Fidel Hardjo

Fidel Hardjo

Kehadiran media sosial dunia maya akhir-akhir ini sangat fantastik. Bukan hanya ragam dunia maya itu fantastik tetapi korbannya juga sangat fantastik. Aneka penipuan marak terjadi. Korban penipuan berjatuhan. Apa Anda korban berikutnya?

Sudah tiga orang temanku harus gigit jari. Gara-gara penipuan yang terjadi di dunia maya. Pertama, seorang temanku di Jakarta pernah berkenalan dengan seseorang lewat Facebook. Lalu, pertemanan makin intens. Terjadilah tukar-menukar informasi.

Setelah lama saling bertukar informasi, jadilah sahabat. Pas ultah temanku, penipu ini mulai menjanjikan hadiah. Hadiahnya tidak main-main. Temanku dijanjikan ribuan dolar US. Kiriman uang banyak itu dari Amerika. Selang beberapa hari, penipu ini mengabarkan uangnya sudah terkirim. Tapi, tiba-tiba ia dapat telepon dari Malaysia.

Seorang yang mengaku Staf Bea dan Cukai Malaysia mengatakan kirimannya itu ditahan. Dengan alasan, kiriman itu dicurigai. Penipu ini pun mulai merekayasa foto kiriman itu ada di Bandara Malaysia. Tanda bahwa memang betul, ada kiriman itu. Karena itu, penipu ini meminta temanku membayar uang tebusan ke staf Malaysia.

Tebusan pertama, sebesar 20 juta rupiah. Ternyata, tebusan itu dinilai terlalu kecil. Karena itu diminta tambah 30 juta rupiah. Temanku pun langsung ke Western Union untuk transfer duit itu. Penipu itu pun mengabarkan bahwa kirimannya siap dikirim. Sore harinya, temanku sengaja SMS saku. “Mas, aku dapat hadiah lho dari teman.”

Sebagai teman, aku membalas SMS-nya. “ Bagi-bagi dunk rezekinya!” Karena tidak puas SMS-san akhirnya temanku datang menyambarku di rumah. Aku mulai bertanya. “Hadiahmu itu dari mana sih?” tanyaku. “Dari temanku di Amrik”, jelasnya. Aku mulai curiga. Ini pasti penipuan. Aku kejar temanku dengan pertanyaan gelitik.

“Kamu kenal dari mana temanmu itu?”, tanyaku. “Lewat facebook, sudah tiga tahun lho.” jawabnya. Kini giliranku menantang dia. “Kamu kena tipu Kawan!”, tegasku! Muka temanku langsung merah. “Yang benar saja!” protesnya. “Benarlah!”, jawabku pintas. Lalu, kubawa dia dekat labtopku. Di google kuketik “penipuan international”.

Maka, munculah deretan pengalaman penipuan persis serupa dengan pengalamannya. Setelah dia membaca informasi di google, temanku ini langsung menelepon temannya, baik yang ada di Amerika maupun staf di Bea dan Cukai di Malaysia. Apa yang terjadi? Sial. Handphone kedua penipu ini sedang tak diaktifkan.

Bagaikan disambar petir, setelah kejadian itu terjadi. Duit 50 juta rupiah hilang sekejap. Mau lapor ke polisi, juga tidak jelas. Karena, alamat penipu ini hanya bermodal Facebook. Setelah dikontak lagi di facebook, akun facebook penipu ini sudah di-deactive (tidak aktif lagi). Pusingnya minta ampun. Temanku ini stres berat.

Ini temanku pertama. Temanku kedua lain lagi dari Bandung. Penipuan itu terjadi lewat SMS. Dalam SMS penipu dikatakan, “ Uang sudah transfer ke rekening Bapak untuk DP beli rumah!” Karena iseng temanku jawab, “Yang benar!”, tanyanya. “Benar Pak! Jika tak percaya, Bapak langsung ke ATM, cek langsung”, tegasnya.

Temanku langsung ke ATM. Cek apakah benar ada duit. Penipu ini menelepon lagi. Dia berakting seakan-akan takut duitnya tidak kesampaian di rekening temanku. Temanku cek sekali lagi. Duitnya belum juga ditransfer. Supaya meyakinkan temanku, penipu ini menelepon staf bank. Terjadilah percakapan segitiga saat itu.

