Home Serba-serbi Yesus makan bersama orang berdosa ?

Yesus makan bersama orang berdosa ?

635
0

Mengapa Gurumu makan dengan pemungut cukai dan orang-orang berdosa ?, itulah pertanyaan orang-orang farisi kepada murid-murid Yesus saat mengetahui Guru mereka duduk makan dan bercengkrama serta bersenda gurau dengan mereka yang “dianggap” berdosa oleh sementara orang.
Pertanyaan yang bertolak dari kesombongan dan keangkuhan hati, tidak saja terjadi pada masa hidup Yesus Kristus, tetapi juga masih terjadi pada saat ini, saat sekarang ini, dalam sebuah komunitas yang bernama “Gereja”. Kecongkakan hati kita telah membutakan mata dan perasaan.
Orang-orang yang setiap harinya selalu kelihatan di gereja, aktif dalam suatu komunitas terkadang merasa diri “lebih” dalam hal rohani dan merasa diri “dekat” dengan Yesus Kristus. Sehingga yang terjadi adalah terbentuknya suatu komunitas yang eksklusif. Dan karena merasa yang tidak aktif adalah orang-orang berdosa. Ya…karena berdosa, seseorang merasa diri tidak layak untuk datang kepada Tuhan, namun untuk datang kepada Tuhan dalam keadaan yang berdosa terkadang seseorang membutuhkan orang lain untuk mengajak, untuk menyapa dan untuk dibawa kepada Tuhan. Karena selain merasa diri tidak layak, akan muncul juga perasaan minder. Minder karena bukan merupakan bagian dari suatu komunitas yang eksklusif.
Bacaan hari ini mengatakan dengan jelas, bahwa pada saat Yesus beranjak dari tempat itu dan melihat Matius yang sedang duduk di rumah cukai dan lalu memanggilnya. Yesus tahu bahwa Matius mempunyai kerinduan untuk bertobat untuk dapat dekat dengan Tuhan, hanya saja, kerinduan itu tetap dipendam mungkin karena perasaan minder, minder karena dicap sebagai orang berdosa oleh sebagian orang “suci”, para Farisi.
Kiranya kita yang selama ini aktif dalam setiap kegiatan gereka tergerak hari untuk mencontohi Yesus dengan memanggil dan mengajak mereka yang merasa diri minder namun meliki kerinduan yang dalam untuk berjumpa dengan Tuhan untuk datang kepadaNya karena sesungguhnya yang diperlukan oleh yang minder-minder tadi adalah belaskasihan dari Tuhan.

Hans Hallan