Santa Claus menjadi Malaikat pencabut nyawa

Peristiwa perayaan Natal di akhir tahun biasanya selalu dimeriahkan oleh Tokoh berjubah dan bertopi merah putih, serta berjenggot putih panjang. Tokoh ini dikenal dengan Santa Claus, pembawa KADO NATAL bagi anak-anak. Santa Claus katanya datang tiba-tiba tanpa diketahui.

Ilustrasi di atas sengaja membawa kita pada kasus LKF Mitra Tiara vs Nasabahnya di Larantuka, Flores Timur beberapa waktu lalu.

Pada tahun 2008 yang lalu, di Larantuka, Flores Timur hadir sebuah Lembaga Investasi berjenis kelamin Lembaga Kredit Financial dengan nama Mitra Tiara yang didirikan oleh Nikko Ladi. Berdasarkan namanya, seharusnya lembaga ini menjalankan perannya sebagai pemberi kredit bagi masyarakat nasabah.

Namun dalam prakteknya, LKF Mitra Tiara berubah jenis kelaminnya. Bukan memberikan kredit, melainkan mengumpulkan uang masyarakat nasabah dengan iming-iming bunga simpanan yang melebihi bunga simpanan bank-bank atau lembaga keuangan resmi di negeri ini.

Tidak tanggung-tanggung LKF Mitra Tiara menawarkan bunga simpanan sebesar 10%. Masyarakat pun berbondong-bondong hingga ke ujung barat Flores bahkan sampai ke luar Flores untuk menjadi nasabah Mitra Tiara.

Para petani yang menjual hasil kebunnya, dengan keyakinan penuh menyimpan uangnya di LKF Mitra Tiara. Demikian juga para nelayan, menabung hasil penjualan ikannya pada lembaga ini. Para PNS Flores Timur banyak yang menggadaikan SK PNSnya di Bank BRI Larantuka demi menjadi nasabah LKF Mitra Tiara. Ada juga sebagian pengusaha lokal yang menjadi nasabah LKF Mitra Tiara. Bahkan ada pejabat daerah Flores Timur yang menggantungkan modalnya di lembaga ini. Para perantau di luar Flores Timur juga tidak sedikit yang menitipkan uangnya pada LKF Mitra Tiara.

Fenomena ini bisa terjadi karena bukti bunga simpanan sebesar 10%, telah direalisasikan oleh LKF Mitra Tiara terhadap nasabah yang sudah lebih dahulu menanamkan modalnya. Fakta inilah yang akhirnya mampu membangkitkan keyakinan yang begitu kuat bagi masyarakat Flores Timur hingga ke ujung barat Flores bahkan jauh ke luar Flores.

Sehingga tidak heran kalau nasabah LKF Mitra Tiara begitu berjubel. Dan dalam proses berjalan, LKF Mitra Tiara masih terbukti mampu memenuhi kewajibannya membayar bunga simpanan 10%. Nasabahnya pun terus bertambah hingga mencapai angka 17 ribu lebih. Fantastis memang!

Kehadiram LKF Mitra Tiara di tanah Nagi, Larantuka selama proses operasinya (kurang lebih 4 tahun berjalan) memang mampu membawa sejumlah perubahan ekonomi yang positip bagi masyarakat nasabah dan Flores Timur.
Tidak peduli lembaga ini sebetulnya memiliki modus operandi financial yang sangat modern.

LKF Mitra Tiara seakan menjelma bak Santa Claus bagi masyarakat nasabahnya. LKF Mitra Tiara hadir tanpa diduga, tapi mampu menuhi dahaga ekonomi bagi masyarakat Flores Timur hingga ke ujung barat Flores bahkan sampai di tanah perantauan. Masyarakat nasabah menjadi begitu terlena laksana tertidur dalam mimpi.

Lebih-lebih ‘Kado Natal’ yang diberikan Santa Claus (Mitra Tiara) tidak hanya datang pada akhir tahun, melainkan setiap bulan. Sungguh luar biasa, Santa Claus (Mitra Tiara) seakan begitu memahami keadaan ekonomi dari masyarakat nasabahnya. Begitu mudahnya Santa Claus (Mitra Tiara) memenuhi kewajibannya akan hak masyarakat nasabah atas bunga simpanan setiap bulannya. Menghanyutkan memang!

Namun, seiring waktu berjalan, Santa Claus semakin tua dan renta. Jubah dan topi merahnya mulai lusuh dan memudar. Jenggot putih panjangnya pun mulai berguguran.

