Gedung SDI Bou-Flotim Seperti Kandang Ayam

POS KUPANG.COM, LARANTUKA — Gedung Sekolah Dasar (SD) Inpres Bou di Dusun Tanahbelen, Desa Lamatutu, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur, mirip kandang ayam. Sekolah ini terletak di wilayah yang terisolasi selama 67 tahun sejak Indonesia merdeka.

Dusun itu baru mendapat akses jalan hasil kerja Pra Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD) dan pertama kali mobil masuk tanggal 8 Agustus 2012 jam 8 malam atau pukul 20.00 Wita.

Saat rombongan Kepala Staf Kodim 1624/Flores Timur, Mayor (Arm) Wahyu Martono, bersama Kapten (Inf) Laode Rahim dan Kapten (Inf) Suhardi mengunjungi sekolah itu, Jumat (7/9/2012) sore, menemukan lima orang anak kelas 6, Nobert, Evi, Ako, Berto dan Helen sedang mengikuti pelajaran tambahan yang diberikan guru kelas, Pius Deweng, di ruang kelas yang sudah bocor atap alang-alangnya, dinding terbuat dari pelupu (bambu cincang) sudah lapuk.

Bangku dan meja terbuat dari bambu yang sudah miring nyaris tumbang. Lantai kelas masih asli tanah, jika hujan turun akan lumpur karena atap alang-alang semuanya sudah bolong.

Di kelas 6 terdapat enam orang murid yang diajar Pius Deweng. Sore itu Mery, seorang siswi, tidak mengikuti studi sore. Saat Kasdim masuk ke ruang kelas, Pius Deweng sedang mengajar pendidikan kewarganegaraan dengan topik pendiri negara NKRI Bung Karno dan Bung Hatta.

Rombongan yang memasuki ruang kelas itu terharu meneteskan air mata. Anak-anak kelihatan gugup mendapat kunjungan dari perwira TNI berseragam lengkap. Kasdim Wahyu membesarkan hati anak-anak dan gurunya. Wahyu menyarankan anak-anak tabah menghadapi kenyataan yang jauh tertinggal dari wilayah lain di negeri ini. “Adik-adik tetap tabah dengan kondisi ini. Tetap semangat, suatu saat anak-anak akan menjadi orang besar,” kata Wahyu.

Untuk mencairkan suasana, Kasdim Wahyu mengajak anak-anak menyanyikan lagu-lagu perjuangan seperti Satu Nusa Satu Bangsa, Maju Tak Gentar dan mengucapkan Pancasila. Walaupun udik, anak-anak bisa menyanyi lancar dan mengucapkan Pancasila secara benar.

Pius Deweng menjelaskan, sekolah itu memiliki enam kelas dengan jumlah murid 56 orang. Dikatakannya, sekolah itu berdiri tahun 1970-an dengan bangunan berdinding pelupu, beratap alang-alang, lantai tanah, bangku dan meja dari bambu.

Walau demikian, tidak menyurutkan semangat mereka mengajar dan anak-anak belajar. Tamatan dari sekolah itu ada yang sudah pegawai, ada yang sudah sukses dan ada yang sedang kuliah di Kupang.

Saat ini sekolah itu diajar lima orang guru pergawai negeri sipil (PNS) dan dua orang tenaga honor yang adalah putra daerah. Kepala sekolah, Goris Ratu Koten baru meninggal dunia. Dalam kondisi itu, dua orang guru, Yoseph Talu Maran dan Kristina Uto Piran minggat sejak liburan lebaran. Kedua guru itu belum kembali hingga saat ini. Pantauan Pos Kupang, sekolah itu terdiri dari lima kelas dengan kondisi yang sama.

Di halaman sekolah itu terdapat sebuat net bola voli. Sebelah timur bangunan alang-alang itu terdapat bangunan beratap seng, berdinding papan dengan empat ruang kelas. (gem)

Editor : alfred_dama
Sumber : Pos Kupang

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password