Manusia Pasti akan mati

Manusia pasti akan mati. Cuma masalah waktu dan cara. Jika aku memutuskan mempercepatnya hari ini? Tak akan salah juga.

****

Aku mungkin mesti singgah sebentar di suatu tempat untuk menebus kesalahanku. Menurut kepercayaanku, Tuhan terlalu baik maka disiapkannya sebuah tempat yang disebut “api penyucian” dimana dosa dan kesalahan kita bisa dibersihkan disana sebelum kita benar-benar bersama beliau di Surga. Hmm. Aku lalu membiarkan orang-orang itu meratapiku. Bagi yang sungguh mempedulikanku. Kubayangkan keluargaku, pacar dan mantan-mantanku. Sahabat-sahabtku, kenalanku mungkin dan teman-teman semuanya..huuuftt). Atau mereka yang mensyukuri kepergianku. Tentunya yang sangat membenciku, aku tak tau adakah? Mungkin juga ada yang merutuki aku. Karena hutangku padanya terpaksa dihapus kcuali kedua orang tuaku menyanggupi membayarnya. I Don’t think so.

Selepas 40 hari kemudian kesedihan itu memudar dan perasaan kehilangan itu perlahan terlupakan atau kemudian cuma menjadi bagian dari kenangan dan masa lalu dari bumi yang tua. Aku tak akan menciptakan jejak apapun dengan kondisiku sekarang. Aku gagal berharap menjadi penting. Arghhh. Terjaga dari lamunanku, keinginan mati mudaku tiba-tiba sangat besar. Rupa-rupanya keputusasaan menghampiriku terlalu dini.

Lantas bagaimana jika aku kemudian memilih untuk berumur panjang? Tak ada salahnya juga. Aku mungkin sedang sibuk-sibuknya menjalin sebuah rahasia pribadi antara aku dengan orang yang aku sukai. Kata orang itu namanya cinta. Mereka menyebut energi hidup adalah cinta, eros. Entahlah. Aku bahkan akan bersemangat untuk memburu mimpiku hingga negara-negara di belahan Eropa. Aku pernah bermimpi tentang masa depan yang cemerlang, sebuah keluarga kecil bertumbuh di sebuah pedalaman di Flores dengan kebersahajaan dalam genggaman. Tapi ketika aku bangun, yang kuinginkan adalah menjadi seperti ayah ibuku. Dua hati yang ditakdirkan untuk bersama hingga kegemilangan senja yang belum usai. Akan usai. Bahwasannya manusia pasti akan mati juga.

Jika semuanya itu mungkin, sejatinya aku sedang berada dalam sebuah permulaan yang dini. Seperti sebuah pagi yang baru saja menetas di ufuk timur, aku bahkan belum bersolek diri atau melakukan apapun. Dalam genggamanku ada secarik kertas dari Tuhan. Isinya sebuah susunan otak yang memampukan aku untuk berpikir lantas bertindak. Diselanya selalu terhubung dengan sebongkah hati yang gunanya menajamkan atau menjernihkan atau memuluskan apa yang sempat terpikirkan di otak. Hati adalah tempat segala hartamu berada.

Dalam kertas tersebut bahkan tertulis seberapa harga sebuah perjuangan melipatgandakan rejeki. Kemungkinan yang satu akan melahirkan sejuta kemungkinan berikutnya. Tapi celakalah yang tak melihat tanda-tanda yang tersisip diantara yang lain dalam kertas itu. Yang tak penting ada, agar yang penting tetaplah menjadi penting. Air mata. Luka. Jurang. Duri. Api. Lagi-lagi ini masih terlalu dini. Belum jam sembilan ketika kelopak bunga biasanya pecah. Apalagi cakrawala yang membiru ketika yang terasa adalah mentari sedang menusuk ubun-ubun. Masih terlalu jauh untuk merasakan seperti yang ayah ibuku rasakan hari ini: senja menyemburatkan mega-mega jingga kuning sambil menunggu Tuhan datang menjemput. Tapi semuanya indah karena hidupmu telah diakhiri dengan sore yang tak kelabu.

