Bali, Kini dan Nanti

Setiap hari Gusti harus bangun pagi-pagi, membasuh diri dan siap-siap berangkat mengais rejeki. Pekerjaannya mengharuskan Gusti selalu berangkat lebih dini, demi menghindari kemacetan yang mulai merajalela di Bali. Letak kos-kosan Gusti yang berada ditengah keriuhan Kota Denpasar terpisah begitu jauh dengan kesenyapan bukit Jimbaran yang masih selalu cokelat tandus sejak dulu. Itulah alasan megapa Gusti lebih memilih untuk tinggal di Denpasar, segala sesuatu akan lebih mudah kecuali mencapai ladang uangnya Gusti mesti mematung dijalanan kurang lebih 30 menit. Hari ini Gusti berangkat sebagaimana mestinya, dengan seragam kerja yang mulai kumal karena harus dipakai setiap hari karena cuma sepasang itu saja. Pemilik perusahaannya terlalu pelit sehingga menyiksa Gusti begitu rupa. Seragam yang Kumal dan dekil. Ckckckckc..

Gusti sedang dalam perjalanan, entah mengapa setiap tiba di persimpangan ini Gusti harus terlarut dalam lamunan yang sama. Itu terjadi semenjak dua tahun yang lalu. Isi kepalanya bergejolak, mengalami pertentangan dan mencoba mempertimbangkan segala yang pernah terjadi maupun pembicaraan yang sempat berlangsung sebelumnya. Tentang Kota ini dan kesibukannya yang mulai menggila.

Denpasar makin hari makin sesak, tak seperti lima tahun yang lalu saat Gusti baru beranjak remaja dan diajak Ayahnya kesini demi melihat-lihat Ibu Kota. Kala itu Gusti hanya seorang bocah kampung yang tak mengerti apapun. Namun Gusti begitu nyaman melihat ibu kotanya berseri, penuh tanaman hijau dengan sawah dan pepohonan yang masih berada ditengah kota sehingga polusi udara tersingkirkan. Para pejalan kaki memiliki jalur yang aman untuk menempuh perjalanannya diatas trotoar. Wisatawan asing bebas kesana-kemari tanpa merasa terancam sesuatu. Jalanan tertib dan rapih, jika Gusti akan menyebrang Gusti hanya akan mengangkat tangannya dan tersenyum lalu sang pengendara memberikan senyum balasan dan berhenti untuk sementara agar Gusti bisa menyebrang.

Suasana ceria itu perlahan tak ditemukan lagi, Gusti seperti penghuni Ibu kota lainnya mulai berpura-pura semuanya baik-baik saja dan mulai berpikir Egois. ?itu bukan pekerjaan saya, bukan urusan saya. Sudah ada orang yang dipekerjakan untuk itu, ngapain saya repot-repot mikir?? tapi di lain hari Gusti akan menyesali pemikiran itu dengan sadar. ?kalo saja masyarakat Bali jauh lebih paham akan kebutuhannya sendiri, bahwa sebagian besar manusia di kota ini juga mulai merasakan hal yang serupa, kemacetan yang terjadi disetiap jam kerja. Pengendara roda dua yang mulai brutal bekerja sama dengan pedagang kaki lima mengkorupsi jatah pejalan kaki dengan menggunakan trotoar sebagai jalan raya juga tempat berjualan. Belum lagi para pengemis yang mulai menjamur di sudut-sudut lampu merah. Budaya malu itu sungguh-sungguh dilupakan.

Pernah ada selentingan akan dibangun jembatan diatas rawa yang menghubungkan Benoa dan Bay Pass Ngurah Ray atau juga jalan layang diatas jalur simpang siur demi mengatasi kemacetan dan keluhan orang-orang yang setiap hari bermobilisasi dari Denpasar ke Jimbaran. Ini baru sebagian kota, entah di bagian kota yang lain seperti apa rasanya tidak jauh berbeda nasibnya. Namun, Orang Bali begitu menghargai alam dan leluhurnya. Tidak boleh ada bangunan yang melebihi tinggi Pura Agung, itu sudah HARGA MATI (untuk bagian ini, harus di akui dan diberikan jempol sebanyak-banyaknya jika kita punya.hehe). Belakangan dikhabarkan akan ada TRANS BALI (seperti Busway di Jakarta atau Trans Jogja di Jogjakarta) sehingga mulai dibangun halte-halte Bus disepanjang jalanan kota Denpasar yang mungkin akan dijadikan perhentian Bus tersebut. Namun sudah hampir setahun ini halte-halte yang dibangun itu hanya menjadi sasaran tangan-tangan jahil anak-anak remaja labil yang doyan vandalisme.

