Reka Wuu, Pusaka Suku Dibersihkan

LARANTUKA, FBC- Upacara Reka Wuu di Walublolong, Solor Kabupaten Flores Timur, ?diadakan setiap tahun merupakan puncak dari ritual adat ?buka kebun, tanam, hingga petik hasil panen dalam tradisi Lamaholot. Upacara ini dilaksanakan di tempat khusus yang dalam tradisi masyarakat setempat di sebut Lango Belen (Rumah Besar) atau juga ?disebut Koke Bale.

Upacara Reka Wuu dimulai di semua rumah adat. Lantaran semua rumah adat melakukan upacara serentak, FBC hanya menyempatkan diri menyaksikan upacara di rumah adat Lamarebon yang dipimpin Bapak Lowa Lamarebon.

Di sebuah ruangan khusus di rumah adat itu, sebanyak tujuh orang tetua adat melingkar khusuk melakukan upacara adat. Tetua adat ini duduk melingkar mengelilingi sebuah batu. Konon batu itu simbol leluhur suku Lamarebon.

Mantra-mantra adat diucapkan tanpa suara diiringi asap dupa dari sebuah tempurung. Hanya terlihat bibir bapak Lowa bergerak seperti sedang bicara. Lalu seekor ikan panggang dan nasi satu bakul kecil disantap bersama oleh ketuju tetua adat serta warga yang menyaksikan jalannya uapacara itu. Juga arak dan tuak putih diminun bergilir.

Upacara selanjutnya terjadi di ke halaman depan rumah adat suku Lamarebon. Sebuah mesbah kecil dari batu menjadi pusat upacara memberi makan leluhur. Lalu dinaljutkan dengan persiapan mengikuti upacara ekaristi. Semua warga berpakaian adat.

Bapak Lowa Lamarebon dan Namajaga Lamanepa, kedua pemangku suku yang sukses melewati masa puasa dan pantang selama semusim. Sejak tanaman ladang ditanam di awal musim hujan, para anak gadis, laki-laki dewasa yang sudah menikah dan kedua pemangku suku ini mengikrarkan diri untuk melakukan pantang dan puasa terhadap berbagai jenis makanan baru yang tumbuh di musim hujan.

Sepanjang musim hujan itu, mereka pantang makan sayuran musim hujan seperti daun labu kuning atau kestela, kacang-kacangan baru baik daun maupun buah. Ketika musim jagung muda, mereka pantang makan jagung muda. Masa pantang paling lama ditanggung oleh kedua pemangku suku dari suku Lamarebon dan Lamanepa.

?Pada malam ini, melalui upacara ini, bapak Lowa Lamarebon dan Namajaga Lamanepa boleh makan makanan baru ini yang ditandai dengan upacara puncak Reka Wuu?, kata Arnold Lamanepa ketika berbincang dengan FBC di teras rumah adat suku Lamanepa.

Pusaka Suku Dibersihkan

Selesai perayaan ekaristi, dilanjutkan dengan makan bersama. Suasana akrab bersaudara mewarnai pelataran depan kesepuluh rumah adat. Usai makan bersama dilanjutkan dengan upacara adat di setiap rumah adat. Semua pintu dan jendela rumah adat tertutup selama upacara berlangsung. Karena dilaksanakan serentak di semua rumah adat maka FBC hanya menyaksikan upacara itu di rumah adat suku Koten.

Sementara pemimpin upacara suku Koten melakukan ukup tujuh kali keliling ruangan sakral di rumah adat, sebuah tabung bambu diturunkan dari ruang atas rumah adat itu. Di atas selembar tikar yang terbentang di lantai ruang tengah, isi tabung bambu dikeluarkan. Belasan keris pusaka tanpa tangkai dijejer di atas tikar.

Bersamaan itu, dari ruang atas rumah adat diturunkan juga sejumlah meriam tua. Barang-barang pusaka itu diletakan di atas tikar. Ritus selanjutnya adalah membersihkan benda-benda pusaka itu menggunakan kelapa parut sehingga kelihatan mengkilat. Yang melakukan pembersihan ini hanyalah kaum laki-laki suku.

Malam semakin larut. Pintu-pintu rumah adat yang berjejer mengelilingi lapangan upacara itu dibuka tanda upacara di tiap rumah adat telah selesai. warga berkelompok melakukan kunjungan dari rumah adat satu ke rumah adat lainnya.

Reka-Wuu

Di sana, ketika malam semakin larut dan waktu bergeser ke hari berikutnya tanggal 16 April, seekor ayam dipotong di ruang tengah tiap rumah adat tanda upacara akan berakhir. Daging ayam dimasak lalu dimakan beramai-ramai sambil ditemani tuak putih atau arak.

Berebut Jagung di Korke

Sebuah ritus menarik berlangsung di dua korke antara rumah adat suku Koten dan Lamanepa. Para laki-laki remaja dan orang dewasa berebut jagung hasil panen tahun ini. Upacara ini hanya diikuti oleh kaum laki-laki. Bernard Lamanepa menjelaskan, jika perempuan ambil bagian dalam acara ini atau makan jagung yang diperebutkan dalam korke itu maka mereka akan terkena bala. Rambutnya akan gugur.

Sejumlah anak muda naik ke panggung korke. Sebuah bakul berisi puluhan batang jagung dibuang ke lantai panggung korke. Anak-anak itu mengguncang-guncangkan lantai yang terbuat dari bambu. Saat itu, jagung-jagung yang dihambur di lantai itu terjatuh ke kolong korke. Dalam suasana gelap gulita, para laki-laki dewasa maupun anak-anak merayap ke kolong korke dan berebutan jagung. Ritus ini diiringi gelak tawa riang gembira di malam yang kian larut.

Kata Bernard Lamanepa, jagung-jagung yang diperebutkan itu dibawa pulang ke rumah masing-masing dan hanya boleh dimakan oleh kaum laki-laki. Karena itu harus dijaga agar tidak tercampur dengan jagung lainnya di rumah agar tidak ikut dimakan oleh ibu-ibu dan anak-anak perempuan.

Perlahan kegelapan malampun surut. Bias-bias cahaya samar di ufuk timur. Pagi pun tiba. Warga bergegas pulang ke rumah masing-masing. FBC bersama guru Kosmas melangkah menjauh dari arena upacara Reka Wuu. Letih dan mengantuk mulai terasa lantaran tak sedetikpun memejamkan mata sepanjang malam.

Pagi 16 April di pelabuhan laut Wulublolong. Kapal motor Rahmat Solor merapat. Setelah tali dilepaskan, kapal itupun menjauh membelah ombak pagi. Kota Larantuka samar di kejauhan. Kapal pun menepis arus dan gelombang. Wulublolong perlahan menjauh.

Bulir-bulir jagung menguning di sepanjang pendakian ke kampung Wulublolong perlahan hilang dari pandangan. Kekayaan budaya yang tersisa di Wulublolong penuh makna tentang ?Kedaulatan Pangan?. Pelajaran berharga tentang nilai-nilai tata kelola ketahanan pangan yang sangat asli masih ditemukan di sini, di Wulublolong, dalam upacara adat Reka Wuu. HABIS ?(Melky Koli Baran)

Sumber: www.floresbangkit.com

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password