Jika semua ini mungkin, sejatinya aku memang masih berada dalam sebuah permulaan hidup. Seperti baru kutahu sarapannya terlalu pahit lantas aku menyerah dan ingin mati saja. Ketika kutahu hujan badai kadang bisa membangunkanku pagi-lagi, lantas aku menyerah dan ingin bunuh diri saja. Kapan merasakan indahnya bunga pukul sembilan? Sengatan mentari siang bolong atau sepoinya pukul tiga?

Rupanya aku masih larut dalam lamunan pagi yang begitu horor ini. Mati muda. Tak berdaya rupanya diriku ketika kicauan pipit belum terdengar dari balik jendela kamar. Tapi beruntunglah jika Tuhan terlalu bermurah hati untuk menitipkan banyak tanda yang bisa kubaca sebagai bahan pertimbangan agar aku tak mempercepatnya hari ini. Cukuplah bahwa pesan itu sudah dengan cepat dibaca nuraniku. Mungkin ini juga yang namanya kebingungan di persimpangan depan rumah. Ke kiri yang mengarah ke jurang, atau ke kanan yang biasanya menawarkan harapan-harapan kunang-kunang. Kecil tapi cukuplah cahayanya. Tapi rasanya kakiku berat sebelah. Berat yang kiri: aku gagal berharap menjadi penting. Begitu yang tertulis tebal di dalam kepalaku.

Hmm…obrolan panjang hantu jiwa dalam kepalaku pagi ini lamat-lamat membuatku makin tak karuan. Sudah saatnya memulai hari ini sebelum kaum pukul sembilan menakut-nakutiku dengan harumnya sebentar lagi.

Lampu kamar mandi memanas dan pengap, resiko hidup dalam kamar delapan kubik dan kurang ventilasi.mungkin ini juga salah satu penyebab aku ingin mati muda. Ketidakberesan dimana-mana.

Mandi dan menghabiskan sarapanku yang tidak higienis sama sekali. Semangkok susu bubuk. Perutku mengantonginya setiap hari dengan terpaksa. Huffft…keterbatasan yang lain.

Jam duduk bonus akhir tahun kantorku menunjukkan pukul 08.45. Aku segera berangkat.

***

Kantorku di sebelah bukit sana, sebuah villa milik orang Korea tulen yang punya usaha di Denpasar dengan banyak bidang dan dimana-mana khususnya pariwisata. Spa, pusat kebugaran, villa dan restoran. Mungkin masih banyak lagi yang tidak kuketahui. Lagi-lagi ketidakpuasanku muncul disini. Ketidakadilan yang menohok. Gagal berharap menjadi penting. Rasanya itulah jampi-jampiku saban pagi. Litani yang lantas membuat semuanya stangan.

Aku boleh saja datang dan pergi dari kamar delapan kubik ini, menyentuh rutinitas sebatas ada tapi jiwa ini sungguh-sungguh terlilit oleh pikiranku sendiri. Jika kutahu rasanya pahit kenapa juga masih terus kucecap? Aneh. Entahlah. Aku yang aneh. Dan kucoba sederhanakan keanehan ini demi melegakan hati. Lagi dan lagi. Biarlah semua mengalir seperti air mengikuti waktu. Segalanya akan indah pada waktunya. Sungguh, cuma bahasa-bahasa penghiburan klasik!

Meski rasanya hanya akan memperburuk suasana hati. Ketika semua jalan yang terlihat buntu dan selalu tanpa pilihan.

Pilihan hidup. Sebuah kata baku yang selalu digemakan dimana saja dan kapan saja oleh orang-orang tua yang katanya sudah paham betapa sulit jadi orang dewasa. Aku tidak pernah punya cukup waktu menyalahkan keadaan dan juga tidak pernah punya cukup kekuatan untuk mensyukuri segalanya. Belakangan yg ada hanyalah penekanan terhadap keikhlasan bahwa hidup memang harus begitu. Semakin hari aku makin percaya, benar tak ada yang abadi. Harapan dan keyakinan sekalipun. Ough…keberingasan sakit jiwa ini makin akut. Langkah pertama hari ini diikuti hujan yg mengganas.

