Satu Cerita Kecil dari Seberang

Suatu hati di KT (Kelompok Tani) – 3

Hari panas ?terasa mau mengoyak raga. Jalanan berdebu tak masalah meski harus ngos-ngosan melewati perkebunan DL sitorus di pedalaman Sumatra Utara. Dengan sebuah “blue Kijang”, mobil pinjaman,yang awet mesinnya tapi sabar dulu body-nya dan berderak-derik seirama jalanan tanah putih yang bergelombang, ?kami merangsek perlahan seperti waktu latihan rangsek di lapangan bola kaki A saat pertama kali masuk THS-THM ke sesado bersama Best Tukan, Ignas Kaha, Henry Bala dan lainnya. Setelah dipuaskan dengan roti tawar ditemani segelas kopi dan dipurnakan sebatang “GP” perjalanan hari ini diawali. Tiga jam perjalanan terlewati akhirnya berujung di sebuah perkampungan yang dipadati dengan orang-orang Nias yang hidup bersesak2an di dalam rumah papan yang dibangun bergandengan. Begitu tiba semua di dalam “blue Kijang” bingung dengan ?transfigurasi yang terjadi pada masing-masing orang lantaran debu setebal satu mili hampir membuat setiap orang mirip patung nene domi di depan pendopo sesado. Kebingungan semakin bercampur aduk ketika harus membasuh muka. Di kamar mandi yang yang beratapkan langit biru cuma ada air di sebuah drum minyak yang warnanya nyaris seperti rebusan daun kol yang siap disajikan untuk makan siang para siswa sesado kala itu. Mau tak mau, tutup mata langsung basuh muka. Dalam hati sedikit menghibur diri: “bayangkan saja di di depan ini adalah air dari mata air di Boru Klobo”. ?Bagai makan siang ala sesado tutup mata sambil menelan nasi ditemani sebuah pisang atau sepereenam buah advokat sembari membayangkan ayam panggang biar makannya bisa berakhir.

Sebagai seorang “yang tertahbis” mau tak mau kubiasakan diri untuk membawa semua perlengkapan misa dari pusat paroki. Dan praktisnya lebih dahulu ke gereja untuk menyiapkan alat misa sekaligus siap diri untuk rayakan ekaristi sambil menanti umat. Ternyata yang disebutnya Gereja bukanlah yang seperti yang dibayangkan layaknya Kapela sesado. Itu hanya dikosongkan sebuah rumah tempat tinggal dengan tempat duduk yang dibuat sekenanya dari papan dipaku tanpa gunakan siku atau waterpas. Belum mulai misa, umat ?datang satu persatu dari beberapa kompleks perumahan kebun sawit milik DL Sitorus. Bayangkan saja ada yang harus menempuh satu jam mengendarai “kereta” (lazim sebutan untuk “sepeda motor”), itu artinya luas perkebunan ini bisa mencapai ribuan hektar are. Dan yang datang satu persatu pun masih sempat parkir di rumah2 tetangga untuk menghabiskan satu dua batang rokok.

Hari ini ada pembaptisan anak. Dua nama bayi yang disodorkan. Jangan heran dengan nama, soalnya nama santu/santa hampir ada di luar kalender orang kudus. Mesti kerja ekstra untuk memilih nama baptis. Lebih mengharukan waktu mau misa. Salah satu calon baptis cuma ditemani sang ibu yang masih protestan. Ketika ditanya tentang keberadaan sang ayah, ibu anak itu cuma bisa menangis dan katakan kalau suaminya tadi hanya sempat mengantar mereka ke gereja. Ternyata hal ini sudah berlangsung dua tahun. Sang suami hanya mengantar istri dan anak ke Gereja. Sang suami yang Katolik cuma menitip pesan bahwa nanti pastornya akan baptis anak ini. Beliau absen karena katanya tak pandai berdoa. Satu hal yang menyakitkan sebenarnya. Dan terpaksa permandian salah satunya ditunda dulu. Apalagi orang tua dulunya menikah di Gereja HKBP dan belum diperbaiki perkawinannya.

Perayaan hari itu dimulai pukul 12.00. Di tengah udara pengap lagi panas dan gemuruh truk pengangkut sawit yang lalulalang di jalan yang tepat berada di belakang jendela Gereja perayaan ekaristi berlangsung dengan nyanyian dari Puji Syukur yang bisa dinyanyikan dengan not baru. Mungkin kalau itu ada Kak Lukas Laot, ?Sirilus Lela, Ferry Koban atau Reu Pius Lawe hanya bisa senyum senyum kecil. Belum lagi ?jawaban umat yang ?beraneka ragam. Namun rasanya cukup punya hikmah karena semua berdoa dengan khusuk sambil terdengar beberapa kali tangisan anak kecil minta diberi minum dan tak tahan di dalam ruangan kecil yang penuh sesak dengan sekitar dua puluhan umat dewasa.

Setelah perayaan ekaristi ada makan bersama. Ini cerita menarik karena makan ala batak. Tanpa kursi. Duduk dilantai beralaskan tikar. Seperti “nonto file hata langsu tebo”. Dibagikan makanan dari satu sudut ruangan. Mula-mula sebuah ?piring berisi nasi setinggi gunung lewotobi diedarkan. Satu demi satu sesuai jumlah orang yang hadir. Berikutnya beberapa seleru kecil berisi ikan air tawar yang dipepes plus gulai daging ayam. ?Tak ada senduk makan. Sikat saja. Pas seperti kalau sedang bolos ke Wolorona dan sekitarnya. Yang penting makan enak. Masing-masing orang dapat satu porsi, segelas air dan satu mangkok berisi air cuci tangan sebelum memasukan makanan ke dalam mulut. Dan akhirnya acara makan siang pun dimulai setelah diantar dengan doa.

Sebelum senja datang, kami bergegas meninggalkan KT (Kelompok Tani) 3. Agaknya harus dipercepat karena langit sudah mulai mendung. Cerita akan berubah jika ada angin yang lewat karena langsung membawa hujan. Beda dengan di kampung-Flores. Kalau langit mulai menghitam dan datang angin maka tak jadi hujan karena awan hitam dibawa pergi oleh angin. Dan kalau datang hujan maka perjalanan kembali akan bisa mencapai 6 jam bahkan kapan tiba pun masih dalam tanda tanya. ?Umumnya ruas jalan menuju ke ?ribuan hektar perkebunan sawit ini tanpa aspal maka bila musim kemarau “mandi debu” dan bila datang hujan “mandi lumpur”. Jangan juga coba-coba percaya diri untuk pergi sendirian kalau belum hafal jalan karena semua jalan dan persimpangan di pekebunan itu selalu sama. Tambahan lagi, kadang bisa keliru dengan banyaknya bangunan Gereja milik orang protestan yang mencapai dua puluhan sekte tersebar di mana-mana. Di tengah-tengah perkebuanan Sawit tak dijumpai rumah penduduk apalagi beberapa tempat “no sinyal”. Kalau ?sempat tersesat maka tinggal “duduk menangis”.

Ini baru satu kisah dari sekian banyak kisah yang terlewati beberapa bulan keberadaanku di wilayah keuskupan Padang yang begitu luas karena mencakup propinsi Sumatra Barat, Riau Daratan, sebagian Sumatra Utara dan sedikit dari wilayah propinsi Jambi ditambah dengan empat pulau di wilayah Mentawai. Satu hal yang membuatku betah karena “Ziarah ini ?sebuah pilihan” dan tetap jadi pilihan karena banyaknya dukungan dari teman-teman mantan almamater tercinta SESADO. Horas…mauliate/epanggawang.

Rm. Harto Wain, Pr

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password