Bunda Maria Menangis Pada Senja Gerimis

Maria menangis, Yesus termenung dengan salib berat di pundaknya, keduanya bertemu dalam perjumpaan Bunda dan Putra yang maha berat. Gerimis penuhi langit kota. Dari arah belakang terdengar puisi dibacakan lirih dan dalam;

?. tersobek hati-Nya menggendong rindu mukadas, tertikam tombak- tombak Hannas dan Kayafas, Urat-urat nadi meleleh dosa//

Duhai rindu Maha kudus, Bunda mana rahimnya tak pedih, Menatap anaknya dibantai sembilu?//

Ah! Tajuk-tajuk mimpi Sang Perawan, Kini membuahkan kenyataan paling rawan, Ada cinta terpatri pada pertemuan ini, ?Aku ini hamba Tuhan, Jadilah padaku menurut perkataan-Mu//

Dan gerimis terus berjuang menjejak tanah, semakin sedikit namun tanah telah lama basah. Ratusan umat terdiam dalam haru yang sesak, beberapa kali terdengar isak tertahan dari pinggir lapangan berbatas pagar Katedral dan tali temali, mereka tak beranjak pergi, enggan bergeming dan larut dalam pedih yang perih. Di dalam lapangan pelataran parkir dan halaman Gereja, adegan itu terus berlangsung. Yesus diadili, Yesus disesah, Yesus diseret dan dipukuli, puluhan Yahudi menyorakinya dan para algojo semakin bertenaga mengayunkan cemeti mencambuki Yesus yang terengah menahan sakit, terseret beban salib besar, hingga beberapa kali terjatuh tertimpa salib nan berat.

Darah sebentar deras mengalir sebentar menetes perlahan, mahkota duri itu menancap pasti di kepala, seluruh badan telah habis dicambuki. Tapi jalan belum selesai, masih panjang salib itu harus dipikul. Beberapa kali terdengar erangan Yesus, seperti tak kuat menahan sakit. Sound system meneruskan nafas-nafas sengalnya pada mereka yang menyaksikannya dari pinggir dan tangis semakin tak tertahan. Beberapa merutuki para Yahudi yang terus bersorak saat Yesus jatuh, beberapa lagi melenguh perlahan mengumpulkan nafas yang tersisa agar kembali berjalan sempurna saat Veronika mengusapi wajah Yesus. Jalan belum selesai.

Pria malang itu terus dipaksa memikul salib berat-Nya, hingga sampai di bukit kecil, Pakaian Yesus Ditanggalkan. Gerimis tak lagi turun, berganti air mata di pipi mereka di pinggir arena yang mengalir deras. Sekujur tubuh Yesus penuh memar dan luka, darah menetes di beberapa tempat. Algojo sejenak beristirahat, prajurit lainnya sibuk mengamankan para Yahudi yang terus bersorak girang atas derita itu. Sound system kembali mengeraskan suara narator:

? Golgota? Golgota! ke cakrawala mana kau campakkan?, Oh jiwa mahakudus, satu-satu sayap-Nya gugur: Bapa? mengapa Aku Kau tinggalkan?//

Salib telah tegak berdiri, Yesus terpaku di sana bersama dua orang penyamun di kiri dan kanan-Nya. Umat tak beranjak pergi, bertahan dari pinggir pagar besi dan tali temali pembatas menyaksikan drama itu. ?Sudah selesai,? kata Yesus dari atas salib-Nya lalu kepala-Nya terkulai. Maria meratap di kaki salib, ?Darah dari darahku? Daging dari dagingku? Putraku? Biarkan ibu ikut bersama-Mu?

Betapa dia telah kehabisan kata, derita itu terlalu pedih untuknya, putranya, anak terkasihnya, yang dikandung dari Roh Kudus, kini tak bernyawa. Ya? Bunda mana rahim-Nya tak pedih, menatap naknya dibantai sembilu? Kini dipangkunya anaknya tak bernyawa yang telah diturunkan dari salib, meratap semampunya, lalu mengantarnya ke liang kubur. Dan selesai????

