Setelah Menanti Selama 14 Tahun

Setelah menanti selama 14 tahun umat paroki St. Ignatius-Waibalun keuskupan Larantuka akhirnya ?melahirkan? lagi seorang Imam baru. Terakhir tahun 1998 umat paroki St. Ignatius-Waibalun?menyambut seorang imam baru dari serikat Sabda Allah (SVD ) Pater Fransiskus Lawe Kerans, SVD yang ditahbiskan di Jepang dan kini bertugas di keuskupan Agung Ende. Sejak saat itu tak ada lagi putra Jong Kudi (sapaan pemuda Waibalun) yang terpanggil menjadi pelayan Allah. Sejak saat itu Waibalun sepertinya tertidur. Dan? pada tanggal 03 November 2012 yang lalu umat paroki St. Ignatius-Waibalun?kembali menyambut seorang imam baru, dengan pawai dan arak-arakan di sepanjang jalan utama paroki tersebut.

Rm Nggino Tukan, Pr. Bersama 13 rekannya ?ditahbiskan menjadi Imam oleh Mgr Petrus Turang, Pr ?di Gereja Kathedral Kristus Raja Kupang ?(24/12/2012). Dengan moto tahbisan “a Deus Factum est” : semuanya terjadi karena Tuhan, Putra Waibalun berdarah Ende merayakan misa perdana dalam suasana syukur dan meriah bersama para imam dan umat di Gereja Paroki St Ignatius Waibalun.

?Akan peristiwa langka ini maka pantaslah kita bersyukaria karena kemurahan Tuhan atas rahmat panggilan yang diberikan kepada Putara sulung kelurga ini untuk bekerja di ladang Tuhan? Demikian dijelaskan Ketua DPP St Ignatius Waibalun, Venansius Hallan dalam acara syukuran Misa Perdana Rm. Nggino Tukan, Pr di lapangan sepak bola Jong Kudi Waibalun (Minggu,04/11/2012)

?Peristiwa hari ini hendaknya kita syukuri dan direnungkan bersama. Mengapa benih panggilan yang dulu begitu subur kini menjadi sesuatu yang langka bagi kaum muda kita. Mengapa umat Waibalun harus menanti selama 14 tahun. ?Hendaknya hal ini menjadi pertanyaan reflektif untuk direnungkan kembali.?

Hadir pada kesempatan itu Bupati Flores Timur Yoseph Lagadoni Herin, S. Sos, Wakil Bupati Flores Timur Valentinus Tukan, S.Ap, Ketua? DPRD Flores Timur, Drs Marius Payong Pati, Sekda Flores Timur, Anton Tonce Matutina,BA,SH, Sekda Lembata Petrus T. Atawolo, Deken Larantuka, Rm Bernardus Bala Kerans, Pr, para imam dan birawan-biarawati serta para umat dan undangan lainya.

Dalam sambutanya, Bupati Yosni menyampaikan apresiasi dan proficiat kepada keluarga akan peristiwa ini. Peristiwa hari ini menjadi kerinduan umat selama 14 tahun. Waibalun salah satu wilayah di paroki st Ignatius Waibalun tidak lagi melahirkan seorang imam baru. Peristiwa ini juga menjadi sejarah tersendiri bagi kita semua karena Rm. Nggino Tukan menjadi satu-satunya imam projo pertama dalam kurun waktu 50 tahun terakhir.

Lebih jauh Bupati Yosni mempertanyakan mengapa peristiwa pentabisan saat ini menjadi sebuah peristiwa yang langka. Mengapa kaum muda di wilayah ini sangat sedikit terpanggil menjadi klerus. Apakah keluarga yang merupakan seminari dasar telah kehilangan arah dan tujuan sebagai keluarga katolik sejati? Dan apakah lembaga pendidikan katolik telah kehilangan militansi dalam menanamkan benih panggilan di jaman sekarang ini. Dalam diskusi lepas dengan seorang pastor, Bupati Yosni mengungkapkan bahwa yang katolik di Flores itu tinggal pulaunya saja.

Berkenaan dengan moto yang dipilih, Rm Nggino, mengakui bahwa panggilan hidupnya menjadi imam bukanlah kehendaknya sendiri, namun atas campur tangan dan karya Tuhan. ?Apapun pilihan hidup kita, kita bekerja bukan untuk diri kita tetapi untuk orang lain. sebagai kepala keluarga, susah dan jerih payah kita pada akhirnya diperuntukan untuk keluarga (isteri dan anak). ?Begitu juga sebagai imam ia bekerja untuk umat?.

Pada acara tersebut ditampilkan profil perjalanan hidup sang yubularis yang dikemas dalam perpaduan dua budaya, Ende dan Lamaholot. Acara tersebut diakhiri dengan pelepasan burung merpati putih sebagai lambang ketulusan hati keluarga melepaskan putranya berkarya di tanah Timor. (din)

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password