Kamilus Tupen dan Ide Besar dari Pelosok Adonara

Di tengah-tengah rakyat, ada begitu banyak ide luar biasa yang hidup dan sukses dipraktikan. Bahkan di Adonara, sebuah ide menyerupai fabian society yang hidup sebelum Owen memperkenalkan koperasi di Inggris, dipraktikan dan berjalan dengan baik.

Cobalah bertandang ke Desa Tuwa Geotobi, Kecamatan Witihama di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur. Di sana Anda akan jumpai sebuah koperasi unik, Kelompok Tani Lewowerang (KTL). KTL unik, pertama karena para pendiri dan anggotanya menolak ia disebut koperasi, meskipun sejatinya ia sebuah koperasi. Kedua, KTL unik karena yang ditabung dan dipinjam bukan hanya uang, tetapi terutama sumber daya manusia.


Sang Penggagas

Jika ingin tahu lebih jauh tentang KTL, Anda harus berbincang-bincang dengan Kamilus Tupen, si penggagas dan pendiri.

Kamilus lahir di Witihama, Adonara pada 5 Oktober 1964. Di sana juga ia tamatkan pendidikan SD hingga SMU, meski sempat setahun di SMU Sapensia Kupang. Pada 1985, Kamilus membatalkan niatnya masuk perguruan tinggi. Ia memilih pulang kampung, menjadi guru honorer fisika pada SMP dan SMU di Witihama.

Semasa menjadi guru inilah, Kamilus jatuh cinta pada Vincentia Surat Suban dan menikahinya pada 1988. Pernikahan itu menghadiahi Kamilus seorang putri.?Berkeluarga berarti menambah daftar belanja rutin. Kamilus merasa pekerjaan sebagai guru honorer tidak janjikan kesejahteraan. Atas restu istri dan putri tercinta, Kamilus putuskan merantau.

Awalnya Kalimantan yang ia tuju. Tetapi kawan-kawan sekapal membujuknya pindah tujuan, Malaysia. Kebetulan, salah seorang kakak Kamilus sudah lama merantu di negeri itu. Kamilus beruntung. Tidak lama setiba di Malaysia, tepatnya pada 1990, ia diterima kerja di kantor cabang Ally Azran Holding di sebuah kota pelabuhan. Ally Azran Holding bergerak di bidang ekspor-impor dan expedisi. Awalnya ia bertugas membersihkan kantor dan membantu mengetik surat dan dokumen.

Pada 1991, manajer cabang terlibat masalah keuangan. Direktur dari kantor pusat di Kuala lumpur menunjuk Kamilus menjalankan tugas manajer. Karena kecakapan dan kejujurannya, pada 1996 Kamilus dipercaya membuka cabang di Kota Kinabalu, negara bagian Sabah, dan menjadi manajer di sana hingga ia memutuskan kembali ke Adonara pada tahun 2000.?Sepuluh tahun Kamilus menjadi manajer, dengan pendapatan per bulan 3.000 ringgit (pada kurs ketika itu sekitar Rp 6-7 juta) seharusnya ia telah cukup kaya. Tetapi ternyata tidak demikian.

Menurut Kamilus, ia tidak punya cukup banyak tabungan karena dua hal. Yang pertama ia harus sering bolak-balik Kinabalu-Adonara untuk menjenguk sang istri dan putri tercinta. Itu karena putrinya tak ingin bersekolah di Malaysia. Kedua, Kamilus menampung hingga 10 orang TKI asal Adonara di rumah yang dikontrakan perusahaan untuknya. Meskipun biaya hidup ditanggung bersama, sebagai yang lebih mampu seringkali Kamilus lah yang kebagian beban lebih besar.

