Sapu Lidi (sebuah rumah impian) PART II

Di panggilan terjawab berikutnya, tiba-tiba lelakiku bergumam

?hei perempuanku, aku punya filosofi baru. Mau mendengarkannya??

Sengaja kusembunyikan penasaranku dengan menjawab tak acuh

?bolehlah, apa itu??

Dan kemudian baru siang itu -saat aku dapat mencuri sedikit waktu kerjaku untuk menelfonnya- aku mendengarkannya begitu bersemangat menyampaikan sesuatu

?sapu lidi?

Aku terdiam,,,lama

?hoi, perempuan engko dengar ka ne??

?iyo dengar ni le, tapi sapu lidi bua apa maka?mo sapu halaman??

?itu kita pe dinding papan dengan atap genteng diatas tebing dekat pantai atau danau atau sungai tuh, kita kasih nama SAPU LIDI?

Aku mulai tertarik, ?terus..??

?ada yang bilang ?semaking gerang semakin tegeng, makin tua makin kuat sapu lidi itu? tapi Oppah juga punya filosofi lain untuk sapu lidi, sapu kan untuk membersihkan kotoran, sapu lidi itu dikumpulkan dari batang-batang daun kelapa terus diikat jadi satu supaya lebih maksimal penggunaannya. Kita pu rumah itu adalah kumpulan dari segala macam hal yang kita sukai maupun kita benci, saat ada badai atau kesulitan datang kita pu rumah akan jadi tempat yang nyaman untuk membersihkan itu semua. Tempat untuk membuang kotoran sekaligus membersihkannya, kita menerima-menampung dan melebur semuanya untuk kemudian menjadikannya makin kokoh – HIKMAH DAN HIDUP

Ada jeda panjang yang diisi dengan diam, sampai akhirnya aku menelan air ludah yang cukup banyak karena tenggorokanku kering.

?Oppah?

?yah??

?I Love You?

***
Pandangan laut lepas dihadapanku membiru sementara cakrawala perlahan menghitam, badai itu bersamaan datang saat kepayahan menghampiriku. Kepayahan karena anak pertamaku ditelan stres di puncak ubun-ubunku yang membabi buta. Tapi lagi- lagi Ia memberikan rasa nyaman yang menyejukkan itu.

?sudah jo mama, te usah sedih lagi. Tuhan pu mau oo bukan kita, engko mo jaga bagaimana juga tapi kalo sudah mesti begitu dia pu cara kita te mampu lawan lagi?

Aku masih saja sesenggukan.

?tapi dia laki-laki pertama le, sayang dia sudah mo mati-mati?

?Lupa ka dia, di kita pu Sapu Lidi ini te ada yang boleh rasa menyesal. Apa yang su jadi berarti hukumnya kita mesti terima, itu yang pertama. Baru selanjutnya kita pikir, mo ulang lagi kah atau mo stop jadi ilmu untuk bekal selanjutnya??

Mataku mulai memerah dan bengkak, aku lunglai karena tangisan yang tak kunjung henti. Dan akhirnya tertidur. Malam itu aku terlelap dibawah ketiaknya, seperti biasa.

Anak sulungku baru saja luruh dari rahimku pagi tadi, aku terlampau serius memikirkan masa depannya sampai akhirnya mengorbankan Dia juga. Kasihan dia, belum sampai menginjak bumi pun sudah jadi biang masalah.

Aku bersumpah, ini tak akan pernah terjadi lagi!

=> Still Loading for PART III 🙂

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password