Tanpa masyarakat nasabah sadari (larut dalam mimpi tidurnya yang hanyut), bisnis yang dijalankan LKF Mitra Tiara mengalami Masa Sulit. Apalagi bisnis di pasar modal (Bursa Saham, Forex, dll), seperti yang dijalankan LKF Mitra Tiara, tentunya ada masa pacekliknya. Klimaksnya, lembaga ini tidak lagi mampu memenuhi kewajibannya membayar bunga simpanan masyarakat nasabahnya yang terus bertambah.

Dengan berbagai alasan, LKF Mitra Tiara melalui Nikko Ladi mengeluarkan kebijakan baru yang diluar dugaan masyarakat nasabah. Mulai dari mengurangi bunga 2%, pembayaran bunga bertahap, hingga tidak diperbolehkan masyarakat nasabah menarik modalnya.

Bak disambar gledek, masyarakat nasabah kaget bukan kepalang. Ditambah pemberitaan berbagai media yang terus menghantam sisi buruk LKF Mitra Tiara, membuat masyarakat nasabah menjadi bingung dan stress. Namun hal ini juga kemudian mampu menyadarkan masyarakat nasabah (meski terlambat), bahwa Santa Clausnya sebetulnya adalah Malaikat Pencabut Nyawa.

Meski begitu, LKF Mitra Tiara masih mencoba menghibur masyarakat nasabahnya. Nikko Ladi berjanji akan mengembalikan modal nasabahnya pada Januari 2014.

Tapi keresahan telah begitu kuat menghantui masyarakat nasabah. LKF Mitra Tiara terlanjur dianggap Malaikat Pencabut Nyawa. Dengan penuh kecemasan, tuntutan pengembalian modal dari nasabah terus nyaring didendangkan. Akhirnya, sebuah keyakinan yang tadinya begitu kuat tergilas oleh kenyataan bahwa LKF Mitra Tiara sudah di ambang kehancuran.

Ironis memang! Pahlawan ekonomi yang sebelumnya begitu disanjung bahkan dibela, kini tak ubahnya seorang pengkhianat/ pecundang. Santa Claus berubah menjadi Malaikat Pencabut Nyawa. Tapi, haruskah ada nyawa yang tercerabut dari Tanah Nagi, Larantuka bahkan hingga ke luar Flores Timur? SEMOGA SAJA TIDAK…!!!!!!!

Terlepas dari persoalan di atas, saya coba meriview kembali keberadaan awal/ perijinan usaha yang diberikan Pemda Flores Timur kepada LKF Mitra Tiara.

Jelas sekali bahwa Pemda Flores Timur yang pada saat itu di bawah kekuasaan Bupati Simon Hayon sangat tidak paham soal investasi seperti yang dijalankan oleh LKF Mitra Tiara. Sehingga tanpa berpikir panjang meluluskan ijin operasi bagi LKF Mitra Tiara. Ini sebuah blunder yang dilakukan Mantan Bupati Simon Hayon untuk Flores Timur.

Setelah kekuasaan beralih ke Bupati Yosep Lagadoni Herin, LKF Mitra Tiara semakin eksis menjalankan bisnisnya. Tidak sedikit pun ada upaya Pemda Flores untuk menyikapi keberlangsungan LKF Mitra Tiara.

Seharusnya pada saat kepemimpinan Bupati Yosep Laga Doni Herin, keberadaan LKF Mitra Tiara perlu ditinjau kembali. Namun sayangnya, Bupati Yosep Laga Doni Herin yang nota bene berlatar belakang Jurnalis di Media Cetak Warta Ekonomi Jakarta, terkesan melakukan pembiaran terhadap LKF Mitra Tiara.

Sebagai mantan Wartawan Ekonomi Jakarta, Bupati Yosep Lagadoni Herin pastinya sedikit banyak
memahami bentuk investasi yang dijalankan LKF Mitra Tiara. Tapi sayangnya, pemahaman akan bentuk investasi dan pengalaman yang dimilikinya tidak dijadikan sebagai kekuatan untuk membekukan LKF Mitra Tiara. Disinilah letak kesalahan Pemda Flores Timur dibawah kepemimpinan Bupati Yosep Laga Doni Herin sebetulnya. Andaikata, pemda melakukan pengkajian ulang terhadap LKF Mitra Tiara, yang jelas telah salah menjalankan operasinya-pemberi kredit menjadi penabung uang dengan bunga 10%- tentunya kejadian ini tidak akan pernah terjadi.

Jadi Pemda Flores Timur jelas memiliki andil dalam kasus LKF Mitra Tiara vs Masyarakat Nasabah. Mantan Bupati Simon Hayon perlu diminta pertanggungjawabannya. Dan sudah semestinya Pemda Flores Timur dibawah kepemimpinan Bupati Yosep Lagadoni Herin harus bertanggungjawab dengan semua yang telah terjadi. Tabe! PRW

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password