Budaya Desa Lamawalang

Tenun Ikat (Kwatek)

Dari Kota Larantuka dengan menggunakan kendaraan bermotor menempuh waktu sekita 15 Menit. Daya tarik budaya yang dapat disaksikan di Lamawalang adalah antara lain Rumah Adat, proses penyulingan alkohol (arak) secara tradisional, proses tenun ikat, seremoni adat kurban (sacrificial ceremony), beragam tarian tradisional (hedung, smogo, soka palang, soka roja, dsb). Lamawalang merupakan sebuah desa budaya yang selalu dikunjungi wisatawan cruise ship setiap tahun.

Rumah Adat di Desa Lamawalang
Rumah Adat di Desa Lamawalang

Sebagai sebuah desa, Lamawalang terbentuk pada tanggal 21 Nopember 1951. Pada mulanya penduduk menetap di bawah kaki gunung, kemudian mereka berpindah ke lokasi sekarang di mana Desa Lamawalang berada. Namun, di kampung lama tersebut, masyarakat tetap meyakini keberadaan para leluhur dengan memancang tiang kurban (nuba) sebagai simbol interelasi yang tetap dibina dengan para leluhur.

Struktur bangunan rumah adat, terdiri dari bahan/material yang diambil dari gunung, baik atap, tiang, tali, dan sebagainya, tanpa menggunakan material pabrik. Pada bagian dalam bangunan rumah adat, terdapat bale-bale yang menjadi tempat duduk pada saat dilaksanakan rembuk adat yang melibatkan semua suku. Tepat di tengah-tengah ruangan, tergantung 2 buah gendang besar yang berfungsi sebagai alat pemanggil semua warga untuk menghadiri rembuk adat. Di sisi pojok tiang rumah adat, dipasang beberapa perlengkapan budaya seperti gendang, tempat dan peralatan makan yang terbuat dari anyaman daun lontar, senduk masak yang terbuat dari kayu.

Sedangkan tepat di tengah tiang induk utama, terdapat sebuah tiang bambu berukuran kecil yang menancap dari atas ke bawah. Tiang bambu tersebut merupakan simbol yang memaknai adanya pengakuan tentang hubungan antara Sang Pencipta (Rera Wulan) dengan kehidupan di bumi (Tanah Ekan).

Sumber : www.nntprov.go.id

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password