Home Artikel Tuhan dan Manusia di Jalan Salib

Tuhan dan Manusia di Jalan Salib

173
0

Memaknai Masa Puasa

MASA puasa atau Prapaskah orang-orang Katolik sebagai masa persiapan untuk merayakan Paskah ditandai oleh satu permenungan istimewa akan salib Kristus. Tradisi gereja menyebutnya sebagai jalan salib. Jalan salib sudah dimulai sejak awal di Yerusalem. Orang memberi tanda khusus pada tempat yang diceritakan sebagai jalan yang dilewati Yesus pada hari terakhir hidupNya. Mulai abad ke-5 tempat ini menjadi tujuan para peziarah. Sejak abad ke-14 kebiasaan mengunjungi tempat penderitaan Yesus di Yerusalem menjadi semakin intensif di bawah bimbingan para biarawan Fransiskan. Kebiasaan ini dibingkai dengan cerita bahwa Maria, ibu Yesus, selalu menyusuri jalan itu melewati sejumlah stasi setiap hari setelah Kebangkitan PuteraNya.

Jumlah stasi jalan salib memang sangat bervariasi. Baru pada abad ke-15 jumlah 14 mulai dikenal luas. Jalan salib dengan jumlah stasi seperti itu menjadi satu praktik yang dijalankan secara umum dalam Gereja Katolik sejak abad ke-18, pada saat pimpinan gereja menetapkannya ini sebagai salah satu bentuk doa setelah mendapatkan sakramen pengampunan.

Allah yang Menderita

Sangat biasa bahwa Tuhan disembah sebagai Allah yang perkasa. Bukan hal baru bahwa Dia diimani sebagai Allah yang mahakuasa, yang sanggup mencipta dari ketiadaan, menyembuhkan penyakit, mengelakkan bencana dan menghidupkan dari kematian. Tuhan adalah pemilik kekuasaan yang tidak berhingga, pemegang kendali pemerintahan yang tidak tersaingi.

Sebaliknya, tidak gampang mengimani Allah yang menderita, yang tidak berdaya di bawah kekuasaan dan kebengisan manusia, yang dipermainkan oleh pengadilan yang penuh rekayasa dan menjadi sasaran kemarahan massa. Tuhan yang menderita, yang diolok dan dicerca sepanjang jalan kota, yang diikat tubuhnya dan didera, tidak mudah dikenal sebagai Allah yang patut disembah. Tidak heran, para murid mengundurkan diri.

Namun, keyakinan iman orang Kristen mengatakan bahwa di dalam Yesus yang menderita Tuhan mengambil bagian dalam kisah penderitaan manusia. Tuhan yang tersalib adalah Allah yang mudah ditolak. Dia tidak mengundang kekaguman, juga tidak menggentarkan. Sebaliknya, Tuhan seperti ini terlalu gampang diabaikan dan dilupakan. Sangat mudah orang lari dari Tuhan seperti ini untuk berpaling pada Allah yang jaya dan perkasa.

Jalan salib Yesus adalah jalan untuk merangkul dan mempersatukan. Jalan salib Yesus mengingatkan bahwa bagi Tuhan, salib dan kemenangan merupakan satu kesatuan. Tuhan yang tersalib dan yang bangkit adalah Tuhan yang satu dan sama. Manusia pun hanya dapat menjadi pribadi yang utuh, jika dia tidak memenggal pengalaman dan sejarahnya. Pengakuan dan penerimaan yang jujur dari apa yang pernah dialami dan dilakukan, menjadi jaminan bahwa manusia diselamatkan. Sebab, diselamatkan selalu berarti penerimaan diri. Tuhan yang menyelamatkan adalah Allah yang menerima manusia seutuhnya. Keselamatan berarti mengutuhkan, mengumpulkan, mempersatukan. Dia mempersatukan setiap orang dengan dirinya sendiri, dengan orang lain dan dengan Tuhan. Melupakan sejarah, terlebih melupakan sejarah penderitaan, adalah pangkal segala kehancuran. Keselamatan adalah pengumpulan, dan itu terjadi apabila orang beriman bersedia mengenang. Di dalam kenangan orang menemukan keselamatan dan kemenangan.

