Semana Santa – Larantuka

Kota Larantuka sering disebut Kota Reinha atau Kota Bunda Maria.

Terletak pada 8,4 derajat lintang selatan dan 123 derajat bujur timur, sisi Selatan kota ini langsung turun ke laut, sedangkan utara langsung mendaki Gunung Ile Mandiri. Dengan kondisi seperti ini, Larantuka bertumbuh dan berkembang dari barat ke timur sepanjang lebih dari 10 km.

Menurut cerita teman yang berasal dari Maumere, siapa pun yang pernah ke Larantuka dan kembali lagi ke sana dalam rentang waktu lama, hampir pasti tidak menangkap perubahan yang terlalu luar biasa. Dari dulu, Kota Reinha itu tetap sepi dan tenang, stabil dan statis. Banyak orang kemudian menilai, kota ini lebih cocok sebagai kota tempat peristirahatan, menghabiskan masa tua, menyepi dari hingar-bingar kegemerlapan dunia modern

Namun, selama sepekan sebelum Paskah, Larantuka menjadi penuh pesona dan daya tarik yang sasat nuansa kerohanian khas Katolik. Hari-hari itu, Larantuka kebanjiran para peziarah. Jalanan terlihat lebih ramai. Tempat-tempat penginapan telah penuh, karena di-booking berbulan-bulan sebelumnya. Peziarah banyak terlihat di Larantuka. Mereka, membulatkan semangat menaikkan nazar dalam devosi kepada Tuan Ma (Bunda Maria) dan Tuan Ana (Tuhan Yesus).

Dalam tradisi Larantuka, serangkaian ritual rohani, upara keagamaan pada masa ini disebut semana sancta (semana = seminggu/sepekan, sancta = kudus) atau yang dalam tradisi Gereja Katolik disebut pekan suci.

Mengapa orang Katolik Larantuka masih tetap mewarisi ritual kegamaan yang ditinggalkan bangsa Portugis itu secara lengkap? Sejarah tradisi menjadi jawabannya. Portugis yang datang untuk berdagang rempah-rempah, termasuk cendana dari Pulau Solor dan Timor, pada abad ke-16 berpusat di Lohayong Solor Timur. Saat benteng pertahanan yang dibangun Portugis di Lohayong itu direbut oleh Belanda Portugis Pindah ke Larantuka sebagai wilayah yang aman.

Ketika berada di Larantuka itulah, imam-imam Portugis datang kepada Raja Larantuka dan mempermandikan Raja beserta keluarganya menurut iman Katolik. Mulai saat itu juga muncul semboyan di Larantuka, raja adalah penguasa wilayah, penguasa pemerintahan, adat dan agama.

Rangkaian Prosesi Paskah :

1. Rabu Trewa, Rabu terbelenggu

JIKA di tempat-tempat lain, hari Rabu dalam pekan suci tidak terasa gema dan maknanya, maka di Larantuka sudah sejak dulu hari Rabu dalam pekan suci — seperti hari ini — disebut dengan Rabu trewa. Tradisi Rabu trewa memang unik dan hanya ada di Larantuka dan sekitarnya.

Disebut trewa karena berdasarkan sejarahnya pada hari ini Yesus dibelenggu dan dia menjadi awal dari kisah sengsara Yesus Kristus. Di Larantuka, hari ini merupakan hari terakhir atau hari penutupan semana santa (umat Katolik di Larantuka menyebut semana santa yang merupakan giliran Kapitan Jentera Kampung Larantuka sebagai koordinator. Doa semana santa dihantar oleh mama muji (ibu-ibu penyanyi dalam bahasa Latin atau Portugis).

Sejak Rabu, umat Katolik Larantuka memenuhi dua kapela, yakni Kapela Tuan Ma di Pantai Kebis, Kelurahan Larantuka dan Kapela Tuan Ana di Kelurahan Lohayong.

Pada pagi ini diadakan doa di Kapela Maria dengan upacara yang diatur secara baku oleh suku-suku yang telah mentradisi. Sedangkan pada sore hari ini diadakan lamentasi (ratapan Nabi Yeremia) di Gereja Katedral Reinha Rosari, Larantuka. Lamentasi dilakukan menurut ritus gereja Katolik.

