Home Serba-serbi Nilai Sebuah Doa

Nilai Sebuah Doa

209
0

Barangkali karena kuatnya adat istiadat mencengkeram Bumi Adonara, sampai-sampai beberapa manusia di beberapa tempat di tanah ini tak begitu mengindahkan pentingnya berdoa.?Di sini saya tak mau menggeneralisir. Yang saya maksudkan adalah berdoa menurut keyakinan Katolik. Saya katakan demikian, karena ini acapkali terlihat nyata ketika ada upacara orang meninggal dunia.?Pemimpin doa yang kebanyakan guru, berdiri dekat orang meninggal dengan beberapa siswanya yang siap menjawab doa, sementara sebagian besar masyarakat lainnya, khususnya wanita dan kebanyakan ibu-ibu, jauh lebih sibuk dengan ale lolo (Pakaian) yang konon, diperuntukan bagi orang meninggal. Padahal dalam kenyataan, di tengah orang ramai, ada beberapa di antaranya yang berani mengambil pakaian itu dan menaruhnya di bawah pantatnya, sambil mengelabui orang dengan tangisannya yang super keras.?

Saya teringat dengan sebuah peristiwa kitab suci, ketika org Israel mempersembahkan korban. Ketika korban masih diolah, anak-anak Harun sudah memakan daging persembahan itu. Akhirnya turun Api Tuhan dan membinasakan mereka. Semestinya Orang Adonara perlu banyak belajar dari peristiwa macam ini.?Karena sedemikian sibuknya mengurus pakaian ini, sampai-sampai doa di tengah orang meninggal, hanya menempati posisi entah ke berapa.?Doa tak hanya kurang mendapat tempat, tetapi juga hampir-hampir tak dihargai bahkan dilecehkan.

Lihatlah bagaimana dalam upacara ini, sebagian warga lainnya lagi hanya duduk dan memandang dari jauh. Jangankan suara orang yang berdoa, bahkan orang yang bernyanyi lagu sedih pun, hanya terdengar sayup-sayup.?Sementara di kumpulan lain lagi, orang duduk ngobrol sambil merokok, seakan-akan ada pesta menyambut tahun baru atau pesta lainnya. Semuanya rata-rata mengaku Katolik.?Sebenarnya di mana tempat Agama Katolik di tanah ini? Apakah hanya sebagai pelengkap identitas? Agama sepertinya benar-benar dipandang sebelah mata. Tak digubris sama sekali.

Mengapa sampai terjadi demikian? Apakah sebagian orang Adonara ini sudah sedemikian suci tak bernoda, tak bercacat dan bercela, sehingga tak butuh agama lagi? Setidak-tidaknya pertanyaan ini merupakan buah dari apa yang tampak, yang bagi penulis sungguh tragis. Semoga ini hanya terjadi di beberapa tempat di Adonara jangan sampai merembet ke seantero pulau, apalagi ke segenap Bumi Lama Holot. Tapi kalau memang itu harus terjadi, marilah kita bersiap-siap menyongsong datangnya bencana. Karena tanah yang sudah semakin gersang membutuhkan pupuk agar bisa menumbuhkan tunas, bumi yang dahaga akan kebaikan akan meminta tebusan.

Tuhan Yesus telah wafat di kayu salib dan mencurahkan darah-Nya untuk menebus kita. Jika ini pun tak sanggup mengubah kita, lantas apa yang bisa mengubah kita??Dalam situasi seperti ini, saya pikir, jangan coba-coba kita sejajarkan diri kita dengan nenek moyang kita, yang walaupun ketika itu belum beragama, namun jiwa mereka begitu murni.?Penghayatan mereka tentang kehidupan sedemikian dalam. Sungguh jauh bedanya dengan kita di zaman ini.

Ini hanya masalah di satu sisi yang begitu kecil yang sempat ditulis. Masih begitu banyak hal yang lain, yang mungkin kurang pantas untuk ditampilkan, karena sebenarnya kalau memang kita punya malu, sungguh-sungguh sangat memalukan.
Tapi pertanyaan baru muncul, apakah kita masih punya malu?

Ya, Tuhan kami bersyukur kepada-MU. Karena sampai di batas yang terjal ini, Engkau masih berkenan melindungi kami. AMIN. (Bernadus Gana)