Mas que en Koperasi
Tahun 2000 Kamilus memutuskan pulang kampung. Pertama tiba di Flores Timur, Bupati Feliks Fernandes menawarinya posisi manajer Flotim TV. Awalnya Kamilus menyambut baik, dan membentuk CV. Elco sebagai badan hukum yang mengelola Flotim TV (2000-2003). Ini adalah posisi dilematis, karena pada saat yang sama Kamilus membantu gerakan mengkritisi Fernandes. Kamilus akhirnya mengundurkan diri. Ia memilih menjadi petani di kampungnya, Desa Tuwa Goetobi.

Tinggal di kampung, Kamilus menemukan ide membangun sebuah badan usaha milik rakyat yang mencakup usaha simpan pinjam, koperasi produksi, koperasi konsumsi, hingga manajemen sumber daya manusia (crowed sourching). Ia memimpikan suatu saat nanti, kartu anggota organisasi ini berfungsi layaknya uang. Cukup dengan menunjukan kartu itu, anggota bisa membeli barang atau jasa dari anggota lainnya, mirip kartu kredit.

Ide Kamilus berasal dari pengalamannya di Malaysia. Ia melihat ada yang tidak beres dengan sistem ekonomi yang ada. Seseorang toke (majikan) bisa kaya raya hanya dengan menggaji seorang manajer dan banyak buruh untuk menjalankan usaha. Ia tidak perlu bekerja keras, karena itu urusan buruh. Ia juga tidak perlu memiliki kecakapan manajemen, karena ada manajer. Kamilus berpikir, jika rakyat bisa menghimpun modal, rakyat bisa menjadi majikan perusahaan, dan kekayaan yang selama ini mengalir ke segelintir pemilik modal bisa terbagi merata kepada rakyat.

Sejak 2004 ia memasarkan gagasannya; mengajak diskusi banyak orang; melakukan uji coba dengan beberapa kelompok tani di Adonara. Banyak orang menganggap mimpinya terlalu mengada-ada. Ada pula kelompok tani yang mencobanya tetapi gagal.

Kamilus sudah nyaris berputus asa ketika menjelang Hari Raya Paskah 2010, sekelompok anak muda dari Karantaruna Desa Tuwa Goetobi memintanya menghidupkan kembali gagasannya. Karena keyakinannya yang mulai pudar akan keberhasilan penerapan gagasan itu, ia memberi syarat dalam waktu satu hari para pemuda harus bisa mengumpulkan 30 orang untuk pertemuan awal.

Satu malam kemudian, 32 orang pemuda hadir dalam rapat, mendengar presentasi gagasan Kamilus. Mereka sepakat menamakan organisasi mereka Kelompok Tani Lewowerang (KTL). Pada pagi berikutnya, 30an orang menyetor simpanan pokok Rp 100.000,-.
Kini anggota Kelompok Tani Lewowerang sekitar 400an orang, tersebar di Adonara, Larantuka, Lewolewa, bahkan Malaysia dan Papua. Selain kantor pusat di Desa Tuwa Goetobi, KTL telah membuka 3 kantor cabang: 2 di Desa Pledo, 1 di Desa Lamabunga. Dalam waktu setahun, modal koperasi telah mencapai Rp 100juta.

Sepintas KTL seperti koperasi pada umumnya. Setiap anggota wajib menyetor Rp 100.000 simpanan pokok, Rp 10.000 per bulan simpanan wajib, dan simpanan sukarela.

Tetapi tidak seperti umumnya koperasi, KTL menolak disebut koperasi. Menurut Kamilus, praktik koperasi, terutama koperasi simpan pinjam di Indonesia menyesatkan. Untuk meningkatkan hasil usaha, anggota didorong terus meminjam, meski pinjaman itu untuk kebutuhan konsumtif. Alih-alih mensejahterakan rakyat, koperasi justru menyebabkan anggotanya terlilit utang sehingga menjual aset.