2. Kamis Putih

Pada hari Kamis Putih siang juga dilakukan upacara ?muda Tuan?, yakni upacara pembukaan peti yang selama satu tahun ditutup oleh petugas confreria yang telah diangkat melalui sumpah. “Pada saat itu pula arca Mater Dolorosa dibersihkan dandimandikan lalu dihiasi. Setelah itu kesempatan diberikan kepada umat untuk menyembah/bersujud dengan menyampaikan promesa (intensi-intensi khusus) berupa mohon berkat dan rahmat Tuhan. Umat yakin, Bunda Maria akan membawa doa dan permohonannya kepadaTuhan Yesus (Per Mariam ad Yesum). Sedangkan pintu Kapela Tuan Ma dan Tuan Ana baru dibuka pada Kamis Sore oleh Raja Keturunan Diaz Viera de Godinho

Seperti tradisi Gereja Katolik sejagat, pada Kamis Putih malam, di Gereja Reinha Rosari diadakan perayaan ekaristi pembasuhan kaki 12 rasul yang dilanjutkan dengan adorasi (penyembahan) umum, doa bergilir di depan sakramen Maha Kudus, mencium Tuan Ma di Kapela Tuan Ma, dan mencium Tuan Ana di Kapela Tuan Ana. Yang unik, pada tahap ini disiapkan secara sukarela empat orang untuk melakukan promesa lakademu. Tugas lakademu (Nikodemus) hanya dari Gereja Reinha Rosari sampai ke Kapela Tuan Ana selama prosesi Jumat Agung malam. Para anggota lakademu ini memeriksa rute perjalanan dan mengecek kesiapan armida-armida (tempat perhentian). Aksi jalan-jalan melakukan ?inspeksi? ini disebut jalan kure. Para lakademu berjalan bergandengan tangan sepanjang rute prosesi dan berhenti di tiap armida memeriksa keamanan jalan dan keadaan sekitar delapan armida itu.

3. Jumat Agung

Menurut sejarahnya, ketika awal-awal digelar prosesi ini, nuansa dan kesan tobat, syukur begitu mewarnai. Makna itulah yang terus dipelihara, dijaga dan dipertahankan hingga hari ini. Tak ayal, umat Katolik Larantuka menyebutnya dengan ?sesta pera?. Prosesi Jumat Agung merupakan perarakan mengantar jenazah Yesus Kristus setelah disalibkan. Sebetulnya yang inti adalah Yesus yang tersalib dan wafat. Sedangkan Bunda Maria adalah ibu yang bersedih, bunda yang berduka (mater dolorosa), karena kehilangan puteranya.

Dalam pelaksanaannya, perjalanan prosesi mengelilingi Kota Larantuka menyinggahi 8 armida/perhentian (lambang 8 suku yang berfungsi) yaitu :
1. Armida suku Mulawato (Pantai Besar) di Kelurahan Lohayong dan Pohon Sirih.
2. Armida umat Sarotari di Pohon Sirih dan Balela, yang berpelindung Amu Tuan Meninu (Tuan Bayi Anak).
3. Armida Suku Amakelen dan ama Hurint Balela di Kapela St. Philipus Balela
4. Armida Suku Kapitan Jentera dengan pelindung Amu Tuan Trewa (Tuan Terbelenggu).
5. Armida Suku Riberu da Gomes di depan Kapela Tuan Ma.
6. Armida suku Sau/Diaz di Kapela Benteng Daud/Pohon Sirih dengan pelindung St. Antonius dari Padua.
7. Armida keluarga Raja Diaz Viera de Godinho di Armida Kuce di depan istana Raja Larantuka
8. Armida suku Amaleken Lewonama di Kapela Tuan Ana. Di Armida ini, prosesi berarak kembali menuju Gereja Katedral sebagai akhir dan pusat dari prosesi Jumat Agung. Di armida ini juga Yesus diturunkan dari Salib dan diletakkan pada pangkuan Bunda Maria. Di sini akhir dari sengsara Yesus, dimana seluruh umat dihantar Yesus masuk ke dalam Gereja Reinha Rosari Larantuka.

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password