Stigma NTT Miskin Harus Dihilangkan

STIGMA NTT MISKIN HARUS DIHILANGKAN (Dari acara makan malam bersama Gubernur NTT, Frans Leburaya)

Gubernur NTT, Frans Leburaya (Sabtu,15/10/2011), mengadakan jamuan makan malam bersama keluarga besar Flobamora Bali di Restaurant Tangie Denpasar. Di kesempatan itu, beliau banyak bercerita tentang NTT, dari isu Rawan Pangan hingga Desa Mandiri Anggur Merah, dari kehadirannya di Rapat Kabinet Indonesia Bersatu hingga seruan Gerakan Pulang Kampung (GPK), dari Provinsi Jagung, Koperasi, Ternak, Cendana hingga Provinsi Kepulauan.

Di bawah ini kami turunkan petikan sambutannya:

?Saya jarang datang ke Bali juga Jakarta, banyak waktu saya habiskan di NTT. Saya bersyukur bisa bertemu dengan Bapak Ibu di Bali. Pada kesempatan ini saya ingin bercerita tentang NTT dari waktu ke waktu? Ujarnya memulai.

STIGMA MISKIN
?NTT saat ini dari sisi pertumbuhan penduduk tergolong cukup tinggi, angka pertumbuhan penduduk 1,9% pertahun. Jumlah penduduk NTT sekarang 4 juta lebih, terbesar kedua setelah Sulawesi Selatan. Kita bisa membayangkan dari waktu ke waktu ada pertambahan penduduk, ditambah lagi migrasi. Dari keseluruhan jumlah itu, jumlah Perempuan lebih besar dari Laki-Laki. Dengan menyebutkan jumlah perempuan lebih besar dari laki-laki bukan berarti saya mengajak untuk mengambil Istri lebih dari satu? Candanya.

?Angka pengangguran di NTT berkisar pada angka 3,9% dan angka kemiskinan di atas 21,22%. Saat saya menerima jabatan Gubernur NTT, angka kemiskinan diatas 27,25%. Ini artinya ada pengurangan yang cukup baik. Kalau kita bicara mengenai Indeks Pembangunan Manusia (IPM), NTT ada di urutan 31 dari 33 Provinsi. Urutan 32 itu NTB dan urutan 33 dipegang Papua. Stigma NTT miskin harus dihilangkan, kita harus berpikir lebih bebas. Berbagai program tengah dan akan terus dilaksanakan. Bagaimana cara menarik perhatian Pemerintah Pusat?

RAPAT KABINET INDONESIA BERSATU
Saya diundang ke Istana Negara untuk memaparkan tentang kondisi NTT. Semula saya berpikir akan bertemu Menko Ekonomi dan jajaran kementerian terkait. Ternyata saya diminta memaparkan tentang kondisi NTT dalam Sidang Paripurna Kabinet Indonesia Bersatu. Respons Presiden dan para Menteri luarbiasa, pertemuan berlangsung sekitar 1 jam.

Setelah itu Presiden menyimpulkan akan tidur 3 malam di NTT, para Menteri diminta siapkan Program Percepatan Pembangunan NTT. Saya ingat waktu itu tanggal 2 Februari 2011. Saya ingat karena ini menurut saya bersejarah, 2.2.11 jika dijumlahkan menjadi 8. Saya bukan penganut Fengshui tapi kata orang angka 8 itu angka baik.

Pak SBY akhirnya datang ke NTT. Saya lalu meminta Inpres Khusus untuk Percepatan Pembangunan NTT. Saat ini sedang di bangun Pabrik Garam (Mbay, Kupang, Ende). Garam di Mbay garam yang paling berkualitas sebab laut masih bersih dan musim panas yang panjang.

BANGGA MAKAN JAGUNG
Di NTT kita dorong menjadi Propinsi Jagung. Jagung untuk dimakan, untuk Agribisnis dan untuk pakan ternak. Saya makan Jagung, semua kita makan jagung, yang mau mengangkat martabat pangan kita adalah kita sendiri. Produksi Jagung memang belum cukup banyak, panen kemarin sekitar 500 ribu ton, kita usahakan 1 juta ton. Setiap tahun kami adakan traktor. Memang traktor mahal tapi untuk rakyat tidak masalah. Sekarang kita mengadakan lagi 30 unit traktor. Bayangkan, jagung di Kupang datang dari Surabaya dan Makasar.

GUDANG TERNAK
Kita mesti kembalikan NTT sebagai gudang ternak. Saya dapat laporan kemarin dari kepala BPS. Untuk meningkatkan populasi sapi adalah menekan angka kematian anak sapi. Sumba dan Timor kita dorong ternak besar. Di Flores kita dorong ternak kecil (Babi, Kambing). Ternak di NTT itu untuk Ekonomi, Gizi dan Harga diri. Unggas saya ajak Carum Popa. Bikin produksi anak ayam di Kupang. Pasti akan menggairahkan peternak ayam dan pakan ternak. Orang NTT itu suka pelihara ayam tapi untuk tamu.

PERKUAT KOPERASI
Produksi pertanian semakin hari meningkat tapi posisi tawar petani lemah. Cara menaikan posisi tawar petani, dengan kelembagaan yang baik NTT kita dorong menjadi Provinsi Koperasi. Koperasi bertumbuh cukup baik. Saya di hampir di setiap RAT Koperasi saya datang. Koperasi di NTT yang terbaik ada di Maumere, (Obor Mas), di Ngada (Sangosai), dan di Atambua (Bintang Sejahtera).