Pengkhianatan, Pengadilan, Hukuman

Jalan salib Yesus menunjukkan jalan penderitaan manusia. Daya tarik jalan salib bagi orang-orang Katolik boleh jadi disebabkan oleh identifikasi diri mereka dengan apa yang ditradisikan sebagai jalan penderitaan Yesus. Di antara sekian banyak kesamaan, saya hendak menunjukkan tiga hal berikut.

Pertama, pengkhianatan. Yesus dikhianati oleh seorang sahabatnya demi uang. Yudas adalah seorang bendahara. Biasanya, yang dipilih sebagai seorang bendahara adalah orang yang sangat dipercaya. Karena di mana-mana uang memainkan peranan penting, maka tidak sembarang orang dipilih untuk menjadi bendahara. Tidak jarang, di dalam sebuah organisasi, yang ditentukan sebagai bendahara adalah orang yang paling dipercaya oleh kelompok dan ketuanya. Sebab, sang ketua sadar bahwa keberhasilannya sangat ditentukan oleh kepandaian dan kejujuran seorang bendahara. Itu berarti, Yudas sangat dipercaya Yesus. Dan Dia dikhianati justru oleh orang yang sangat dipercayaiNya ini.

Orang yang paling dipercaya itu pun serentak menjadi sasaran paling empuk dari orang yang hendak menghancurkan satu kelompok. Kalau mau menghancurkan kesatuan kelompok, mulailah dengan isu uang. Anggota kelompok akan mulai saling mencurigai, khususnya mereka mencurigai sang bendahara. Kelompok jadi hancur. Sebab itu, para penguasa yang hendak menghancurkan Yesus dan kelompokNya, mulai menggunakan Yudas, sang bendahara. Mereka tidak bisa menyuap Yesus untuk meninggalkan perjuanganNya. Yang bisa mereka dekati dan kuasai adalah Yudas, orang kepercayaan Yesus.

Kedua, pengadilan yang penuh rekayasa. Jalan salib Yesus membuka mata kita untuk melihat praktik peradilan yang jauh dari keadilan. Pemisahan kekuasaan pengadilan dari kekuasaan politik memang merupakan sebuah kemajuan dalam dunia modern. Pada saat pengadilan Yesus, pemisahan itu belum dikenal. Sebab itu, pada pengadilan itu Pilatus, sang penguasa politik yang mewakili kaiser Roma, bertindak sebagai hakim. Demikian pun Herodes, yang menjadi raja orang Yahudi.

Pengadilan Yesus mendemonstrasikan apa jadinya dengan keadilan ketika kekuasaan kehakiman berada dalam genggaman penguasa politik. Pertimbangan politik menjadi motivasi utama dalam memutuskan sebuah perkara. Orang yang dianggap membahayakan kemapanan kekuasaan politis, dengan sangat mudah dijatuhi hukuman mati. Sebaliknya, penjahat yang membunuh banyak orang, yang menculik ribuan manusia dan menimbulkan ketakutan dalam diri jutaan warga tidak akan diadili atau dibebaskan dalam pengadilan apabila dia menguntungkan penguasa politik.

Sejarah peradilan bangsa kita pun tidak luput dari situasi seperti itu. Banyak pejuang keadilan kemudian menemukan akhir yang memilukan karena melewati proses pengadilan yang sarat kepentingan politis. Dewasa ini, kepentingan ekonomi pun menjadi satu faktor yang sangat menentukan. Adil atau tidak adil diukur berdasarkan keamanan dan kenyamanan para penguasa. Yang mempertanyakan kekuasaan dan menyampaikan kritik terhadap sepak terjang, akan mudah terperangkap dalam tuduhan sebagai orang yang melakukan kejahatan.