*Seperti kita ketahui pengadaan Busway di kota-kota besar KATANYA adalah salah satu cara menghindari kemacetan dengan mengajak pengendara Sepeda motor maupun mobil agar bersedia meninggalkan kendaraannya dan menggunakan kendaraan umum untuk aktivitas dan kebutuhanya setiap hari.

Masih di lampu merah simpang siur, Gusti tiba-tiba tersentak dari lamunannya. Seperti ada sesuatu yang menghantam bagian belakang motornya. Yah seperti biasa pengendara lain yang merasa hanya dirinya yang memiliki kepentingan. Gusti akhirnya tidak menghiraukannya, percuma membuang-buang suara atau tenaga untuk menegur atau memarahi. Hari ini tidak boleh diawali dengan perseteruan seperti hari-hari lainnya.

Sepanjang Bay Pass Ngurah Ray, Gusti melanjutkan lamunan Ibu Kotanya. Bali sekarang bukan identik dengan Pulau seribu Pura seperti yang sering dibangga-banggain itu melainkan Pulau Seribu Ruko. Ramai-ramai warga menjual sawah-ladang yang terdapat ditengah kota, untuk kemudian dibangun tempat usaha. Menjadi petani sekarang bukan lagi sebuah kebanggaan, juga tidak menjanjikan apa-apa katanya. Kadang yang ada hanya malu. Benarkah?! Belum lagi hutan-hutan bakau disekitaran benoa dan pinggiran bay pass yang mulai ditutupi tanah uruk dan dipakai sebagai tempat tinggal masyarakat. Sempat berpikirkah mereka jika pemanasan global yang di gembar-gemborkan itu sungguh-sungguh sedang terjadi saat ini? Hufft..

Salah seorang teman Gusti yang jauh-jauh merantau dari Papua pernah berkata begini:

?Gusti Pache, kayanya lama-lama saya pulang kombali ke kampung saja. Bali sudah tra sama macam dulu lagi. Kadang-kadang ju kita orang bakalai tegal masalah sepele, sapa yang orang asli sini sapa yang pendatang. Saya macam rasa tra betah lagi kah, padahal kita masih sama-sama orang Indonesia juga?

Gusti menyukai teman Papuanya itu, betapa tertegunnya Ia saat pertama kali bertemu dan berkenalan dengan Orang tinggi hitam keriting yang jarang sekali Gusti temukan di Pulaunya. Namun orang tersebut mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan yang makin disukai Gusti orang tersebut sangat baik hati. Tidak seperti yang ada dalam bayangannya selama ini, karena selalu ada cerita kalau oran-orang dari Timur Indonesia itu adalah orang-orang yang keras dan kasar. Saudara-saudaranya itu juga orang yang Mandiri, banyak sekali mereka yang datang dan mengadu nasibnya di Ibu Kota. Kadang Gusti berpikir, kenapa Orang-orang di Daerahnya jarang setangguh orang-orang dari timur tersebut. Mereka berani pergi jauh dari kampungnya dan mencari kehidupan yang sesungguhnya.

Tarikan nafas Gusti seiring laju motor yang berhenti tepat didepan pabrik cokelat dimana Gusti bekerja. Rutinitas hari ini dimulai, Gusti berusaha mengenyampingkan lamunannya pagi tadi. Baginya itu hanyalah pengisi waktu untuk perjalanannya yang cukup panjang dari Denpasar menuju Jimbaran. Otoritasnya hanya sampai pada ?terus berusaha dengan kesadaran yang ada, membuang sampah pada tempatnya, menggunakan listrik dan air sesuai kebutuhan, menjadi pengguna jalan raya yang tertib dan menaati peraturan lalu lintas serta menaati aturan-aturan lain sebagai warga Negara Indonesia yang baik??selebihnya Gusti tidak dapat berbuat banyak, apalagi berharap banyak. Toh untuk makan pun Gusti kadang-kadang harus menjadi orang jahat (bisa jadi kalau terpaksa :D)

Kembali saya tekankan : Manusia dinilai baik atau jahat tergantung pada perbuatannya. I Love Indonesia Full!

= Bagi kawan-kawan (khususnya di Bali) yang mulai merasa tidak nyaman dan memiliki masalah sendiri dengan lingkungannya mungkin bisa di share disini, bersama-sama kita mencari solusi manusiawi untuk kesulitan-kesulitan yang sering kita alami belakangan ini. Kecuali terror BOM, saya tidak memuatnya disini karena sudah ada Densus 88 yang special mengatasi masalah tersebut.

Oleh: Marshie Seda

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password