahui bahwa dia dilahirkan bukan saja untuk berjalan ke mana dia dibutuhkan, tetapi juga untuk menaklukkan kerajaan kegelapan dengan menendang dan meruntuhkan gerbang-gerbangnya.

Sejak Surat Ensiklik yang pertama, Yohanes Paulus II sudah menunjukkan ketegasannya. Dalam “Redemptor hominis” dia memperkenalkan ungkapan yang tidak lazim bagi umat Kristiani dan jarang digunakan: “kegetaran hati Allah”. Ungkapan itu ditemukannya dalam diri Santo Paulus, untuk mengartikan hidup adalah sebuah pertempuran.
Menggetarkan Iblis. Itu pasti. Bahkan, sangat menggetarkan. Pada bulan September tahun 2001, dalam surat kabar Libero penulis Renato Farina dari Fraternitas Comunione e Liberazione menceritakan bagaimana Yohanes Paulus II sendiri menghadapi dan melawan Iblis, dengan mengusirnya keluar dari tubuh seorang anak perempuan dengan kalimat-kalimat yang menggetarkan dan menakutkan roh jahat itu. Dia mengikuti nasehat dari Santo Bernardus di Chiarvelle, yaitu bukan memerintah atas kekerasan, melainkan mengusir dan mematikan kekerasan: “jika kamu mengusir roh jahat keluar dari orang yang lemah dan mematikan dia, kamu bukan membunuh orang itu tetapi iblis yang kamu bunuh.” Yohanes Paulus II tidak pernah meragukan nasehat Biarawan-serdadu Kudus itu.
Suatu hari dia pernah berkata: “Saya seorang Paus yang sudah tua, tetapi berjalan di dalam gunung-gunung.” Dia menggunakan kata “di dalam” gunung-gunung, bukan “di atas” gunung-gunung. Jadi, dia berjalan di dalam batu-batu gunung. Pada upacara pemakamannya, tidak ada pernak-pernik apapun di atas peti matinya, yang ada hanya sebuah Kitab besar dan Salib. Petinya pun sederhana dan tidak berwarna. Saat itu angin berhembus kencang, membilah halaman demi halaman Injil seperti sebuah topi hias dari seorang janda yang putus asa.
Yohanes Paulus II tidak gentar melawan Komunisme. Berusia 59 tahun dan pergi ke Polandia memerangi Komunisme dengan berkotbah di hadapan orang-orang. Disebut sebagai ?atlit Allah?. Dia tampak lebih lagi sebagai Malaikat Agung Mikael dengan pedang melawan penindas. Kepahlawanan Yohanes Paulus II yang menggetarkan ditampakkan saat dia menulis surat ke Moskow, mengatakan jika Soviet sampai menjajah Polandia mereka akan berhadapan langsung dengannya.
Kegetaran hatinya ditunjukkan dengan tidak memberikan toleransi atas pengartian yang salah terhadap tema doktrinal. Keyakinan Iman adalah kekayaan bagi orang miskin, maka tak seorang pun boleh memberikan pemahaman yang palsu. Waktu itu, dia baru saja menjabat Bapa Suci, namun dengan segera mengkritik Hans Kung dan menolak memberikan kesempatan kepadanya untuk menamakan dirinya dan mengajarkan ?Teolog Katolik?. Yohanes Paulus II justru memberikan posisi itu kepada muridnya, Kardinal Joseph Ratzinger.
Demikian halnya mengenai ?Teologi Pembebasan?. Wojtyla pergi ke Puebla di Meksiko dan menjelaskan rakyat bahwa: ?hanya Kristus dan daripadaNya saja? datangnya pembebasan bagi manusia dan rakyat. Bahwa ajaran Marxisme adalah penyangkalan atas keadilan.
Dengan kaum muda, terutama dari Barat, dia tidak pernah putus asa berbicara tentang tema moralitas seksual, abortus, dan penggunaan metode kontrasepsi. Kepada siapa yang menunjuknya sebagai pemimpin yang paling bijak, yang paling dekat dengan modernitas, dia menjawab: ?Bukan saya yang membuat doktrin Gereja, saya tidak mengubah firman Yesus.?
Yohanes Paulus II juga tidak gentar akan penyakit dan kematian. Bahkan tidak takut sama sekali. Boleh dibilang lebih galak daripada penyakit dan kematian itu. Dia tidak mau ditaklukan oleh penyakit dan kematian. Tahun 2003 dia masih sempat pergi ke Ajerbaijan dan Bulgaria, menampakkan sosoknya bagai sebuah patung putih yang kokoh.
Di akhir hayatnya, tidak mampu lagi mengucapkan kata-kata. Tetapi di hadapan dunia memukul meja baca dengan kepalan tangannya, dengan seluruh sisa kekuatan duniawi yang ada padanya.
