Rumah Translog di Flores Timur Gunakan Kayu Kepok

POS KUPANG.COM, LARANTUKA — Pembangunan rumah transmigrasi lokal (translok) di Desa Libu, Kecamatan Adonara, Kabupaten Flores Timur? (Flotim), menggunakan kayu murahan seperti kayu kepok hutan. Saat ini 50? rumah yang telah dihuni sudah lapuk, bahkan ada rumah yang kuda-kudanya hampir patah. 

Disaksikan Pos Kupang,? Jumat (31/8/2012), rumah berukuran 6 x 6 meter di atas lahan seluas 30 x 60 meter persegi itu, kayunya sudah lapuk, baik kusen, regel, kuda-kuda maupun lesplan.

Tidak ada papan proyek di lokasi translok itu. Menurut beberapa tukang yang ditemui di lokasi, nilai satu unit rumah Rp 21 juta. Dengan demikian, total nilai 50 rumah yang sudah dikerjakan di translok itu mencapai Rp 1.050.000.000 (Rp 1 miliar lebih).

Fondasi rumah semi permanen itu hanya berupa susunan batu yang dilekatkan dengan campuran seadanya. Dinding pelupu atau bambu cincang masih baik. Demikian pun daun pintu tripleks dan jendela kaca.

Di rumah yang dihuni Paulus Ola, kusen pintu lapuk, bahkan satu batang kuda-kuda pada tiang tengah hampir patah. Rumah tersebut hanya memiliki satu kamar tidur berukuran 3 x 3 meter persegi, satu ruang tamu, ruang makan sekaligus dapur. WC berukuran 2 x 1,5 meter persegi berada secara terpisah di belakang rumah.

Paulus Ola yang ditemui di kediamannya menuturkan, ia dan warga lain baru menghuni rumah itu tiga bulan lalu. Rumah itu dibangun pada 17 Agustus 2011.

Dijelaskannya, ada 100 rumah di translok di Desa Libu. Tahap pertama dibangun 50 rumah? menggunakan kayu murahan, kepok hutan dan rita. Untuk 50 rumah? tahap kedua yang dikerjakan tukang dari Lembata, kualitas kayunya baik.

Selain kayu, kata Paulus, fondasi? yang sebenarnya menjadi landasan/dasar rumah dikerjakan asal-asal. Batu-batu disusun dan dilekatkan dengan campuran apa adanya. Dindingnya, lantai dan atap masih baik. “Kami harus menyapu terus menerus karena kayu-kayu pada lapuk sehingga serbuknya beterbangan,” ujarnya.

Paulus menjelaskan, lokasi itu merupakan tanah tua wolo (tanah suku, Red) yang dihibahkan kepada pemerintah propinsi untuk membangun rumah translok. Pemerintah kemudian mengklaping 30 x 60 meter persegi dan membangun rumah semi permanen berukuran 6 x 6 meter persegi. Warga di permukiman yang padat mendaftar lalu diundi dan dibagikan rumah itu.

Sayangnya, kata Paulus, kualitas kayunya tidak bagus sehingga cepat rusak. Diperkirakan satu tahun kemudian kayu-kayu rumah di translok itu? patah dan rumahnya rubuh. Kondisi yang sama terlihat pada rumah yang dihuni Wilem Muli Pati. Di rumah ini kusen pintu dan palang tengah lapuk.

Hal yang sama dialami Yakobus Seli dan istrinya, Katarina Berena. Di rumah ini kayu-kayu juga sudah lapuk. Seli, tukang yang juga mengerjakan rumah-rumah itu, mengatakan, mereka menyarankan menggunakan balok kelapa atau lontar tapi kontraktor melalui pengawas lapangan bilang Rencana Anggaran Biaya (RAB) menggunakan kayu, bukan balok kelapa.

Tidak dijelaskan kayu kelas berapa yang diatur dalam RAB, tapi dirinya tahu mereka menggunakan kayu murahan yang diambil dari warga sekitar, seperti kepok hutan dan rita.

Pantauan Pos Kupang pada 50 unit yang sedang dikerjakan, kualitas kayunya baik, pengerjaannya rapi. Menurut beberapa tukang yang sedang bekerja, mereka menggunakan kayu kelas dua dan disekap secara teratur, karena itu merupakan rumah tinggal. Fondasi juga dikerjakan secara teratur dengan campuran memenuhi standar. (gem)

Editor : alfred_dama
Sumber 😕Pos Kupang

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password