SAYA : “IBU SEORANG ANAK AUTIS” Oleh : TH. Yansye Derozario

Tidak pernah terlintas dalam benak saya mempunyai anak dengan kebutuhan khusus yakni Autis. Selama sembilan bulan mengandung, tak pernah ada keluhan dan semua pantangan selama kehamilan saya patuhi dengan baik. Sehingga pada tanggal 7 April 2006 saya melahirkan seorang bayi laki-laki secara normal dan bayiku sehat dengan berat tiga kilogram dan panjang 50 cm.

Ventor di usia 10 Tahun

Waktu pun berjalan Ventor putraku tumbuh layaknya anak normal. akupun tidak menemukan adanya keanehan pada dirinya. Di usia balita ventor mengalami 2 kali kejang (stepe) yakni di usia 4 bulan dan 8 bulan. Hal itu berlangsung kurang lebih satu menit. Sejak bayi , Ventor tidak mau minum susu instant. Satu-satunya susu yang disukai hanyalah Air Susu Ibu (ASI). Ventor baru bisa berjalan di usianya 2 tahun, tanpa melalui tahap merangkak.

Semakin hari Ventor bertambah besar dan mulai nampak perbedaan dengan anak-anak seusianya. Ventor tidak mau bergaul dengan anak-anak seusianya. Ventor pun belum bisa berbicara bila menginginkan sesuatu. Dia hanya bisa menarik tangan saya sambil menangis di saat menginginkan sesuatu. Kata-kata yang diucapkan sulit dimengerti. Kebiasaan ventor suka mengeloksi kemasan jajanan sampai ratusan. Jika salah satu bungkus jajanan hilang ia bisa mengetahuinya pada hal ia belum bisa berhitung. Dan ini menjadi tanda tanya besar buat saya. Saya pun belum menyadari bahwa Ventor masih baik-baik saja seperti anak normal lainnya.

Perkembangan perilaku Ventor sepertinya mengarah ke ciri-ciri anak Autis, semenjak itu kami mencari tahu kebenarannya. Seorang dokter ASKES di RSUD Larantuka menyarankan kami untuk memeriksa Ventor ke dokter Spesialis Anak. Ternyata benar anakku mengalami  gangguan pada perkembangan otak yang menyebabkan penderitanya menjadi hiperaktif, impulsif, serta susah memusatkan perhatian atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Awalnya kami tidak bisa menerima keadaan ini, namun kami percaya Tuhan pasti punya rencana lain buat Ventor. Kami adalah orang tua yang dipercayakan Tuhan dari sekian banyak orang tua untuk membesarkan anak-anak seperti Ventor. Hal itu yang menjadi alasan penerimaan keadaan Ventor bagi saya dan suami.

Saat itu Ventor telah berusia 7 tahun dan masih bersekolah di salah satu TKK swasta di Larantuka Kabupaten Flores Timur. TKK asuhan para suster Fransiscanis ini  merupakan sekolah ketiga tempat Ventor menimba Ilmu.  Dua sekolah sebelumnya Ventor diberhentikan dengan berbagai alasan seperti selalu aktif dan tidak bisa diam, susah untuk memusatkan perhatian,  tidak bisa duduk dengan tenang. Semuanya itu kami simpan dalam hati dan bukan menjadi salib bagi kami orang tua.

Minimnya fasilitas sekolah untuk anak yang berkebutuhan khusus di kota kecil seperti Larantuka menjadi kendala tersendiri bagi perkembangan anak seperti Ventor. Sebagai orang tua, kami sendiri harus menjadi Guru terapinya. Mungkin ini salah satu rencana Tuhan kepada kami, untuk lebih banyak meluangkan waktu untuk Ventor.

Ventor pernah diterapi selama dua bulan di Kupang, meski hasilnya belum maksimal. Selama di Kupang ventor diajarkan beberapa hal dan mulai menunjukkan perkembangan. Ventor sudah bisa mengucapkan kata-kata yang sudah bisa dimengerti. Namun karena tugas sebagai ASN saya harus kembali  ke Larantuka Kabupaten Flores Timur.