Untuk menghimpun modal tanpa menyebabkan anggota terlilit hutang, KTL menyediakan sejumlah layanan, antara lain:
1. Penyertaan Modal Usaha
KTL tidak melayani pinjaman konsumsi, tidak juga pinjaman investasi. Jika ada anggota yang hendak membuka usaha, dan membutuhkan uang untuk tambahan modal, KTL akan memberinya sebagai penyertaan modal. Atas penyertaan modalnya itu, KTL memberikan asistensi soal manajemen usaha. Menurut Kamilus, dengan sistem penyertaan modal dan assistensi manajemen, usaha rakyat lebih mungkin sukses. Sering kali rakyat gagal menjalankan usaha karena tidak memiliki cukup pengetahuan manajemen. Selain itu, sistem penyertaan modal menghindari kecemburuan sosial dan persaingan tak perlu, karena dengan sistem ini, usaha seorang anggota sebenarnya merupakan usaha kolektif. Laba usaha yang menjadi bagian koperasi akan dibagi sebagai SHU kepada anggota KTL.

2. Simpan PinjamTenaga Kerja
Anggota yang membutuhkan uang untuk mengupah pekerja saat membuka kebun atau membangun rumah dapat membuka pinjaman di KTL. Tetapi bukan uang tunai yang anggota bawa pulang. KTL akan mengirimkan tenaga kerja (serta bahan bangunan dari kios KTL). Jika anggota yang sedang membangun rumah ini kemudian terlibat sebagai tenaga kerja di pekerjaan anggota lainnya, ia bisa saja tidak mengeluarkan uang sama sekali untuk melunasi pinjamannya, karena pinjaman itu dicicil dari upah kerjanya.
Saat itu sudah ada sekitar 4 rumah anggota yang pembangunannya ditangani koperasi. Beberapa anggota yang rumahnya dibangun itu adalah TKI yang berada di Malaysia dan perantauan di Papua.

3. Pembelian Komoditi Anggota
Selama ini KTL membeli mete dari anggota dengan harga lebih tinggi dari harga yang ditawarkan pada tengkulak atau operator pedangang besar dari Larantuka dan Maumere. Tahun kemarin, ketika rata-rata harga beli mente di tingkat petani Rp 10.000, KTL justru bersedia membeli pada harga Rp 11.000. Oleh koperasi, mente dicarikan pembelinya, dijual dengan harga Rp 12.000. Keuntungan Rp 1.000, dibagi dua, Rp 750 menjadi hak anggota (pemilik mente), dan Rp 250 merupakan upah manajemen.
Tahun 2011 ini, dampak dari kehadiran KTL adalah mempertahankan harga beli mente di Adonara Rp 12.000 selama 3 bulan, ketika di tempat lain harga telah jatuh Rp 10.000 per kg.

4. Kios Koperasi
KTL memiliki kios di kantornya. Dahulu kios ini hanya menjadi gudang atau tempat distribusi. Ujung tombak pemasaran adalah kios-kios milik angggota. Tetapi karena persoalan pembukuan (pencatatan keuangan) yang kurang tertib, barang-barang koperasi tidak lagi dititipkan di kios anggota.

Anggota yang kesulitan uang membeli pangan dapat membuka pinjaman di koperasi dan mengambil beras di kios KTL. Selain itu, KTL juga menjalankan tabungan pendidikan untuk kebutuhan membiayai sekolah anak.

5. Group Pemadam Kebakaran.
Untuk mengatasi kebakaran lahan dan hutan di Adonara, KTL memfasilitasi group pemadam kebakaran yang anggotanya berasal dari anggota KTL.

Kamilus bangga dengan apa yang telah ia lakukan. Salah satu dampak sederhana tetapi sangat membahagiakan dirinya adalah ketika kehadiran KTL membantu mensejahterakan seorang janda di kampungnya. Si ibu yang ditinggal mati sang suami mendapat warisan tanah luas namun tidak tergarap karena ketiadaan modal membiayai tenaga kerja. Layanan ?simpan-pinjam tenaga kerja? yang disediakan KTL memastikan lahan-lahan tak tergarap itu berubah menjadi sumber kesejahteraan.***(gregorius hormat)

Sumber: www.perkumpulanpikul.org

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password