Keberadaan “atu” yang sudah mulai Hilang

Atu  dalam bahasa Lamaholot (bahasa penduduk Flores Timur dan sekitarnya) diartikan susunan batu di laut untuk menangkap ikan. Atu disusun membentuk setengah lingkaran dengan diameter sepuluh sampai dengan dua puluh meter, dengan tinggi dua sampai tiga meter dari dasar laut. Saat pasang surut atu menjadi tempat yang dituju untuk menangkap ikan dan biota laut lainnya. Ikan-ikan tak menyadari saat pasang surut dan  terjebak dalam wada yang menyerupai kolam tersebut. Penduduk Flores Timur memburu ikan di tempat tersebut hanya pada saat pasang surut. Dalam bahasa lamahot aktivitas mencari ikan di pagi atau sore hari dinamakan giman : berkarang.

Saat ini keberadaan atu hanya terlihat di beberapa tempat tertentu di Flores Timur. Selain karena produktivitasnya yang menurun sehingga kondisinya sudah tidak lagi diperhatikan. Di sisi lain usaha pemerintah dengan membangunan talut pengaman pantai menjadi ancaman serius bagi keberaadaan atu kedepan. Di sepanjang pantai Oka – Weri, atu hanya dijumpai di beberapa tempat seperti di pulau waibalun dan sepantaran kelurahan Waibalun, hingga pantai besar. (Din)

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password