Gubernur Minta Bupati Flotim Selesaikan Masalah Redon ? Adobala

KUPANG.FBC- Warga Desa Redon Tena dan warga Desa Adobala di Kecamatan Klubagolit, Adonara, Kabupaten Flores Timur,?pekan lalu nyaris bentrok. Namun pemerintah dan pihak keamanan setempat langsung turun tangan sehingga tidak terjadi bentrokan antar warga.


Gubernur NTT, Frans Lebu Raya kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin (31/12) mengakui, kalau nyaris terjadi bentrokan antar warga kedua desa yang bertetangga ini. ?Setelah saya dapat informasi itu, saya langsung minta Bupati Flores Timur untuk turun ke lapangan mengecek kebenaran informasi itu. Untung cepat dilakukan pertemuan sehingga tidak sampai terjadi bentrokan antar mereka,? kata gubernur sambil mengingatkan agar warga jangan main hakim sendiri.

Gubernur mengatakan,??peristiwa itu??terjadi karena perebutan lahan di perbatasan antar kedua desa itu. Saling klaim antar warga sehingga memicu terjadinya ketegangan antara mereka.

Lebu Raya yang juga putera Witihama Adonara itu tahu pasti masalah yang terjadi antara dua desa itu, karena itu dia langsung memerintahkan Bupati Flotim, Yoseph Lagadoni Herin untuk turun langsung ke dua desa tersebut dan melakukan pertemuan dengan warga di sana.

?Bupati sudah turun ke sana dan bertemu langsung dengan masyarakat di dua desa itu. Kita berharap apa yang dibicarakan dengan bupati dapat mereka lakukan dengan baik,? kata gubernur tanpa menyebutkan apa isi pertemuan bupati dan warga di sana.

Anggota DPRD Flotim asal Kecamatan Klubagolit, Sahar Libu Patty yang dihubungi melalui telepon selulernya, Senin (31/12) mengakui, Bupati sudah turun ke dua desa itu pada Hari Raya Natal.

?Bupati pertama datang ke desa Adobala dan bertemu warga di sana. Setelah dari Adobala dia langsung ke Redon. Bupati minta agar warga tidak perlu lagi meributkan masalah lahan yang diperebutkan karena sudah diselesaikan secara adat dan hukum beberapa tahun lalu. Saya juga hadir dalam pertemuan itu,? katanya.

Dia mengatakan, pada tahun 1982 lalu pernah terjadi perang tanding antar warga kedua desa itu hingga menelan korban jiwa dua orang warga Desa Adobala masing-masing Frans Kopong Laot dan Kamilus Kopong Miten.

?Ini bisa terjadi karena lahan yang disengketakan antara kedua warga itu sudah diselesaikan pasca perang tanding tahun 1982 lalu,. Dan lahan itu sah menjadi milik warga Desa Adobala sehingga selama ini warga Desa Adobala mengolah lahan ini. Saya tidak tahu kenapa masalah ini diungkit kembali saat ini,? katanya.

Kesempatan itu Gubernur juga mengharapkan bentrokan antar warga??Lewonara dan Lewobunga beberpa waktu lalu juga sudah bisa terus diredam agar masyarakat bisa dengan tenang menjalankan aktivitas mereka masing-masing.

?Kita berharap Lewonara dan Lewobunga tidak boleh terjadi lagi. Masyarakat sudah mulai tenang dan kita berharap akan terus tenang selamanya,? kataya. (Oni)

Sumber: www.floresbangkit.com

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password