Ketiga, hukuman yang dipertontonkan sebagai teror. Jalan salib menyusuri Yerusalem menuju puncak Kalvari adalah sebuah tontonan umum. Tujuannya jelas, menimbulkan rasa takut pada mereka yang berniat melaksanakan hal yang sama. Rezim yang tidak adil selalu mengandalkan teror sebagai jaminan kepatuhan warga. Mereka melaksanakan hal ini dengan mempertontonkan hukuman yang dijatuhkan bagi orang yang dipandang melanggar ketertiban umum. Rasa takut dipelihara, sebab perasaan itulah yang membuat orang yang ditekan enggan mengangkat suara.

Para penguasa Roma dan pemimpin agama Yahudi memang merasa cemas bahwa gerakan yang diprakarsai Yesus dapat menggoyangkan kekuasaan mereka, kendati Yesus sama sekali tidak bermaksud merebut kekuasaan politis. Dia hanya berusaha menunjukkan bahwa Tuhan tidak menghendaki penindasan manusia oleh sesamanya, tidak merestui ketidakadilan yang terjadi, juga atas nama agama. Hidup dan wartanya memberikan rasa percaya diri pada kaum yang terpinggirkan, bahwa keadaan mereka tidak harus selalu seperti itu, bahwa perubahan mungkin terjadi, pertama-tama di dalam hati dan pikiran mereka. Namun, warta ini menggentarkan para penguasa. Menanggapi kegentaran ini, mereka menghukum Yesus dengan hukuman yang paling kejam saat itu, dan mempertunjukkan hukuman itu kepada semua warga.

Hukuman untuk menimbulkan rasa takut sering pula merupakan logika di balik kebiasaan memberikan sanksi baik di dalam keluarga maupun dalam masyarakat luas. Hukuman yang dijatuhkan kepada seorang anak di dalam keluarga sering dimotivasi oleh pikiran agar anak-anak yang lain tidak berani lagi melakukan tindakan yang sama. Orang menjatuhkan hukuman kepada seorang sesama warga dengan pikiran yang sama. Namun, kesadaran yang dibangun di atas rasa takut tidak akan bertahan lama. Kalau anak tidak lagi berada di bawah kekuasaan orangtua atau guru dia akan melakukan pelanggaran yang sama, atau malah lebih buruk.

Pada jalan salib Yesus kita melihat kembali pengkhianatan, pengadilan yang penuh rekayasa dan hukuman yang dipertontonkan. Di dalam sosok Yesus kita melihat diri kita sendiri, yang sering dikhianati, mengalami pengadilan yang diarahkan oleh berbagai kepentingan politik dan ekonomi, serta ditakuti-takuti dengan hukuman dan kekerasan yang dikenakan pada sesama kita. Namun, salib Yesus bukanlah salib pembalasan dendam. Kenangan yang dibangkitkan saat melihat salib Yesus bukanlah perasaan dendam terhadap para penguasa Roma dan Yahudi yang telah berlaku tidak adil dan kejam terhadapNya.

Merenungkan jalan Yesus mestinya membawa orang Kristen masuk ke dalam jalan salibNya, agar bersama Dia mereka turut menyelamatkan dunia. Langkah pertama yang perlu dilakukan sebagai konsekuensi dari jalan salib, adalah membuka mata semua orang lain terhadap berbagai kenyataan ketidakadilan dan kekerasan yang terjadi di dalam sejarah dan masyarakat, melihat dan mengakui pengkhianatan yang terjadi. Selanjutnya, orang Kristen dipanggil untuk turut menjaga, agar pengkhianatan dan kekerasan terhadap sesama dan lingkungan tidak terjadi lagi.*

Oleh: Dr. Paul Budi Kleden
Staf Pengajar STFK Ledalero, Maumere

Sumber: Pos Kupang