Tanpa mantel ataupun payung hitam kuseroboti saja hujan. Sudah telat lima menit dari jam masuk yang seharusnya. tidak berharap banyak untuk hari ini. Berlaku sajalah seperti hari-hari biasanya sehingga mudah untuk dilewati. Aku sungguh-sungguh sedang lelah.

***

Aku pernah memikirkan ini sebulan yang lalu: rutinitas ini biarlah membunuhku secara perlahan. Paling tidak yang sudah terlihat rupanya dari cermin, tubuh kurus yang kian tergerus oleh pikiranku sendiri. Meski sebenarnya kutahu cara paling pamungkas untuk mempercepatnya. Jalan pintas yang terlampau lurus, seperti ada bisikan dari balik tengkukku. Meski sadar, aku masih mampu menghirup sedikit asa dari wajah-wajah yang sama yang selalu kutemui di luar sana ketika saban pagi aku mulai membelah kota. Asa yang sepertinya akan bersinergi dengan semangkok susu meski akhirnya hanya habis dari atas meja untuk sebuah perang batin pandai menyaru: aku gagal berharap menjadi penting! terlalu sia-sia, meski aku pun tak kuasa.

Tak kuasa menyudahi cerita dari rongsokan hidup ini. Pada suatu masa aku sungguh merasa berkualitas dan di penghujung hari lagi-lagi aku merutuki lagi ketidaksesuaian yang terus berlangsung riuh disepanjang hidup ini.

Kantor hari ini sebagaimana biasanya tak ada yang terlalu serius, cuma setengah hari kupakai menekuni yang harus kulakukan. Lalu sisanya lagi kuhabiskan melalap isi blog Goenawan Mohamad. Impianku tak buruk. Menjadi seperti beliau suatu saat nanti. Bisa jadi hidup ini sungguh-sungguh indah dan kemudian aku menoreh titik penting yang lain di belahan bumi ini.

Oh, Tuhaaan…nyatanya aku masih bisa bermimpi. Mimpi yang seharusnya mampu menyudahi episode kelamku. Aku menggeser posisi dudukku mendekat ke arah komputer. Gandari. Aku menemukan itu dari tumpukan tulisan di blognya siang ini. Ada tertulis, dari sekawanan tanda-tanda alam ia melihat wajah kematian. Bahwa ia adalah bagian dari kematian itu sendiri: merasa ingin buta bersama suaminya dan meratapi keseratus putera-puterinya yg menggenggam ajal di medan perang. aku menarik napas dalam-dalam. Aku membayangkan rupa kesedihannya. kadang keputusanku tak ubahnya dengan apa yang pernah dilakukan Gandari. Memilih untuk tak melihat keindahan, kehidupan. Terlalu tipis untuk membacanya sebagai keputusasaan atau merasa penting untuk orang lain. Diantara keduanya ada lapisan masa ketika aku sungguh merasa berkualitas dan di hari lainnya aku menemukan banyak ketidaksesuaian di sepanjang hidup.

Mungkin ini pula konflik ketika yang kutemukan adalah setumpuk nilai yang selalu tak sejalan dengan nilai orang lain, bahkan ayah ibuku!

***

Saat genggaman pukul lima ada ditanganku dan ayat terakhir Gandari memaksaku mengklik tanda silang diatas page blog Goenawan Muhamad. Aku pun kembali dari mimpiku. Rasanya letih sekali. Hari ini telah usai dan aku masih dengan keinginan yang sama. Jika tidak berupaya membunuh semua keinginan dan mimpi-mimpiku yang terlalu tinggi aku mungkin dapat menyatu dengan laskar Gandari yang kira-kira bisa mati terhormat di medan pertempuran. Aku yang bertempur dengan diriku sendiri, memaksa nafas ini berbunyi terlalu keras setiap saat untuk meyakinkan dunia tentang keberadaanku. AKU INGIN JADI YANG PENTING!

Sebuah cerpen estafet karya Christian Dicky Senda dan Maria Pankratia

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password