Mungkin kepalan tangannya itu juga ditujukan kepada Allah, menunjukkan betapa Agung Dia dan betapa dia sangat mencintaiNya.
Rahmat Kesembuhan Suster Marie Simon-Pierre melalui perantaraan Wojtyla
Setelah melalui penelitian yang panjang, akhirnya Kongregasi Penyebab Orang Kudus menyatakan setuju atas mukjizat yang dikaitkan dengan perantaraan Paus Wojtyla. Suster Marie Simon-Pierre, seorang biarawati asal Perancis berusia 44 tahun, menderita suatu bentuk agresif dari penyakit Parkinson. Penyakit itu memaksanya meninggalkan pelayanannya di bangsal sebuah rumah sakit bersalin di Arles. Namun, yang secara misterius langsung sembuh setelah para biarawati lainnya, pada bulan Juni 2005, datang kepada Yohanes Paulus II yang baru saja meninggal, untuk memohon rahmat mukjizat kesembuhan.
Berkat Wojtyla juga Ratzinger Sembuh
Semua orang tahu, bahwa mereka berdua bersahabat dan secara doktrinal spektakuler. Tetapi bahwa Joseph Ratzinger telah mengalami sebuah pertemuan yang sangat spesial dengan seorang Beato masa depan, lebih-lebih di bawah tanda keajaiban ? tanda mukjizat ? sungguh-sungguh tiada yang tahu.
Saat sedang bekerja merampungkan Katekismus yang baru, antara tahun 1991 dan 1992, Kardinal Ratzinger mengalami sebuah serangan yang mematikan dan segera dirawat di sebuah klinik swasta di sekitar Jalan Aurelia. Saat itu, dia ditangani oleh Dokter Bedah Saraf, Francesco Chiappetta, yang menganalisa Ratzinger untuk menjalankan operasi. Kardinal Ratzinger juga disarankan untuk menjalankan operasi di Jerman, tetapi dia sendiri yang meminta untuk tidak dioperasi dan tetap tinggal di Roma.
Setelah beberapa saat berlalu, seorang dokter ahli yang baru membawa hasil analisa yang mengatakan bahwa penyakit mematikan tersebut hilang secara mukjizat.
Dalam perbincangan dengan tim dokter, Ratzinger menyebutkan secara khusus ikatan dengan Yohanes Paulus II. Tetapi, apakah yang telah terjadi?
Beberapa saksi mengatakan fakta bahwa, selama perawatannya itu, Ratzinger menerima kunjungan pribadi pada malam hari yang dilakukan oleh Wojtyla. Kemungkinan itu sebuah kunjungan yang dilakukan dengan doa bersama dan percakapan yang sangat mendalam diantara keduanya.
Lalu, muncul beritanya: Ratzinger sembuh.
Upacara Beatifikasi
Upacara Beatifikasi Yohanes Paulus II akan di langsungkan di Vatikan di Basilika Santo Petrus dan Paulus pada pukul 10.00 waktu Italia atau pukul 15.00 waktu Indonesia, dan akan dipimpin oleh Paus Benediktus XVI. Diperkirakan ratusan ribu orang akan membanjiri alun-alun dan sekeliling Basilika untuk mengikuti acara penting tersebut.
Pada bagian facciata dari Basilika telah dipasang sebuah poster besar yang bergambar wajah Beato Karol, dan untuk pertama kalinya akan dipertunjukkan relikwi suci dari Yohanes Paulus II.
Sebuah ampola yang berisikan darahnya akan diarak bagi semua umat yang hadir dan yang menonton melalui acara TV dari rumah. Di Italia hampir sebagian besar kanal TV akan menayangkan acara penting tersebut. Sementara di Indonesia, umat dapat mengikutinya melalui kanal TVOne dan Indosiar.
Selain daripada itu, Youtube bekerjasama dengan Kanal TV Vatican Centro Televisivo Vaticano dan Radio Vatikan mengumumkan pada tanggal 1 Mei juga akan menayangkan Upacara Beatifikasi Yohanes Paulus II melalui live video streaming di link www.youtube.com/live, dan secara langsung di kanal Youtube buatan Vatikan di link www.youtube.com/giovannipaoloii. Tayangan Youtube itu akan berlangsung dari pukul 09.00 sampai pukul 12.45 waktu Italia. Sehingga demikian, siapapun juga di seluruh dunia dapat mendukung dan menyaksikan Upacara Beatifikasi Yohanes Paulus II yang bersejarah.

http://www.pondokrenungan.com/isi.php?tipe=Puisi&table=issi&id=1271
(Oleh: Shirley Hadisandjaja Mandelli, dari sumber Libero dan Il Giornale)