Natal adalah ?Musim untuk Memberi?

Natal identik dengan warna-warni gemerlap, warna merah dan hijau mendominasi, lampu warna-warni, dekorasi kerlap-kerlip di sekitar gua dan pohon natal; music-music yang melegenda, selalu ada bunyi lonceng, putih salju, patung-patung hewan dan kanak-kanak Yesus, bingkisan-bingkisan kecil di sekitar pohon natal, kaus kaki merah putih bergantungan ? semua mengingatkan kesan romantis, syahdu, damai, tenang dan membuat terlena.

Tapi natal sesungguhnya bukan hanya romantisme sesaat. Kalau kita ingat sejarahnya; natal disertai juga dengan tangis kemiskinan, kesendirian, perjuangan dan usaha keras! Suka atau tidak, kita diingatkan setiap tahun, bahwa natal adalah saat untuk berbagi ? atau lebih tepatnya saat untuk MEMBERI! Bahkan natal mungkin juga merupakan “hari raya untuk memberi” terbesar di sepanjang tahun. Orang-orang sibuk memberi ucapan selamat natal, memberi hadiah baju baru, peralatan baru, bingkisan/parcel, makanan dan minuman; bahkan yang paling sederhana sekedar memberi kartu ucapan natal atau SMS dan BBM singkat tentang natal.

Sejak awal, natal adalah “musim untuk memberi”. Mulai dari Maria yang memberikan kebebasan masa mudanya untuk dipakai oleh Allah menjadi perantara keselamatan; Maria yang memberi waktunya untuk mengunjungi dan menemani Elisabeth di masa-masa akhir kandungannya; Maria yang harus memberi tempat bagi kelahiran bayi Penyelamat di kandang hewan; para gembala yang meninggalkan ternak gembalaannya untuk memberi penghormatan bagi bayi Yesus; para raja dari timur yang memberi persembahan terbaiknya. Dan jangan lupa, pertama-tama adalah Allah yang sudah terlebih dulu Memberikan Putera-Nya ke dunia untuk keselamatan kita.

Jadi, jangan ditinggalkan dan dilupakan semangat untuk memberi ini; karena jika kita melupakannya, natal akan kehilangan daya keselamatannya, karena sesungguhnya Allah sudah memberi banyak-bahkan memberikan yang paling baik, yakni Putera-Nya bagi kita – supaya kita pun selanjutnya ingat untuk memberi kepada yang lain.

Kalau perayaan Natal di gereja-gereja penuh sesak, liturginya meriah dan khidmat, lagu-lagunya indah merdu mendayu, syukurlah. Tetapi lebih dari itu, jika misalnya setiap keluarga, sekeluarnya dari perayaan natal di gereja sempat membeli nasi bungkus dan memberikannya kepada anak-anak dan keluarga-keluarga yang masih berkeliaran di jalan pada malam natal; itulah semangat natal yang sesungguhnya: kesadaran untuk memberi! Kalau anda tidak keberatan, sesudah perayaan natal masih mengundang sanak family dan tetangga sekitar untuk sekedar kumpul, makan dan minum bersama; itulah daya kekuatan natal yang menghidupkan.

Jika anda masih ingat orang-orang jompo dan anak-anak terlantar yang ditampung di panti asuhan, membeli sesuatu untuk dibagikan kepada mereka, itulah juga sebuah kekuatan untuk memberi ? ingat, mungkin ini hanya setahun sekali, tetapi tetaplah itu semangat natal yang mau kita rayakan.

Percayalah, kita tidak akan menjadi miskin ketika setahun sekali kita memberi kepada yang berkekurangan. Allah di dalam kebaikan-Nya tak pernah berhutang kepada kita. Apa yang kita berikan, pada waktunya akan kita dapatkan kembali berlipat ganda.

Jangan lupa, semangat untuk memberi adalah juga cara kita menyeimbangkan kembali kehidupan ini. Jauh di luar semangat untuk menumpuk segala sesuatu bagi diri sendiri; sementara akibatnya banyak orang lain tidak memiliki; dengan memberi kita menyeimbangkan kembali hukum kepemilikkan ? setelah kita disadarkan bahwa sang Pemilik Kehidupan sendiri telah memberikan hidup-Nya bagi kita.
SELAMAT NATAL DAN SELAMAT MERAYAKAN HARI UNTUK MEMBERI DAN BERBAGI KASIH DENGAN SESAMA

Salam doa dan berkatku, P. Yohanes Mario Berchmanz Notan Watun, CSsR.

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password