Mobilitas Warga Tanjung Bunga Terhambat Kondisi Jalan

JAKARTA-FBC, Wilayah di ujung Timur Pulau Flores yakni Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur memang sering disebutkan orang, namun tidak banyak orang yang mau melangkahkan kaki mengunjungi tempat ini. Warga di wilayah ini pun sering mengalami kesulitan bila berpergian ke luar wilayah. Pasalnya wilayah yang kaya budaya, dan hasil bumi yang melimpah seperti mente, kelapa,dan ?kopi, serta panorama alam pantai yang indah ini, sepertinya lepas dari perhatian karena kondisi jalan kini rusak parah.

Kondisi Jalan-yang menghubungkan Desa Basira dan Teluk Kelambu,-Kecamatan-Tanjung-Bunga 

Kondisi jalan dari Larantuka Ibukota Kabupaten Flores Timur, selepas ?bandara Gewayan Tanah, mulai simpang Delang hingga simpang Kolidatang rusak parah. Walau ?dari simpang Kolidatang sampai Waiklibang lumayan baik karena baru diperbaiki namun di sana sini masih terdapat lubang. Selepas Waiklibang menuju Turubean kondisinyasemakin parah.

Jika masyarakat Tanjung Bunga pesisir selatan dari Riangkoli sampai Waibao dan dua desa pesisir utara yakni Riang Keroko dan Turubean-Lamatutu tetap menggunakan kendaraan darat, ?namun karena dengan kondisi jalan yang ada maka waktu tempuhnya menjadi lebih lama dan membutuhkan tenaga ekstra untuk sampai tujuan.

Andreas Soge, ?putra Tanjung Bunga, yang selama sebulan berada di kampung halamannya, kepada FBC ?menceritrakan, masyarakat desa di paling ujung Flores seperti ?Basira, Latonliwo, Aransina, Bou Riang Kroko, ?Tanabelen sungguh mengalami kesulitan untuk berpegian. Jalan ?raya yang dibangun pada tahun 2004 dan 2010 kini dibiarkan terlantar, bahkan ke Aransina saat ini tidak bisa dilalui karena jalan telah berubah menjadi kali mati. Badan jalan yang telah dibuat itu tidak mengalami pengerasan lanjutan ataupun pembuatan paritnisasi atau semacam ?gorong-gorong.

Sementara, alternatif ?lain ke desa paling ujung ini yakni melalui kapal motor. Pemerintah pernah menghibahkan Kapal Motor, KM Sonata ?2 ?yang melayari rute Larantuka menuju Latonliwo, ?namun sejak 16 Mei 2012 berlabuh saja di Teluk Kelambu akibat salah satu peralatan kapal??rusak dan belum ada dana untuk mengoperasikan.

?Kehadiran KM Sonata 2, kini menjadi perbicangan masyarakat. Bagaimana tidak, sebelumnya masyarakat menginginkan pemerintah dapat memberdayakan potensi yang sudah dimiliki masyarakat Basira, tapi itu tidak terjadi,? kata Andreas Soge

Masyarakat wilayah ini memang sudah terbiasa hidup apa adanya. Tersendatnya pengoperasian kapal motor ini pun tidak dirasakan sebagai hal yang penting. Warga juga tidak terlalu memperdulikan apakah jalan raya akan beraspal atau tidak. Hanya saja, jalan yang kini ?ada dapat diperbaiki dengan pengerasan dan pemaritan agar sedikit mengurangi beban perjalanan. ?(Ben)

Sumber: floresbangkit.com

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password