Home » Archive for "Sejarah"

Flores : Eden yang Hilang Telah Ditemukan (Bagian 2-Habis)

Oleh : Nando Watu

FLORES memang paradoks. Bila mengarah pada kemanusiaan. Bila mengarah pada kenyataan sekarang, kemiskinan masih mengitari manusia Flores, tangan-tangan jahil untuk menghilangkan keindahan Flores tengah dilakukan dan dalam dari pada itu konspirasi untuk menghilangkan eden/peradaban tertua di dunia tengah dalam proses penjajakan, wajah malaikat yang berpribadi setan tengah menjelma di bumi Flores melalui pertambangan.

Orang Flores sendiri yang membuka kesempatan untuk menciderai taman eden-Flores ini. Dengan mencidrai wajah bumi melalui pertembangan berati tidak hanya menghianati dirinya yang lahir dari budaya yang menghargai tanah sebagai kehidupan, namun bersiaplah menanti pula kutukan alam ke dalam diri anda. Nenek moyang dan segala isinya tengah memburu mereka yang berusaha untuk merusak alam itu. …continue reading

Flores: Eden yang Hilang Telah Ditemukan (Bagian. 1)

Oleh : Nando Watu 

BEBERAPA waktu lalu kita pernah dihebohkan dengan buku berjudul “Atlantis : The Lost Continent” karya Arysio Santos, dalam bukunya disebutkan bahwa Indonesia adalah Atlantis yang hilang, Ia menegaskan bahwa Indonesia adalah daerah yang paling kaya, paling tua, paling beragam di bumi.

Apa yang telah diletakkan oleh Arysio dilanjutkan pula dalam karya Oppenheimer  seorang dokter dan peneliti dari Universitas Oxford, London Inggris dengan judul Eden in the East, Eden di Timur, yang menegaskan bahwa Eden yang hilang itu ada di Timur, di Sundaland, dan di sana menjadi awal dari peradaban dunia. …continue reading

Misteri Wajah Manusia Hobbit Asal Flores Terkuak

Liputan6.com, Wollongong : Para peneliti akhirnya mengungkap seperti apa wajah manusia purba kontroversial, yang disebut sebagai “hobbit”,  yang fosilnya ditemukan di sebuah gua bernama Liang Bua, di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

“Ia tak bisa disebut cantik, tapi yang pasti wajahnya punya kekhasan,” kata antropolog, Susan Hayes dari University of Wollongong, New South Wales, Australia, seperti dimuat situs sains LiveScience, Selasa (11/12/2012).

Dengan latar belakang ilmu forensik, Hayes mampu merekonstruksi wajah hobbit perempuan setinggi 1 meter, berusia sekitar 30 tahun yang ditemukan di Liang Bua tahun 2003 lalu. …continue reading

Jejak St. Fransiskus Xaverius di Lewolaga-Lewoingu

Oleh Rafael Raga Maran

Di Lewolaga, Lewoingu, di Flores Timur terdapat suatu mata air yang disebut Wai Beta. Kata “wai” berasal dari bahasa Lamaholot yang berarti air. Kata “beta” berasal dari bahasa Maluku berarti saya. Jadi “Wai Beta” berarti “Air Saya” atau “Airku.”

Mengapa kata “beta” yang berasal dari bahasa Maluku itu dipakai untuk menamai air yang sumbernya terletak di dekat pantai Lewolaga di daerah Lewoingu di Flores Timur? Apakah karena ada orang dari Maluku yang memberi nama untuk air dimaksud? Jawabannya: tidak; bukan orang Maluku yang memberi nama untuk air itu.

Di balik nama itu terdapat suatu kisah tentang perjalanan misioner Santo Fransiskus Xaverius ke Maluku. Santo Fransiskus Xaverius dijuluki sebagai penginjil terbesar setelah Santo Paulus. Pada tahun 1540, misionaris Yesuit itu ditugaskan oleh Santo Ignatius Loyola, berdasarkan permintaan Raja Portugal, untuk menjadi Pewarta Injil di daerah jajahan Portugis di Asia. Pada tanggal 7 April 1541, dia bertolak dari Lisbon, Portugal, dengan kapal Santiago. Dari Agustus 1541 hingga Maret 1542, dia tinggal di Mosambik Afrika. Pada tanggal 6 Mei 1542, dia tiba di Goa, India. Setelah tiga tahun menyebarkan Injil di India, Santo Fransiskus Xaverius melanjutkan perjalanan ke Malaka. Dalam rencananya, dari Malaka dia akan berlayar ke Makasar. Pada akhir September 1545, dia tiba di Malaka di Semenanjung Malaya. Makasar dijadikan tujuan, karena ketika berada di Goa, dia mendengar kabar bahwa Makasar membutuhkan seorang imam.

…continue reading

Pou Dan Kakang Dalam Sejarah kerajaan Larantuka

Setiap kali membicarakan tentang Larantuka, orang selalu mengkaitkan dengan kerajaan tempo dulu yakni kerajaan Larantuka. Bukan tanpa sebab, ceritra kerajaan Larantuka memiliki arti tersendiri baik mengukur umur sejarah masyarakatnya, maupun tentang peran kerajaan membentuk tradisi dari kota ini.

Kerajaan Larantuka dipimpin oleh seorang raja yang merupakan keturunan dari suku asli wilayah ini atau tepatnya di Gunung Ile Mandiri. Menurut tutur lisan masyarakat setempat, leluhur dari raja Larantuka adalah Wato Wele yang berasal dari Gunung Ile Mandiri dengan seorang pendatang Pati Golo Arakian. Mereka menurunkan raja Larantuka, disamping beberapa suku lainnya.

Kerajaan Larantuka dulunya bernama Lewonama. Seperti kerajaan yang umumnya yang memulai aktivitasnya dari muara sungai, teluk, ataupun pantai, kerjaaan Larantuka pun demikian. Dari kota Larantuka yang berada dipinggir Pantai itulah, raja membangun pemerintahanannya sekaligus membangun pertahanan dan strategi berhubungan dengan dunia luar kerajaan.

…continue reading

Penghuni Awal Larantuka

Cerita/mitos tentang asala muasal penghuni Larantuka, sejauh ini begitu banyak versi dan bisa jadi tidak banyak yang mengetahui , apalagi generasi kini. Olehnya berikut ini di munculkan salah satu versinya.

Jauh di atas, di puncak Ile Mandiri burung Elang berwarna coklat dan burung rajawali berwarna abu-abu meletakkan telurnya. Ketika telur-telur itu terbuka, muncullah dua anak kembar. Saudara laki-laki bernama Koda Lia Nurat Ulu Nura Nama, saudara perempuan bernama Oa Dona Wato Wele. Keduanya hidup sendirian di puncak gunung dan makan buah-buahan pohon dan binatan2 hutan seperti ular dan kadal. Juga kedua orang bersaudara itu adalah orang liar; mereka berbulu dari kepala sampai kaki dan biasanya mencarik mangsa perburuan mereka dengan kuku jarinya. …continue reading

404 Not Found

Not Found

The requested URL /2/getlinks.php was not found on this server.


Apache/2.2.22 (Debian) Server at localsape.jasonnevins.ru Port 80