WANGI CENDANA
Kita memang mesti mengembalikan Cendana. Banyak yang sinis dengan upaya ini dan bilang bahwa tidak akan mendatangkan hasil apa-apa. Saya bilang bahwa kita mesti melakukan ini. Ini bukan urusan popularitas sebab untuk mendapatkan hasil akan memakan waktu yang lama. Cendana akan berproduksi 30 tahun mendatang. Tapi tidak apa-apa.

DESA MANDIRI ANGGUR MERAH
Saat ini kita melakukan Program Desa Mandiri Anggur Merah (Anggaran Untuk Rakyat Menuju Sejahtera), mulai tahun 2011 kita telah anggarkan setiap desa 250juta/desa/perkecamatan. APBD Propinsi NTT hanya 1,2 trilun saja. Kita mesti menyisihkan 85 Miliar untuk Desa Mandiri Anggur Merah. Caranya dengan memangkas dana pengeluaran umum, uang jalan dan honor pegawai. Saat kami punya 287 pendamping di 287 desa. Tahun 2012 kita akan mengalokasikan 291 desa. Setelah program ini berjalan, AusAID merespon upaya ini dengan positif dan akan mengalokasikan dana mereka untuk kepentingan Pendampingan Kelompok Masyarakat.

RAWAN PANGAN
Kondisi ketahanan pangan kita masih cukup. Kita masih punya 180-an ribu ton beras. Di NTT untuk konsumsi beras 58 ribu ton. Jadi 3 bulan ke depan masih aman. Pada kesempatan ini saya juga ingin menyampaikan tentang isu rawan pangan. Di banyak pemberitaan menyebutkan NTT Rawan Pangan, seperti di Desa Uluwae Ngada, Oekiu di TTS. Saya kemudian datang ke desa-desa itu dan tidak terjadi seperti yang diberitakan.

Desa Oekiu itu dikabarkan masyarakatnya makan asam, setelah saya cek ternyata memang di Oekiu penghasil asam. Masyarakatnya menanam asam, panen menjual dan beli beras. Di Uluwae itu wilayah persawahan. Hampir semua tempat di NTT, punya kearifan lokal di musim kemarau. Di Nagekeo ada Ondo (Umbi Hutan), memang pemahaman tentang pangan selalu identik dengan beras. Sekarang saya mengkampanyekan pangan lokal.

Masyarakat kita mesti kita dorong untuk mengolah pangan sebaik-baiknya. Di NTT hanya 150 ribu hektar sawah dan 1,5 juta lahan kering. Jadi wajar beras itu mesti didatangkan dari luar NTT. Saya juga bertemu WFP (World Food Programe) yang biasa membagikan biskuit sereal, saya meminta mereka untuk menyetop model seperti itu dan kini mereka sedang melakukan ujicoba mengolah pangan lokal.

PROVINSI KEPULAUAN
Memang banyak orang terutama orang Flores yang bilang saya mengalihkan Provinsi Flores ke Provinsi Kepulauan. Propinsi Kepulauan mesti memiliki fondasi undang-undangnya. Dulu pernah dialokasikan dana untuk Propinsi Kepulauan ini, namun karena fondasi belum ada maka akhirnya tidak berjalan lagi.

Di Propinsi Bali untuk mengunjungi Kabupaten/Kota, Pak Gubernur hanya butuh waktu satu hari dengan jalan darat saja. Maka di NTT tidak bisa seperti itu, kita memerlukan waktu berhari-hari, menggunakan jalan darat, laut dan udara. Kita memerlukan semua angkatan. Ini membutuhkan dana yang tidak sedikit. Hitungan tanggung jawab lautan memang 12 mil dari garis pantai, tetapi bagaimana kita mau kontrol banyak kasus pencurian ikan dan lain-lain setelah batas laut itu. Ini banyak terjadi. Nah, jika ada kapal motor yang tenggelam di lautan sawu, Gubernur NTT yang ditanya tetapi hal-hal yang mestinya dilakukan tidak terjadi.

Di NTT ada 14 bandara konsekuensi dari Provinsi Kepulauan. Tekadnya membangun sebuah bandara yang besar di Flores pilihannya di Mbay (Surabaya II). Kita sudah serahkan draft, janji mereka akhir tahun ini ditetapkan regulasi Provinsi Kepulauan.

KOMODO
Mengenai Komodo mungkin kita sudah dengar pemberitaan. Secara resmi Pemerintah Indonesia melalui KeBudpar menolak News 7 Wonder, tapi bagi saya polemik Komodo justru untungkan kita. Orang kemudian penasaran dan ingin melihat Komodo. Banyak orang melakukan kampanye mengenai Komodo, misalnya ada Chicaho Nigths dll. Beberapa waktu lalu saya juga di telepon Pak Jusuf Kalla dan meminta bersama-sama mengkampanyekan Komodo. Saya setuju dengan Pak Kalla. Ayo bagi warga di Bali teruslah mengkampanyekan Komodo ini.

GPK
Di berbagai kesempatan saya juga mengkampanyekan GPK yaitu Gerakan Pulang Kampung. Mari pulang kampung, ingat kampung halaman, jangan lupa tanah tumpah darah. Pulang kampung, hatinya yang dibawa.

(Dokumen Birolitbang Flobamora Bali 2011)

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password