Home Umum Zaman

Zaman

256
0

Zaman ini, ketika teknologi kian maju, segala sesuatu semakin maju, penyakit semakin maju, bencana semakin maju dan beragam, penderitaan semakin maju dan beraneka, banyak hal mendasar dari anasir lewo tanah yang tampaknya mulai terlupakan.?Orang memandang bencana dengan kasat mata dan pasrah pada suatu situasi dengan menerima atau bahkan “menyalahkan” Tuhan.?Ini sebuah kehidupan yang wajar, karena pada dasarnya hampir semua manusia tak ingin hidup susah, harus jauh dari bencana dan penyakit.?

Di tengah era sekarang ini, kebanyakan orang selalu melihat apa yang tampak oleh mata, bukan apa yang tersembunyi di balik sebuah kejadian.?Ini terjadi karena zaman telah membentuk manusia untuk menjadi semakin malas dari hari ke hari. Malas berjalan, malas berpikir, malas merenung, dan malas-malas yang lainnya. Ini buah dari kenyamanan hidup yang berselimut teknologi yang kian canggih.?Tak ada yang mempermasalahkan kemajuan yang memudahkan hidup ini.

Namun keliru besar jika kita lupa akan “kulit” kita. Apakah kita sadar bahwa kita lahir dari Tanah Lama holot yang sungguh jauh beda caranya memandang sebuah kehidupan maupun kematian??Bahwa tidak gampang orang mati, itu bukan hanya basa -basi. Terlalu banyak bukti yang menunjukan hal itu. Namun sadarkah generasi Lama Holot mengapa ada bahasa seperti itu, ataukah generasi ini hanya bertahan pada sebuah kebanggaan semu??

Tenggelamnya kapan ikan yang mengangkut beberapa anak Lewo Tanah dari Boleng menuju Lewo Leba, semestinya menghentak isi Lama Holot, baik di kampung halaman maupun anak Lama Holot di mana pun berada.?Di zaman yang sudah serba canggih ini, marilah kita lihat diri kita dan kembali bertanya, mengapa hal itu terjadi. Perlu diingat bahwa besarnya gelombang tak cukup bertuah utk menenggelamkan orang Lama Holot, karena dengan senjata sederhana, orang Lama Holot bisa menaklukan ikan paus.?Selat Boleng dengan arus Wato Woko memang sungguh ganas. Tetapi mengapa tak ada yang tenggelam meskipun kawasan itu dilayari setiap hari jurusan Lewo Leba-Waiwerang-Larantuka, kecuali kejadian tahun 1980-an?

Kalau memang Arus Wato Woko penyebabnya, maka mungkin anak Lama Holot sudah terlalu banyak yang habis dimangsa laut.?Jika demikian, apa penyebab sesungguhnya? Saudara-saudariku…! Tanah Lama Holot itu gerar’an (Pamali – Red) beserta lautnya. Tak sembarang menelan korban. Mari kita renungkan utk kehidupan di suatu waktu yang akan datang.?Kita bersedih, tapi jangan tenggelam dalam kesedihan. Mari kita merenungkan segala peristiwa ini, sejauh mana langkah kita dan sejauh mana kita telah melupakan segala sesuatu. Siapa tahu, di tengah kegundahan ini, kita mendapatkan jawaban untuk kita dan untuk semua anak lewo tanah kita tercinta… Semoga!!!?

Hipa Lali Duli Heke Teti Lewo, Koda Dike Kirin Sare, Taan Bura Gere Lewun Tanah…!!! (Bernadus Gana)