Catatan Tentang Lewotana

Memasuki zaman global, apa yang dapat diandalkan segumpal tanah di ujung Timur Pulau Flores ini? Adakah sesuatu yang patut dibanggakan ketika orang2 dari tempat yang jauh datang dan bertanya, apa yang unik dari daerah ini?

Sementara segelintir yang dinilai unik dan tersisa, sedang bergerak menuju kepunahan. Semua itu bukan suatu yang disengaja, melainkan banyaknya tekanan kehidupan yang terus melambung tinggi melampaui kemampuan…baik secara ekonomi maupun penghayatan diri.

Pelan namun pasti, semua ini terkikis begitu rupa, sampai orang tak tahu lagi harus berbuat apa dan bagaimana guna mempertahankannya.

Adat istiadat yang unik itu, yang banyak menyita waktu, tenaga, dan biaya.Ilmu ekonomi menyatakan 100 persen tidak efisien, namun orang Adonara tetap menyanyikan dengan gegap gempita, maju tak gentar demi adat istiadat.

Sampai kapankah hal itu akan bertahan? Dan terlebih lagi, masih tersisa berapa yang peduli…? Dan kalau pun saudara peduli, apakah yang akan anda perbuat untuk melestarikannya?

Dunia zaman sekarang, berlakulah pepatah, besar pasak dari tiang…dan yang terjadi sekarang. pasak besar tanpa tiang opu alap. Ri e di hi ine rabe bata ro. nage ta a neng gaku nare…?

Seakan tak ada waktu buat merenung. Putaran roda kehidupan yang terasa kian kencang, semakin membawa anak manusia terjebak dalam arus pusaran yang kian tak terkendali.

Berbareng dengan itu, semangat cinta diri kian mekar, sementara perhatian kepada sesama semakin tak mendpt tempat. Cinta sejati itu kian samar dalam pandangan dunia yang kian berdebu.

Masing-masing orang dan kelompok mulai membangun kekuatan sendiri-sendiri, sekaligus mengais keuntungan sebanyak mungkin bagi diri sendiri dan kelompok.

Rasa peduli antar sesama manusia mulai menjadi barang paling langka dijumpai di zaman ini. Hal ini belum ditambah dengan keserakahan yang kian mendapat tempat ditambah pemimpin yang loba dan hanya memikirkan tentang kekekalan kedudukan yang kian rapuh.

Orang seakan lupa bahwa hidup ini sedemikian rapuh dan singkat. Orang seakan lupa pula, bahwa dunia bukanlah alam abadi. Semuanya bertarung habis-habisan untuk mendapatkan segala sesuatu yang semua kita tahu, hal itu akan tenggelam pula dalam kebinasaan. Mengapa?

Rupanya kesadaran diri yang perlu dibangun, kembali kepada yang hakiki sebagai manusia yang menyadari kelemahan dan keterbatasan diri, agar syukur dan pujian bagi-Nya tak pernah akan terputus hingga kekal….

Hipa Lali Duli, Hide Teti Lewo, Koda Dike Kirin Sare, Taan Bura Gere Lewun Tanah….

Bernadus Gana

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password