Larantuka Siaga Banjir

LARANTUKA, FBC: Malam Minggu atau Sabtu malam (19/01/ 2013), seluruh kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur siaga banjir menyusul hujan deras yang dimulai sejak pukul 13.00 WITA hingga menjelang tengah malam.

Selama kurang lebih empat jam, kabut tebal disertai ?hujan yang sangat deras menyelimuti kota kecil yang terletak di telapak kaki gunung Ilemandiri itu. Jarak pandang cahaya lampu kabut hanya bisa menembus hingga 30 meter.?Sesekali, hembusan angin ?kencang menerbangkan ?butiran-butiran hujan yang tercurah lebat dari langit.

Gunung Ilemandiri yang tegak di belakang kota yang membentang dari kelurahan Waibalun hingga Weri itu tenggelam dalam tebalnya kabut basah. Laut dengan yang didepannya berbaris ?pulau Solor dan Adonara itupun? menghilang dibalut kabut.

Setelah kurang lebih satu jam diguyur hujan sangat deras, air berwarnah kecoklatan mengalir bebas memasuki halaman rumah-rumah penduduk. Sekitar pukul 17.00 waktu setempat, luapan air membawa serta kerikil dan sampah penghuni got dan parit.

Pantauan langsung FBC di Kelurahan Waibalun, sedikitnya mulai ada tanda-tanda kepanikan sekaligus kesiagaan warga. Luapan air berwarnah lumpur terlihat mulai dari lorong gapura sekitar 50 meter dari pelabuhan penyeberangan Feri ke arah barat kelurahan itu.

Dari sebuah kali mati di barat pelabuhan Feri yang membujur dari gunung Ilemandiri namun tak muara ke laut itu, mengakibatkan air meluap ?memasuki pemukiman penduduk hingga masuk ke ?rumah-rumah warga di sekitarnya.

Sebagian tumpahan air dari kali mati itu memasuki ruas sebuah jalan menurun di barat pelabuhan Feri. Inilah sedikitnya mengurangi risiko yang seharusnya ditanggung oleh sejumlah rumah di jalur kali tak bermuara itu.

Menjelang pukul 18.00 aparat Trantib kelurahan bersiap-siap memantau keadaan seluruh kelurahan dan mengumumkan agar seluruh warga bersiaga di rumah masing-masing untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Curah hujan mulai redah sekitar pukul 19.000 waktu setempat.

Walau demikian, pantauan FBC malam itu di bilangan barat pelabuhan Feri beberapa warga termasuk wakil ketua DPRD Flores Timur Antonius Gege Hadjon bersiaga di sebuah rumah di jalur banjir itu.

Sedangkan Wakil Bupati Flores Timur Valens Tukan sebelumnya terlihat melintas di kawasan itu untuk memantau keadaan sambil meminta informasi tentang keadaan warga setempat.

Melkhior Baku Tukan, warga ?Kelurahan Waibalun yang rumahnya ?letak persis di pintu datangnya banjir memilih mengungsikan keluarganya sejak pkl 16.00. ?Malam itu, Mel, demikian sapaannya, terlihat bersiaga bersama warga lainnya di RT.15 Kelurahan Waibalun.

Kepada FBC, dia menuturkan, banjir tahun ini mirip dengan tahun 2003 silam. Ia mengaku kaget ketika melihat air yang biasanya berwarnah bening berubah total mirip lumpur dengan luapan yang semakin deras di ruas jalan depan rumahnya.

Hingga malam turun dan memasuki hari baru Minggu 20 Januari 2013, curah hujan semakin berkurang, namun kabut masih menyelimuti kota kecil ini. Hingga Minggu pagi, matahari belum menampakan dirinya.

Pantauan FBC ke salah satu? pintu banjir belakang bilangan pelabuhan Fery di lereng gunung Ilemandiri Minggu pagi terlihat kali mati itu tidak lagi menyalurkan banjir seperti sehari sebelumnya.

Di sebuah jembatan penyaluran banjir di jalan atas kelurahan Waibalun, pintu air di jembatan itu nyaris tersumbat sampah yang berasal dari pembongkaran bangunan rumah. Tumpukan sampah yang sengaja dibuang di pintu penyaluran banjir warga itulah yang menjadi salah satu pemicu air kotor itu berbelok arah memasuki perumahan warga.

Perlu Penataan Kota.

Warga yang ditemui FBC malam itu di RT. 15 Kelurahan Waibalun, mengharapkan ada penataan kota, terutama pengaturan jalannya air di musim hujan. Seorang warga mengatakan, sebuah jalur banjir dari lereng gunung Ilemandiri yang membentuk kali mati di belakang pemukiman RT. 12, 13 dan 15 kelurahan Waibalun itu belum mendapatkan saluran permanen hingga ke laut.?Karena itu memasuki pemukiman banjir itu cenderung menyebar ke lorong, jalan dan rumah penduduk.

Wakil Ketua DPRD Flores Timur Antonius G. Hadjon mengatakan ke depan sudah direncanakan untuk membangun sebuah parit besar membentuk kali untuk menyalurkan banjir ke laut di setiap musim hujan.

Beberapa jam sebelumnya, Kepala Seksi Trantib Kelurahan Waibalun Marsel Kerans mengatakan, untuk meminimalisir terjadinya longsor dan banjir bandang, di kawasan lereng gunung, belakang pelabuhan Fery Waibalun dibuat kolam jebakan longsor dan banjir.

Dijelaskannya, kolam jebakan itu sengaja disiapkan untuk menampung lumpur, batu dan pasir juga terjadi longsor. ?Ketika longsor dan banjir, material yang turun itu tertampung dan terjebak di dalam kolam itu sehingga tidak mengancam pemukiman warga di bawahnya,? kata Marsel.

Camat kota Larantuka Yosef? Tua Dolu dihubungi FBC Minggu ?(20/01/2013) mengatakan, keadaan sebagaimana dialami warga Kelurahan Waibalun itu terjadi juga di semua kelurahan dalam kota Larantuka. Kondisi ini dapat dipahami lantaran letak kota ini persis di lereng gunung Ilemandiri yang curam.

Camat kota yang pada malam Minggu 19 /01/2013 berkeliling bersama istrinya memantau kota Larantuka hingga pukul 24.00 itu mengatakan, di perumahan Batu Ata Indah sebanyak belasan rumah terendam banjir.

Sedangkan di kelurahan Postoh yang pernah diporakporandakan banjir bandang tahun 2003 silam itu, sebuah batu besar terlepas dari bukit curam di belakang kelurahan itu dan menutup saluran banjir. Akibatnya, banjir berbelok memasuki rumah-rumah warga.

Menurut Camat Larantuka itu, malam Minggu 19 Januari, Wakil Bupati Flores Timur Valens Tukan juga berkeliling melihat keadaan warga kota yang paling parah diterjang banjir bandang tahun 1979 silam.

Hingga pagi menjelang siang, Minggu (20/01/2003) Larantuka dan sekitarnya masih diselimuti kabut tebal diselingi guyuran hujan. ?(Melky Koli Baran)

Sumber: www.floresbangkit.com

 

[mapsmarker marker=”4″]

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password