Demikianlah penggalan Aktus Jalan Salib Hidup yang dipentaskan dalam rangkaian ibadat Jalan Salib di halaman Gereja Katedral St. Maria Assumpta Ruteng hari Jumat (8/4) kemarin. Dua hari sebelumnya, pelataran parkir dan halaman Gereja telah disulap menjadi tempat jalan salib hidup. Tiga panggung dibangun di pelataran parkir, untuk Imam Agung, untuk Pilatus dan untuk tempat penyesahan Yesus. Semua persiapan beres dan tibalah hari pentasan. Orang Muda Katolik (OMK) Reinha Rosari Katedral Larantuka sudah siap dengan kostum pentasan, dan persiapan mental untuk mementaskan yang terbaik, dan berhasil melakukannya dengan sangat baik.

Mereka tiba di Ruteng hari Senin (4/4) lalu dalam rombongan besar sekitar 90 orang, menempuh perjalanan panjang dari Larantuka. Tahun ini mereka memang ?melamar? untuk melakukan pementasan Aktus Jalan Salib Hidup di Paroki Katedral Ruteng. Ini adalah kali pertama, aktus ini dipentaskan di luar Larantuka. Rencana itu disambut baik oleh OMK Lumen Gratiae Paroki Katedral Ruteng yang segera melakukan berbagai persiapan penyambutan dan bertindak sebagai fasilitator untuk kegiatan kolaboratif ini. Dan terjadilah. Pentasan Aktus Jalan Salib Hidup (Drama Penyaliban Yesus 14 perhentian) mulai dipentaskan pada jam 3 sore sampai menjelang jam 6 sore WITA.

Hampir seribu umat berdesakan menyaksikan prosesi, sebagian besar umat Katolik yang sedang dalam masa Prapaska, beberapa lainnya adalah umat agama lain yang juga ikut menyaksikan pentasan besar itu. Hujan deras yang mengguyur Ruteng dan sekitarnya sempat mengganggu di awal acara, namun tidak cukup berkuasa ?mengusir? umat yang telah memadati kawasan Katedral Ruteng sejak jam 2 siang WITA. Beruntung, saat pentasan memasuki perhentian Veronika Menyapu Wajah Yesus, hujan deras yang berganti gerimis benar-benar berhenti.

Pentasan Aktus Jalan Salib Hidup dalam rangkaian ibadat jalan salib ini sukses besar. Para pelakon berhasil menggiring emosi umat ke arah yang mereka mau. Penghayatan pada naskah berubah menjadi penjiwaan yang luar biasa. Algojo mencambuki Bedi yang berperan sebagai Yesus tanpa ampun. Tubuh Bedi benar-benar terluka, sementara kepalanya juga tertusuk duri. Mahkota Yesus ?Bedi? memang dibuat dari tumbuhan berduri, asli, bukan tiruan. Maka darah yang mengalirpun asli, bercampur efek buatan. Simpati umat yang mengikuti ibadah itupun tertuju pada Yesus dan caci maki sungguh mereka berikan pada algojo, prajurit dan para Yahudi, juga kepada Imam Agung dan Pilatus yang dianggap telah membuat Yesus menderita. Tetapi mau bagaimana lagi? Mereka hanya menjalankan tuntutan skenario dengan baik dan benar.
1302446514956435171

