Republik facebook.com

Imajinasi Untuk Mengubah Negeri

Dari judulnya saja, buku ini tak asing bagi kalangan fesbuker-penggemar facebook. Fransiskus Uba Ama yang akrab dipanggil Ansis, seorang fesbuker, punya ide kreatif menyoroti semua masalah di negeri ini. Mulai dari demokrasi, korupsi, penegakan hukum, hingga sepak bola. Dari cinta hingga kesulitan hidup. Bahkan pertanyaan anaknya yang masih balita diolah menjadi guyonan di FB dan dikomentari ribuan orang. Semua tulisan di akun fesbuk itu lalu diprint, kemudian atas bantuan istrinya diedit secara manual. Maklum, Ansis-yang punya cita-cita mulia ingin punya “rumah buku” di kampung Gogor, Surabaya saat ini, agar bisa membantu anak-anak di sekitar lingkungannya-ternyata tak punya computer di rumah. Toh kerja keras dia dan istrinya membuah hasil sebuah buku yang menarik. Atau seperti moto majalah TEMPO, “Enak Dibaca dan Perlu”.

Cara Ansis mengekspresikan kritik maupun idenya memang unik. Soal kritik misalnya, meski menyakitkan bagi yang merasa dikritik, tetapi pasti mereka juga tertawa terbahak-bahak karena disampaikan secara humoris, meski terkadang vulgar. “Hebat! Senang sekali membaca tulisan Ansis. Ambil energinya dari buku ini. Bawalah perubahan untuk bangsa,” kata artis Shahnaz Haque, yang mengomentari isi buku ini.

Lain lagi komentar Rieke Diah Pitaloka, artis yang juga politisi itu. “Cara bertutur Ansis yang sederhana tapi mampu membangunkan siapa saja yang membacanya,” kata Rieke, yang lebih dikenal dengan sapaan Oneng. “Tulisan yang cerdas dari tangan penulis yang peka. Humor yang valuable tetapi menohok. Layak dibaca dan inspiratif,” komentar Dewa Gde Satrya, dosen dan Kepala Pulit Universitas Widya Kartika Surabaya.

Sanjungan itu tak berlebihan. Lihat saja kritik Ansis soal utang di negeri ini (hal.017). Kecewa karena hasil temuannya, dinamit, digunakan untuk memusnahkan manusia, Alfred Bernhard Nobel, mewakafkan USD 9,2 juta duitnya buat perdamaian dunia-yang kemudian dikenal dengan Hadiah Nobel-sekadar menghibur diri. “Nah, di Indonesia, pemerintah akan mewakafkan UANG Rp 920 triliun (data tahun 2009) untuk 230 juta rakya. Jadi, setiap penduduk dapat jatah Rp 4 juta. Ini sebuah tanda cinta tulus pemerintah bagi rakyatnya. Oya uang ini akan dibagikan sebelum kiamat. Upsss, maaf, ada yang salah. Huruf “T” lupa saya tuliskan di antara U ? ANG. Jadi, maafkan saya kalau ada yang telanjur berharap. Sampaikan juga ke bayi dan orok Anda, jatahnya juga empat juta!” Pancingan Anis ini mendapat berbagai tanggapan. Salah satunya dari Imas, “Ironis banget? Negeri subur dan kayak kok banyak utangnya?”

Soal korupsi, kritik pria kelahiran Dusun Lamalaka, Adonara Timur, Flores Timur, NTT, 29 September 1980 ini lebih ngeri lagi (hal. 091). “Pak mohon restunya. Tolong tandatangan proyek 6,7 Trilyun ini dong?,” kata Jojon ke boss Bono sambil sodorin cek 100 milyard. “Apa? 6,7 Trilyun? Itu duit apa pasir? Tapi maaf, saya ini pejabat yang masih punya harga diri. Anda jangan coba-coba suap saya. Anda bisa saya laporkan ke polisi,” jawab boss Bono. “Hmm? gini pak. Ada beberapa pejabat dan ahli sedot uang yang kerja sama dengan kita. Dijamin aman, pak…!,” kata Jojon sambil sodorkan cek 500 milyard. “Hmm, lumayan buat dana kampanye. Cepetan, mana yang harus saya tandatangan?,” kata Bono sambil lirik cek! Imas, fesbuker yang sering mampir diakun Ansis mengomentarinya dengan kalimat pendek tetapi menyakitkan. “Gitu kali ya gambaran orang korup. Kalau dikit sogokannya enggan, kalau banyak enggan juga, maksudku enggan nolaknya”.

Keprihatinanan Ansis, alumnus Universitas Dr. Sutomo Surabaya, yang artikelnya pernah dimuat di KOMPAS dan Jawa Pos; terhadap berbagai bencana yang melanda Indonesia yang menelan ribuan jiwa, tak luput dari sorotannya. Meski meneteskan airmatanya saat menyaksikan tayangan berita gempa Padang, mantan Sekjen PMKRI Surabaya ini malah sangsi dengan kehendak Yang Di Atas. “?jangan-jangan Tuhan lebih kangen orang Indonesia daripada negara lain, ya” (hal. 091). “Walaaah, Tuhan kok dicuragi. Sudah ditakdirkan kali, Sis,” komentar Veronika. “Aku juga berfikir demikkian. Tapi kayaknya bukan karena Tuhan dech, tapi dosa manusia yang memberatkan bumi, heheheh,” tulis Natalia.

Tentu masih banyak lagi celoteh postif yang tersurat maupun tersirat dalam buku mungil setebal 112 halaman, diluar kata pengantar penulisnya dan Romo Lores Dihe Makin, M.Hum-seorang rohaniwan dan pencinta humor. Yang pasti, membaca buku yang baru diterbitkan 1 Juli 2010 oleh penerbit Gemmamedia ini pasti membuat anda senyum-senyum.

Tetapi ada alasan rasional, mengapa dari ribuan komentar di akunnya, hanya menghasilkan sebuah buku mungil. “Kalau terlalu tebal, biayanya mahal. Soalnya saya pake duit sendiri,” kata Ansis melalui emailnya. “Tapi kalo hutang di penerbitan sudah lunas, aku mau terbitkan edisi kedua,” janjinya.

Lebih dari itu, melalui buku ini Ansis rupanya ingin membangunkan semangat generasi muda-minimal para fesbuker-agar bersama-sama memberantas ketidakadilan di negeri ini.

Memang, media fesbuk kini menjadi lahan subur untuk menuangkan semua ide, kritik, atau membangun solidaritas terhadap sesorang atau sebuah lembaga manakala kita melihat ketidakadilan tidak berpihak kepadanya. “Jangan sepelekan suara fesbuker”, seperti kata Anis dalam bukunya. Bisa jadi, inilah sumbangsih Ansis, yang namanya mirip Presdien Amerika, Obama?kalau Uba Ama ditulis gabung menjadi Ubaama – untuk mengubah negeri ini. Siapa tahu! (Rahman Sabon Nama).

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password