Apa khabar Ibu Negara ?

Apa Khabar Ibu ?Negara?
Khabar?
Masih sanggupkah dikau menanyakan khabar padaku
sementara aku terus berduka di pucuk malam kelabu
menangisi isi negara dan systemnya yang mulai kacau

Anak anak ibu terpekur beku
Hidup tanpa uang saku
Yang gratis hanya pucuk labu….
Dan aku hanya bisa menatap seakan akan sendu

Pabila anak-anak Ibu mencoba sedikit berkicau
Seumpama Tekukur di puncak Merbabu
TAk segan-segan peluru lari berpacu
Menghantam badan yang sedih berpeluh

*Maaf Bung,
Kami takkan lari tunggang langgang seperti harapanmu
Tubuh kami mungkin tak kuat menahan laju mesiu
Namun Isi jiwa dan kepala kami tahan banting tak mau tau
Hidup kami cuma untuk Nusa Bangsa Tunggal Ika Sabang hingga Merauke…

Tenanglah ibu….
Kami sudah terbiasa bermandi mesiu
Tapi jujur tubuh mulai tersengat sayu
Tersisa hanya semangat yang bertalu talu

Aku dan mereka hanya Anak anak ibu
Sering sekali merasa jenuh
Saat bercerita tentang indonesiaku
Saat bercerita tentang indonesiamu

Aku sudah capai menangis pilu
Tentang garudamu
Tentang bhineka tunggal ika-mu
Karna tawa mereka yang slalu sampai padaku

Tawa Olok yang terbungkus rapih galau
Tapi mereka galau bukan karena negeri kacau
Mereka galau karena kurang Uang saku
Mereka Galau karena rakyat makin banyak tau
Ternyata selama ini mereka cuma bermandikan kata semanis madu
Laku mereka seumpama serigala rakus berbulu

Harga diri tiada lagi berlaku
Karena nurani telah kaku

Harusnya mereka dirajam batu
Tapi orang-orang di masa ini terlalu sibuk meracau
Mempermasalahkan yang tak lagi penting dan cuma bumbu
Menyepelehkan yang penting dan sesungguhnya ditunggu

Ya Sudahlah Ibu, Jangan tangisi malam lagi
Makin keriput Ibu nanti, ayo kita bermimpi
Kata Orang Mimpi mampu memperpanjang Eksistensi
Setidaknya untuk beberapa hitungan hari-

Denpasar, 9 Maret 2011 – Happy National Music Day
(Dengan Perubahan dan tambahan seperlunya)
(Puisi Maria Pankratia dan Umbu Spiderno)

Facebook Comments

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password