Naskah jalan salib hidup ini disusun berdasarkan Kisah Sengsara Yesus dalam Injil Perjanjian Baru, digabungkan dengan beberapa puisi penyair W.S. Rendra dan sumber-sumber lainnya. ?Butuh waktu lebih dari sebulan untuk menyusun naskah ini. Beberapa kali harus berganti dalam masa latihan, termasuk menentukan puisi yang benar-benar tepat. Puisi Rendra kami anggap paling pas untuk kesempurnaan naskah ini,? kata Frank O Kico, sutradara pentasan itu. Kico juga menjelaskan sebelum menjalani proses latihan, dilakukan casting untuk semua pemeran yang terlibat. ?Orang-orangnya kita ambil dari anggota OMK Reinha Rosari Larantuka yang tidak punya basic teater sama sekali, sehingga lumayan menyulitkan dalam proses latihan. Untuk pemeran Bunda Maria saja, kami pernah latihan dengan tiga pemeran sekaligus selama beberapa waktu sebelum memutuskan untuk memilih satu yang dianggap pantas memerankan kerapuhan Maria,? tuturnya.

OMK Reinha Rosari memerlukan waktu dua bulan latihan untuk pentasan Aktus Jalan Salib Hidup ini, dan selama masa itu mereka memenuhi kebutuhannya sendiri, berdiskusi, dan bersama berpikir agar pentasan ini bisa sukses. Hal tersebut diakui Romo Fransikus Kwaelaga Pr, pastor pendamping (moderator) OMK Reinha Rosari Larantuka. ?Selama proses latihan, saya hanya sesekali datang dan memberi beberapa masukan kalau diperlukan. Selebihnya, anak-anak OMK melakukannya sendiri,? tutur pastor muda yang biasa disapa romo Ancis ini sambil menambahkan bahwa dirinya senang karena anggota OMK Reinha Rosari Larantuka tampil mengesankan dalam pentasan ini.

Ibadah Jalan Salib dalam kemasan Aktus Jalan Salib Hidup biasa dilakukan di beberapa tempat termasuk di Larantuka. Dalam rangkaian Upacara Semana Santa (upacara penghormatan kepada Bunda Maria dan Tuhan Yesus dalam tradisi Umat Katolik Larantuka) yang diinkulturasi dengan tradisi Gereja Katolik, Aktus Jalan Salib Hidup selalu dipentaskan. ?Pada tanggal 19 April nanti, naskah ini juga kami pentaskan lagi di Larantuka,? jelas Bedi pemeran Yesus sehari setelah pementasan di Ruteng. Bedi sendiri mengaku harus segera memulihkan kondisi fisiknya yang mengalami memar dan luka dalam pentasan kali ini agar bisa tampil maksimal di Larantuka nanti.

Kunjungan OMK Larantuka ke Ruteng tahun ini adalah yang pertama kali dilakukan dengan misi menjalin keakraban dengan OMK Lumen Gratiae Katedral Ruteng. Selain pentas Aktus Jalan Salib Hidup, kedua OMK juga terlibat dalam kegiatan Perayaan Misa dan Dialog serta malam keakraban di Paroki Katedral Ruteng pada hari Sabtu (9/4) malam. Manfaat yang ingin diraih adalah pembelajaran di antara semua anggota OMK agar menjadi bekal bagi penguatan organisasi OMK pada tahun-tahun mendatang. ?Sebagai agen perubahan untuk Gereja masa depan, kita harus belajar sesuatu dari interaksi kita selama sepekan ini,? papar Romo Ancis dalam sesi dialog.

Rangkaian kegiatan persahabatan ini ditutup dengan resepsi makan malam bersama dan ramah tamah yang diisi dengan tari-tarian persahabatan. Mereka berdansa, bergoyang, berdolo-dolo bersama lalu mendendangkan lagu Kemesraan di bagian akhir acara. Beberapa menangis haru, enggan tetapi harus berpisah. Suatu saat mereka akan sadar dan memetik sesuatu dari kegiatan ini. Sementara itu, umat Katolik di Kota Ruteng sangat menikmati persembahan hasil kolaboratif ini, dan memuji kesungguhan OMK Reinha Rosari Larantuka dalam meniru dengan sungguh penderitaan Yesus di Golgota. Kegiatan yang hebat!

Armin Bell, Ruteng Minggu, dini hari, 10 April 2011.

Sumber: Kompasiana

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password