Ikan Flores Timur bebas formalin

Mari bapak-bapak periksa ikan kami agar masyarakat juga tahu ikan yang kami jual mengandung formalin atau tidak. Belakang ini kami juga resah dengan pemeberitaan di media tentang ikan dari Flores Timur. Kami tidak tahu apa itu formalin. Kami hanya jual untuk makan, maka sekarang silahkan periksa ikan kami, agar kita sama-sama puas setelah dibuktikan.? Kata Subaida Amanda, seorang penjual ikan di Pasar Inpres Larantuka, menyambut kedatangan Tim pemeriksa dari Dinas Kelautan dan perikanan Kab. Flores Timur.

Subaida mengaku ikan yang dijualnya dibeli dari papalele di Waiwadan Kecamatan Adonara Barat. Hampir setiap hari Subaida menjual ikan di Pasar ini. Biasanya dia membeli ikan di Pelabuan Pantai Palo Larantuka yang dibawa oleh para papalele dari beberpa tempat di Adonara Barat dan Delang Kecamatan Ile Mandiri. Subaida mengaku dia adalah pembeli ?tangan kedua?.
Pagi, Rabu (04/02/2015) tim pemda Flotim dipimpin Asisten Perekonomian dan Pembangunan Petrus Pemang Liku melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di sejumlah lokasi pemasaran ikan yang tersebar di jantung kota Reinha. Tim yang terdiri dari unsur dari dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas Kesehatan, Badan Kesatauan Pol. Pamong Praja, Dinas Perindustria dan Perdagangan, Bag. Administrasi Ekonomi dan Sumber Daya Alam Setda Flotim serta Polres Flores Timur memeriksa dan melakukan tes dengan mengunakan alat tes kit formalin pada setiap ikan yang hendak dipasarkan.
Menurut Pemang sidak ini dimaksudkan untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat apakah ikan yang beredar di pasar layak atau tidak untuk dikonsumsi oleh masayarakat. ?Hari ini kita melakukan sidak tiga lokasi, yakni pasar Inpres Larantuka, PPI Amagarapati dan Pasar Oka di desa Lamawalang. Kita akan mengetahui apakah ikan yang beredar di Larantuka mengandung formalin atau tidak?, Tandas Pemang.

 

Ibu-ibu penjual (pepelele) ikan di Pasar Inpres Larantuka
Ibu-ibu penjual (pepelele) ikan di Pasar Inpres Larantuka

Astuti dari Adonara Barat, yang sehari-hari menjual ikan anak tongkol mengakui animo masyarakat untuk membeli ikan segar drastis menurun akibat pemberitaan media. Para pemebli kuatir ikan yang kami jual mengandung formalin. Padahal, seperti apa formalin itu kami sama sekali tidak mengerti apa-apa. ? Ikan saya beli dari Delang dan Waikelibang Kec. Tanjung Bunga, satu basket dengan harga 350 ribu lalu saya simpan dalam boks-boks yang telah diisi balok-balok es. Namun belakangan ini ikan kami hanya sedikit yang terjual, banyak yang tidak laku?, Keluh Astuti.

Hal yang sama diakui Nurhawa, penjual ikan teri asal Nangalele Kab. Sikka. Hampir setiap hari selasa dan rabu Nurhawa menjual ikan di Pasar Oka. Ikan dibeli dari orang-orang Bajo di pesisir pulau Babi. Dengan ongkos transport 100 ribu Nurhawa bersama rekan-rekannya menumpang pick up berjualan ikan. Ia mengaku pemasukan dengan menjual ikan di pasar oka agak sepi.
Beberpa pembeli, yang dijumpai di Pasar Lamawalang mengaku tak berani membeli ikan segar setelah mengetahui pemeberitaan yang mengatakan ikan Flores timur mengandung formalin. Mereka memutuskan untuk membeli ikan teri untuk dikonsumsi bersama keluraganya. Lain halnya dengan Rosidah seorang pembeli dari Postoh kec. Larantuka, tidak takut dan kuatir untuk membeli ikan segar. Rosidah mengatakan bahwa hampir semua ikan yang dijual di Pasar ditangkap oleh nelayan Flores Timur. ?Buat apa kuatir atau takut? yang tangkap ikan itu kan orang-orang kita. Bukan baru sekarang, tetapi dari dulu ikan yang kita makan ditangkap di laut kita dan oleh orang-orang kita. Lalu buat apa kuatir?? kata Rosidah.

Tim Terpadu dari Pemda Flotim tengah memberikan sosialisasi tentang ciri-ciri ikan formalin
Tim Terpadu dari Pemda Flotim tengah memberikan sosialisasi tentang ciri-ciri ikan formalin

Hasil sidak yang dilakukan di tiga lokasi tersebut tidak dijumpai ikan yang mengandung formalin. Pemang mengharapkan agar sidak hari ini hendaknya dilakukan secara rutin dan berkesinambungan. Tidak hanya memeriksa dan mengawasi ikan yang mengandung formalin tetapi juga memerika ikan hasil tangkapan dengan menggunakan bom atau zat berbahaya lainnya yang merusak kesehatan tubuh dan alam bawah laut kita. Diharapkan kepada Dinas?Kelautan dan Perikanan agar membuatkan spanduk atau baliho untuk mengiatkan masyarakat akan bahaya penggunaan zat kimia pada ikan dan ekosistem laut. Beberapa fasilitas pasar dan pelabuan seperti pintu masuk dan keluar harus diperketat pengawasannya agar kita tidak kecololongan seperti sebelumnya. Tambah Pemang. (Din)

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password