Staf bank palsu ini mulai mengarahkan temanku. Mulai dari menyebut rekening dan mengarahkan temanku untuk menekan pin ATM-nya. Tanpa sadar, PIN temanku dirampok oleh penipu. Setelah beberapa menit, temanku mengecek saldo di ATM-nya tinggal 100 ribu. Padahal, sebelumnya temanku punya tabungan 20 juta rupiah.

Setelah kejadian ini, reaksi pasti jelas. Stres berat dan pusing. Tapi apa daya, uang sudah lenyap. Kedua temanku ini dua-duanya terjebak oleh penipuan. Pertama, ada dua jenis penipuan dunia maya. Penipuan international (international cheater) dan penipuan lokal (local cheater). Modus operandi mereka sangat sistematis dan cepat.

Temanku yang pertama adalah korban penipuan international. Sedangkan temanku yang kedua adalah korban penipuan lokal. Tapi kedua-duanya berawal dari media sosial, lebih tepat di sebut dunia maya. Dunia maya itu berupa jaringan facebook, e-mail yahoo plus messenger, dan SMS-san di handphone. Inilah awal kisah tragis itu.

Kedua, setelah berkenalan dengan para penipu ini (international dan lokal) korban sepertinya terhipnotis. Apapun yang diarah dan dinstruksi oleh para penipu ini, si korban ikut-ikut saja. Secara akal sehat, ini sulit dipercaya. Tetapi ini fakta yang terjadi. Kedua temanku ini baru sadar penuh setelah duitnya lenyap dari kantongnya.

Berangkat dari dua peristiwa di atas, saya berkeyakinan masih ada korban yang sedang “dicari-cari” oleh para penipu ini. Setidaknya menjadi korban garapan mereka berikutnya. Karena itu, saya merasa tidak tenang kalau tidak membagikan pengalaman tragis kedua temanku di atas kepada teman-teman pecinta dunia maya.

Pertama, jangan sekali-kali percaya janjian berupa menang lotre, undian, atau pemberian hadiah atau uang tanpa jelas juntrungannya di akun facebook, e-mail, messengger, SMS, dan twitter. Para penipu ini sedang bergerilya mencari mangsa mereka lewat media sosial atau dunia maya. Belajarlah untuk tidak respon mereka!

Kedua, aksesibel media sosial sebagai satu paket perangkat media sosial online yang ada di handphone seperti facebook, yahoo e-mail, messengger, dan twitter harus hati-hati. Siapa teman siapa. Apa janji apa. Semuanya jangan cepat-cepat percaya. Sekalipun teman akrab. Sebab akun teman saja bisa di-hack oleh hackers.

Ketiga, mangsa yang sering dicari-cari oleh penipu dunia maya adalah orangtua (ibu-ibu atau bapa-bapa). Alasannya karena orangtua bisa menghasilkan duit. Jadi, alasan finansial ada. Itu tidak berarti anak-anak bebas dari penipuan. Ada juga penculikan dan pemerkosaan anak yang sering terjadi berawal dari dunia maya ini.

Keempat kecenderungan orangtua menghadiahkan handphone atau mengikuti rengekkan anak minta hanphone dan blackberry atau internet juga perlu diawasi agar tidak terjadi penyalagunaan yang berujung pada kisah tragis. Tidak ada guna menyesal setelah petaka terjadi. Meski, ada kata-kata hiburan, “ini buang sial saja.”

Oleh karena itu, saya merasa penting membagikan tulisan ini. Karena saya tidak mau ada teman-temanku di mana saja berada menjadi korban penipuan dunia maya. Padahal, kita biasa saling menyapa baik lewat facebook, twitter, e-mail, mesengger, dan SMS. Para penipu dunia maya selalu hadir dengan sejuta cara dan strategi meyakinkan Anda sebagai korban berikutnya. Jawaban, ada di tangan Anda!

Oleh: Fidel Hardjo

Sumber: www.floresbangkit.com