Gripe Tak Lagi Perawan dan Baleo Kehilangan Makna

Saya menulis tentang Kampungku yang semakin ‘asing’

(Dari negeri asing, aku melihat senyum kecutmu ketika “sole-oa” kehilangan syairnya tentang derita dan ketulusan. Ombak yang mendeburi pantai, tak lagi memberimu kabar tentang laut yang merah di saat ‘Serdadu Koteklema’ mendaratkan peledangnya. Engkau kehilangan sarung dan selendang tenun.)
Oleh : Sumarlin Wuwur

Aku meninggalkanmu yang berdiri tegar di atas cadas. Kala itu kau masih perawan, bibirmu belum dialasi gincu demikian juga kuku putih di jari lentikmu. Saat terkahir aku melambaikan tanganku, engkau masih mengenakan sarung tenun dengan selendang yang melilit di lehermu. Sungguh cantik alam mendandani dirimu. Aku terpesona.

Belum pernah aku mendapat kabar darimu sejak terakhir kali lilin kunyalakan pada pusarah itu. Aku rindu mengakhiri hari-hari di puncak Gripe ketika matahari mencium Tanjung Atadei. Kisah ibuku, paling indah jika matahari datang dari timur di balik Labalekan yang curam dan ketika itu kita sedang meninggalkan langkah di lereng Posiwatu. Samudera Sawu akn terlihat bagai permadani biru yang tenang.

Ah! Rindu ini semakin menggelitik mengenang teriakan anak-anak yang berlari saling mengejar di antara para lelaki tua yang sibuk membenahi pukat, menarik sampan di pelataran Naje.
Jauh di negeri asing, aku mendengar baleo yang engkau teriakan hingga lamafa mengakhiri tempulingnya ke jantung koteklema.
Sungguh, aku rindu pada laut yang merah ketika pasukan pemburu mendaratkan peledangnya ke bibir pantai, membawa darah, daging dan tulang untuk mengukir senyum para anak yatim dan janda.

Lama tak bersua, aku mendapat kabar dari warkat seorang Bidadari tentangmu. Engkau telah kehilangan perawanmu dan senyummu tak lagi tulus. Sarung dan selendang tenun yang indah telah kau ganti dengan balutan dari mesin-mesin pabrik. Anak-anak yang dahulu polos, kini mulai malu bertelanjang di tepi Naje. Ombak yang berdeburan pada batu-batu hitam itu, tak lagi mengumandangkan syair-syair “sole-oa”.

Paduka Ratu,
Malam ini kita sedang menuai rindu, tetapi jiwaku sedang berkelana ke dapam pangkuannya. Paduka sedang menakar cintaku padamu, tetapi aku sedang menuangkan gelisahku pada nyanyian para ibu di pelataran Santo Petrus.

Lamalera! Ia telah kehilangan perawannya. Aku takut di suatu waktu nanti, senyum para anak yatim dan ceriah janda-janda miskin itu terkapar di atas cadas, tergulung kejamnya ombak dan teriakan baleo hanya sebatas kemerduan menjemput koteklema yang semakin jauh maknanya.

Paduka Yang Mulia,
Aku rindu bercanda denganmu ketika senjah memberikan nyalanya untuk kandil pada nisan-nisan putih di samping Bode yang kaku.

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password