Penghuni Awal Larantuka

Cerita/mitos tentang asala muasal penghuni Larantuka, sejauh ini begitu banyak versi dan bisa jadi tidak banyak yang mengetahui , apalagi generasi kini. Olehnya berikut ini di munculkan salah satu versinya.

Jauh di atas, di puncak Ile Mandiri burung Elang berwarna coklat dan burung rajawali berwarna abu-abu meletakkan telurnya. Ketika telur-telur itu terbuka, muncullah dua anak kembar. Saudara laki-laki bernama Koda Lia Nurat Ulu Nura Nama, saudara perempuan bernama Oa Dona Wato Wele. Keduanya hidup sendirian di puncak gunung dan makan buah-buahan pohon dan binatan2 hutan seperti ular dan kadal. Juga kedua orang bersaudara itu adalah orang liar; mereka berbulu dari kepala sampai kaki dan biasanya mencarik mangsa perburuan mereka dengan kuku jarinya.

Pada suatu malam, ketika keduanya sedang menyiapkan makanan, di tepi pantai di bawah Teniban Duli Hadung Bolen melihat nyala api mereka. teniban Duli adalah seorang perempuan keturunan Paji, yang tinggal si sebuah kampung di kaki gunung Ile Mandiri. Nyala api,yang terang seperti bintang, langsung mengenai dadanya. Pada hari berikutnya ia menceritakan penampakkan malam itu kepada saudaranya, SUban Lewan dan meminta dia naik ke puncak gunung untuk memeriksa, entah ada seorang pemuda yang berdiam di atas.

Suban Lewan menyiapkan diri untuk berburu. Ia membunuh banyak binatang dan ketika berkeliling ia menemukan tempat tinggal Liat NUrat. Dekat tempat itu ia bersembunyi di atas sebatang pohon besar. Ketika LIa Nurat sia-sia berusaha menyalakan api, Suban Lewan memperlihatkan diri kepadanya dan menawarkan bentuan, tetapi terdahulu Lia NUrat harus membuang binatang2 perburuannya yang mengerikan itu. Ia turun dari pohon dan berbagi makanannya dengan penghuni gunung itu. Empat hari kemudian ia datang kembali mengunjungi Lia Nurat dan membawanya kedekat rumahnya, lalu menyembunyikannya di dalam hutan lontar miliknya.

Ketika melihat hujan tak kunjung berhenti dan awan turun ke lembah, saudarinya Teniban Duli mengetahui bahwa “anak gunung” (ile anan) berada tidak jauh. Ia menyuruh saudaranya mengantarnya ke tempat persembunyian itu, karena ia hendak mengawininya. Tetaapi Liat Nuratmasih seorang hutan. Bulu yang lebat menjadi pakaiannya dan kuku jarinya adalah senjatanya. Suban Lewan dan saudarinya mengundangnya makan dan membuatnya mabuk dengan tuak pohon lontar. Ketika ia sudah tertidur lelap keduanya mengambil pisau dan memotong kuku2 jarinya dan mencukur bulu seluruh tubuhnya. Ketika ia terjaga dari tidur ia menggigil kedinginan sampai seluruh bumi bergoyang.

Lia NUrat tidak mengenal adat kebiasaan amnusia. sia2 Teniban Duli membetangkan tikar perkawinan untuknya. Baru sesudah ia menunjukkan kepadanya, bagaiman binatang2 hutan kawin, ia mengerti apa yang dikehendaki oleh Teniban Duli darinya. Bersama Teniban DUli ia melahirkan tujuh orang putra. Anak yang pertama bernama Keweluk Ile Alen Kebou Wawe Utan, yang lain bernama Kewaka, Belawa Burak, Bam Powa, Regi Bera dan Mado; anak ketujuh adalah seorang perempuan. Lia Nurat tinggal di kampung iparnya, yang mengajarkan dia bagaimana mengerjakan kebun dan menyadap tuak, Ia mendapatkan hasil limpah dalam segala pekerjaannya. Lia Nurat meninggalkan kammmpung di tepi pantai itu dan pergi ke sebuah kampung di atas gunung. Di situ ia mengambil istri yang kedua, bernama Uta Wata Teluma Burak, berasal dari Maumere. Teniban DUli sangat cemburu. Oleh sebab itu ia menghina pesaingnya ketika keduanya pada suatu ketika sedang saling meminyaki. Karena ganti minyak kelapa ia memakai air gula untuk meminyaki rambut madunya.

Untuk membalas penghinaan terhadap saudarinya mereka, saudara2 Uta Wata memerangi Lia Nurat dan mengalahkannya. Akan tetapi mereka baru dapat membunuh Lia Nurat yang terluka berat itu ketika ia sendiri menyatakan kepada mereka bagaimana cara mereka melaksanakannya. Anak2nya laki2, “anak2 dari gunung” tidak menerima hal itu. mereka berangkat ke Maumere bersenjatakan senjat2 yang terbuat dari besi, yang dibuat dari paku2 yang mereka rampok dari kapal (eropa) dan membunuh banyak musuh mereka.

Pada perjalanan pulang mereka bertemu dengan sekelompok orang Paji yang mengundang mereka minum. Ketika semua orang mabuk oleh tuak, terjadilah perkelahian. Karena orang2 Paji terlalu membanggakan kepahlawanan mereka, maka “anak2 dari gunung” itu mengupas kulit tubuh pemimpin orang Paji itu, menggosok tubuhnya dengan garam dan kapur, lalu mengusir dia ke kampungnya. Dimana2 dengan nyaring ia mengeluhkan apa yang telah dilakukan oleh orang Demon terhadap dirinya. Akibatnya terjadi peperangan besar yang pertama antara Paji dan Demon. Orang Demon mengalahkan orang Paji dan mengusir mereka dari semua kampung di gunung dan pantai wilayah Ile Mandiri. Mereka harus melarikan diri ke Tanjung BUnga dan kemudian ke Adonara. Anak2 Lia Nurat dan Teniban Duli mengambil tanah2 yang ditinggalkan oleh orang Paji. Mereka menjadi bapa2 asal suku, yang mendiami kampung-kampung di sekitar Larantuka, ialah WAi’lolon, Lewo Hala, Leneda, Lewoloba, Watowiti dan Mudakeputu. (Paul Arndt)

Keenam kampung yang disebutkan pada akhir cerita Lia Nurat, dahulu merupakan suatu persatuan kampung2, yang berbatasan langsung dengan tanah suku Larantuka. Persatuan itu adalah yang terpenting dari kesepuluh wilayah inti yang membentuk kerajaan Larantuka dan dinamakan Mudakaputu, sesuai nama kampung utama.

Karl-Heinz Kohl: Raran Tonu Wuju,cetakan I, sept 2009,Penerbit Ledalero
Sumber: East Flores Lamaholot

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password