Perkembangan Katolik di Flores Timur

Jurnal pelayaran kapal layar Victoria dan St. Antonio dibawah pimpinan nahkoda ?del Alcano?, catatan yang di buat oleh seorang bangsawan Italia (penulis) Antonio Pigafetta, tercatat bahwa dalam bulan Januari dan Februari 1522 ? dalam perjalanan menuju Madrid kedua kapal dari ekspedisi Magelhaens – telah melewati perairan Alor dan Solor; menyinggahi beberapa pelabuhan di beberapa kepulauan Solor, Alor, Lembata bagian timur dan Bunga Wutun/Cabe da Flora (Flores bagian timur).

Catatan ini tidak jelas menyebutkan dalam persinggahan tersebut terjadi sentuhan iman dan awal penyebaran agama. Namun demikian sudah tentu sekurang-kurangnya dilakukan pewartaan Sabda. Jikapun tidak sampai pada pembaptisan, dapat dipahami mengingat kebiasaan orang Spanyol dan Portugis di masa itu. Termasuk tidak disebutkan persinggahan di Larantuka.

Begitupun catatan lain menyebutkan di tahun 1522 ? 1556, terdapat permandian masyarakat pribumi sebanyak 5.000 orang di Timor dan Ende. Juga permandian di Solor dan Savoe Pequene (Sabu Kecil). Inipun tidak menyebutkan tentang Larantuka. Tahun 1529, oleh Sri Paus, wilayah Solor dan Timor diesrahkan kepada misionaris Portugis untuk penyebaran agama Katolik.

Tahun 1556, dalam suatu pelayaran ke Lohayong di Solor, Paderi ANTONIO TAVEIRA OP (dari Ordo Dominikan) singgah sebentar dipantai LABONAMA (Lewonama/di Lokea Larantuka ? sekarang Lohayong) dan mempermandikan orang. Hal ini berarti untuk pertama kali tercatat tentang : permandian orang Larantuka.

Dalam sutu serangan gabungan antara kompeni Belanda (VOC) dengan penduduk pribumi (1613), pusat perdagangan Portugis dan pusat Misi Solor porak-poranda, sehingga terpaksa berpindah dari Lohayong Solor ke Larantuka, di tempat yang kemudian dikenal dengan nama Postoh.

Setelah Belanda dan pribumi meninggalkan benteng Lohayong, pusat misi kembali ke Lohayong (1630). Akan tetapi kali ini tidak mendapat dukungan semestinya dari penduduk pribumi, yang sudah nampak tidak mau bersekutu.

Pengalaman yang tidak menguntungkan di Lohayong Solor, ditambah kurang tesedianya dana pemugaran Benteng Lohayong, maka diputuskan untuk memindahkan pusat perdagangan, pusat misi ke Postoh di Larantuka (1636), dimana masyarakat pribumi memberikan harapan yang baik.

Tahun 1645, Raja Larantuka Ola Ado Bala, dipermandikan secara Katolik dengan Nama Don Fransisco Ola Ado Bala DVG. Beliau inilah yang pertama kali menyerahkan tongkat kerajaan yang berkepala emas kepada Bunda Maria Reinha Rosari.

Era 1679/1856, pengaruh Portugis ternyata mulai merosot untuk akhirnya menghilang. Akibatnya para padri yang sudah sangat kurang tidak mungkin dapat ditambah. Kunjungan iman dalam 4 s/d 6 tahun. Pada saat krisis seperti inilah kehidupan iman dan beragama, dipercayakan pada suatu ?laksar Bunda Maria? yaitu : KONFRERIA REINHA ROSARI LARANTUKA?, suatu serikat gerejani yang didirikan oleh para pengungsi dari Malaka tahun 1642 dan 1660.

Pada masa krisis seperti ini, tercatat pula peranan dan pengaruh RAJA ? dengan semua aparat pembantunya Raja-raja setempat/Raja Lewopulo, POU SUKU LEMA, KAPITAN dll ), terhadap Konfreria Reinha Rosari, yang berarti pula Peranan dan Pengaruh Penguasa setempat terhadap kehidupan dan perkembangan Iman pada masanya, serta perkembangan dikemudian hari.

Larantuka semakin jarang dikunjungi imam. Oleh karena pergolakkan kekuasaan di Larantuka, maka pada tanggal 20 Februari 1702, pusat pemerintahan Portugis dan pusat Misi Katolik berpindah ke LIFAU ? TIMOR.

Oleh karena pertentangan terus menerus di Lifau, maka 10 Oktober 1769 akhirnya pusat misi katolik terpaksa dipindahkan ke desa nelayan berawa-rawa di pantai utara bagian Timur pulau Timor, kemudian dikenal dengan nama Dilly. Sejak saat itu, dimulailah suatu masa peralihan kekusaan pemerintahan dari Portugis ke Belanda, yang sangat mempengaruhi kehadiran para Padri Dominikan (Portugis), berikut kehidupan dan perkembangan Iman di wilayah Timor dan Solor.

Tahun 1853 Romo GASPAR DE HESSELE Pr, dalam kunjugannya melaporkan bahwa terdapat 3000 sampai 4000 orang Katolik tersebar di Larantuka, Wureh dan Konga, yang keadaannya sangat menyedihkan. Oleh karena kunjungan Imam sangat kurang, maka pengetahuan Agama rendah atau minim sekali, yang mengakibatkan kehidupan beragama sangat merosot. Kehidupan beragama masih berbaur dengan kebiasaan lama (kekafiran). Akan tetapi satu hal yang sangat menguntungkan ialah bahwa : Tekad mempertahankan UPACARA PARA LITURGI seperti Devosi Perarakan, serta keyakinan akan rahmat dan hikmat Kristiani dalam upacara semacam itu, telah melindungi Iman Umat dari pengaruh penyelewengan Imani. Disini peranan Konfreria sangat menonjol.

Menurut catatan Romo J.P.N.SANDERS Pr, bahwa untuk membasmi kebiasaan-kebiasaan yang tidak terpuji di kalangan umat, maka oleh Konfreria dibentuk semacam ? Polisi konferia yang disebut ?MARINHAMOR?(marinhas = Polisi; mor = mayor = besar), yang juga melaporkan pada Konfreria untuk diberikan sanksi-sanksi kepada pelaku pelanggaran.

Hal ini terbukti dalam kunjungan dan karya kerasulan di kemudian hari , baik oleh para Imam Praja (1860-1863), maupun oleh para misionaris Yesuit (1863-1913), yang kemudian dilanjutkan oleh para Imam Sabda Alah (S.V.D) (1913- s/d sekarang.

Berkat ketekunan yang sangat terpuji dari para misionaris, serta pengertian dan pemahaman yang dibina secara bertahap, akhirnya pengaruh lama (tahyul dan kekafiran) yang sempat berbaur dengan kehidupan iman dan menggereja/ beragama, secara bertahap tetapi pasti, mulai dikikis dan akhirnya menghilang.

Sumber: East Flores Lamaholot

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password