Tentu Tuan lebih tahu kondisi masyarakat Flores Timur. Tetapi fakta bahwa masyarakat kita masih subsiten. Mereka, walaupun diatas tanahnya ditanami tanaman perkebunan seperti Mente tetapi, hasil dari Mente tersebut untuk membeli beras. Kalaupun ada kebutuhan lain seperti membayar SPP anak, mereka pasti akan mencari pinjaman lalu dibayar saat panen tiba. Atau mereka terpaksa harus meminjam di tempat lain untuk melunasi pinjaman yang pertama. Inilah kondisi masyarakat kita.

Dengan realitas masyarakat kita yang demikian, dan ketika Tuan membiarkan Mitra Tiara terus beraktivitas maka, baik tanah, tenaga kerja (buruh tanah) maupun pasar akan dicaplok perusahaan yang datang berinvestasi misalnya dengan membuka perusahaan agrobisnis maupun agroindustri yang sudah Tuan rencanakan di dalam rencana strategis GERBANG EMAS.

Kenapa hal yang demikian bisa terjadi kedepan?

1). Dengan kondisi masyarakat yang masih subsiten maka, bunga deposito 10% yang diberikan Mitra Tiara kepada para nasabah saat ini tidak akan digunakan untuk modal usaha. Uang dari bunga 10% tersebut tidak diakumulasi kembali. Uang tersebut justru akan digunakan untuk mencukupi kebutuahan hidup sehari-hari. Jika demikian maka, tak salah jika di pelabuhan Larantuka saat ini terlihat adanya penumpukan peti kemas dan aktivitas pelebaran pelabuhan.

Dalam arti bahwa, bunga 10% yang diberikan Mitra Tiara tersebut hanya akan meningkatkan daya beli masyarakat atau lebih tepat, merangsang sifat konsumtif masyarakat. Kenapa? Jelas bahwa, tumpukan peti kemas di pelabuhan Larantuka saat ini bukan untuk mengemas kopra, mente dll. Peti kemas tersebut untuk mengemas barang kebutuhan konsumtif dari kota yang saat ini mulai terjadi over produksi (bandingkan PHK besar-besaran perusahaan retail di kota-kota besar).

Dengan demikian, semestinya kita, atau bahkan Tuan sendiri harus sadar bahwa, masyarakat kita justru sedang diarahkan untuk menyelamatkan kaum kapitalis perkotaan ketika barang dagangan mereka saat ini sudah tidak laku dijual kepada kaum buruh. Walaupun demikian, kondisi yang demikian justru akan menguntungkan kaum kapitalis kita yang selama ini hidup dengan membeli komoditas kita dengan harga murah lalu menjualnya dengan harga mahal.

2). Jika masyarakat kita masih subsisten lalu, Mitra Tiara justru memberi kemudahan bunga 10% setiap bulan maka, masyarakat akan lebih tertarik menyimpan uangnya di Mitra Tiara ketimbang ke kebun mengolah tanahnya. Mereka lebih memilih tidur di rumah sembari menunggu bunga 10% tiap bulan dari Mitra Tiara. Jika kedepannya nanti hal demikian yang akan terjadi maka, masyarakat kita kemudian akan terjebak atau lebih memilih tanahnya di sewa oleh investor/perusahaan ketimbang ia mengolahnya sendiri untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Dengan demikian, aktivitas Mitra Tiara saat ini justru hanya akan mengasingkan masyarakat kita dari tanahnya dan, kedepan, masyarakat kita kemudian secara terpaksa menjadi buruh tani diatas tanahnya sendiri. Mereka terpaksa harus menjadi buruh tani untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup sehar-hari seperti para buruh di perkotaan yang harus menjual tenaganya untuk bisa makan.

Apakah hal demikian yang kita inginkan kedepan?

Kita memiliki SDM, SDA dan juga modal yang saat ini ada di tangan masyarakat. Maka, hanya dengan menggalakan Ekonomi Gemohing, kita akan mampu bangkit dari keterpurukan setelah sekian lama hidup dalam kukungan sistem feodalisme, kolonialisme hingga NKRI ini didirikan. Dengan menggalakan Gemohing, kita tidak lagi menanam mente untuk beli beras bahkan, keberadaan Mitra Tiara akan melenyap karena kehilangan pasar (nasabah).

Jika Tuan tertarik dengan Konsep Ekonomi Gemohing, mari kita bicarakan.

Hidup Kaum Tani!

Oleh : Boro Beda Darius