Hadirnya Frank, Ventor menjadi Pencemburu

September Tahun 2009,  saya melahirkan Frank adiknya Ventor. Usia mereka terpaut enam tahun. Wajar Ventor menjadi egois dan pencemburu karena sekian lama semua perhatian kami tercurah hanya untuknya. Ventor melarang saya tidak boleh tidur dengan adiknya Frank, sepertinya ada sesuatu yang dirampas dari miliknya. Saya bersama suami harus menanamkan pengertian kepadanya bahwa Ventor telah memiliki seorang adik. Lambat laun Ventor bisa menerima semuanya itu. Frasa ‘selalu menyayangi’ selalu diingatnya. Dalam kesehariannya Ventor  tidak pernah memukul Frank. Setiap kali ia pulang ke rumah yang pertama dicari adalah adiknya Frank. Meski Ventor kelihatan cuek namun masih bisa berinteraksi dengan adiknya. Memeluk dan mencium adiknya kadang ia lakukan. Ventor lebih suka larut dalam kesibukannya sendiri seperti bertepuk tangan, berloncat-loncat atau pun menggerakkan tangannya dibawah cahaya membentuk bayangan. kebiasaan ini dilakukan terkadang sampai larut malam.

Dalam keterbatasannya  ternyata ventor menyimpan sejumlah potensi. Daya ingatnya akan angka dan bahasa asing (inggris) luar biasa. Ventor bisa menyebut angka dari 0 s/d 10000-an dalam bahasa Inggris. Begitu pun dengan beraneka ragam warna. Kegemarannya mendengar lagu daerah melalui MP3 speaker membuatnya begitu mengahafal setiap judul lagu dan nomor tracknya yang jumlahnya mencapai ratusan.

Mengejar Keterlambatan

Ventor (5 Thn) bersama Frank (2 thn)

Di penghujung tahun 2012 saya dikenalkan dengan seorang pengusaha asal Solor yang sudah lama menetap di Jakarta. Putranya juga anak berkebutuhan khusus (Autis). Dalam sharing, saya menyadari bahwa Ventor  hampir tidak pernah mengayunkan kedua tangannya di saat berjalan sebagaimana biasanya anak-anak pada umumnya. Di sisi lain kekosongan pikiran  Ventor perlu di isi  dengan berbagai hal agar dia bisa mengurangi kebiasaannya seperti berlari-lari, menepuk tangan dan menepuk dada.   Ternyata perkembangan kognitif dan psikis Ventor mengalami keterlambatan setara dengan usianya saat ini. Meski secara fisik usia Ventor saat ini 7 tahun namun sebetulnya secara psikologis Ventor masih seperti anak dalam usia 2 atau 3 tahun.

Beberapa terapi yang kami jalani untuk mengejar keterlambatan ini dengan mengulangi beberapa fase yang dahulu terlewatkan di saat Ventor masih bayi; seperti merayap dan merangkak. 8 hingga 10 meter Ventor harus dibimbing untuk melakukan hal ini setiap hari. Kondisi fisik Ventor pun rentan terkena sakit seperti malaria, pilek atau batuk sehingga kami harus ekstra hati-hati menjaganya.

Sebelumnya ventor hanya bisa melakukakan kontak mata kurang dari 3 detik sekarang sudah lebih dari 10 detik.  Di saat merayakan misa penutupan Tahun 2012 Ventor hanya menepuk tangan satu kali, berbeda dengan sebelumnya. Saya harus bersusah payah menjaga Ventor agar tidak membuat keributan di gereja. Satu hal yang cukup mengagumkan bahwa pada tanggal 05 maret 2013 menjadi moment  yang begitu berarti bagi kami. Untuk yang pertama kalinya Ventor membawakan hasil pelajaran mewarnai berupa secarik kertas untuk diperlihatkan kepada saya. Mungkin bagi kebanyakan orang tua hal ini dianggap sepele namun bagi kami ini begitu berarti. Kami tidak peduli apa yang dikatakan orang tentang Ventor yang terpenting bagaimana Ventor bisa berkembang dan mengejar ketertinggalan setelah keterlambatannya.

Saat ini ventor telah duduk di bangku SD kelas IV di salah satu SD swasta di Kota Kupang. Berbekal pendidikan Khusus autis di SD Asumpta, ventor diperbolehkan melanjutkan pendidikan di sekolah yang sama. Terakhir kami mengunjungi ventor di liburan lebaran tahun ini,  beberapa kemajuan sudah nampak dari dirinya. Ia sudah bisa membaca dan menulis, berhitung dan bernyayi dan lebih menggembirakan ia sudah mandiri dalam mengurusi dirinya. Bersama mama Yanti dan Bapa Chris sapaan untuk kakaku yang menjadi orang tua ventor di Kupang membuat dirinya semakin matang dalam belajar. Tak ada yang mustahil di mata Tuhan selagi kita berusaha dan berharap. Seperti itulah harapan ventor saat ini.  Selagi aku bernafas, aku berpengharapanDum spiro, spero.”. (tulisan ini pernah dimuat di Warta Flobamora 2013)

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password